<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518</id><updated>2011-09-07T04:39:23.050-07:00</updated><title type='text'>buyungmaksum</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-410213713354327070</id><published>2010-09-26T23:57:00.000-07:00</published><updated>2010-09-27T00:08:02.410-07:00</updated><title type='text'>Elemen Penulisan Feature</title><content type='html'>Secara kasar karya jurnalistik bisa dibagi menjadi tiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Stright/Spot/ Breaking News — berisi materi penting yang harus segera dilaporkan kepada publik (sering pula disebut breaking news)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* News Feature — memanfaatkan materi penting pada spot news, umumnya dengan memberikan unsur human/manusiawi di balik peristiwa yang hangat atau dengan memberikan latarbelakang (konteks dan perspektif) melalui interpretasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Feature — bertujuan untuk menghibur dan mendidik melalui explorasi elemen-elemen manusiawi (human interest).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untuk berita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidang kan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tetap mempertahankan elemen penulisan berita tradisional (5W +1H) feature juga bisa berfungsi sebagai penjelasan atau tambahan untukberita yang sudah disiarkan sebelumnya, memberi latar belakang suatu peristiwa, menyentuh perasaan dan mengharukan, menghidangkan informasi dengan menghibur, juga bisa mengungkap sesuatu yang belum tersiar sebagai berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski umumnya enak dibaca, dan karenanya menghibur, feature kadang syarat dengan kadar keilmuan — cuma pengolahannya secara populer. Juga dipakai untuk penulisan berita-berita yang dihasilkan dari pengumpulan bahan yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam persaingan media yang kian ketat tak hanya antar media cetakmelainkan juga antara media cetak dengan televisi, straight/spot news seringkali tak terlalu memuaskan. Spot news cenderung hanya berumur sehari untuk kemudian dibuang, atau bahkan beberapa jam di televisi. Spot news juga cenderung menekankan sekadar unsur elementer dalam berita, namun melupakan latar belakang peristiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memerlukan berita yang lebih dari itu untuk bisa bersaing. Kita memerlukan news feature — perkawinan antara spot news dan feature.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aapakah feature itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah batasan klasik mengenai feature: ”Cerita feature adalah artikel yang kreatif, kadang kadang subyektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan atau aspek kehidupan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreativitas&lt;br /&gt;Berbeda dari penulisan berita biasa, penulisan feature memungkinkan reporter "menciptakan sebuah cerita".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun masih diikat etika bahwa tulisan harus akurat —karangan fiktif dan khayalan tidak boleh— reporter bisa mencari feature dalam pikirannya, kemudian setelah mengadakan penelitian terhadap gagasannya itu, ia menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informatif&lt;br /&gt;Feature, yang kurang nilai beritanya, bisa memberikan informasi kepada masyarakat mengenai situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam penulisan berita biasa di koran. Misalnya tentang sebuah museum atau kebun binatang yang terancam tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek informatif mengenai penulisan feature bisa juga dalam bentuk-bentuk lain. Ada banyak feature yang enteng-enteng saja, tapi bila berada di tangan penulis yang baik, feature bisa menjadi alat yang ampuh. Feature bisa menggelitik hati sanubari manusia untuk menciptakan perubahan konstruktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghibur&lt;br /&gt;Dalam 20 tahun terakhir ini, feature menjadi alat penting bagi suratkabar untuk bersaing dengan media elektronika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reporter suratkabar mengakui bahwa mereka tidak akan bisa "mengalahkan" wartawan radio dan televisi untuk lebih dulu sampai ke masyarakat. Wartawan radio dan TV bisa mengudarakan cerita besar hanya dalam beberapa menit setelah mereka tahu. Sementara itu wartawan koran sadar, bahwa baru beberapa jam setelah kejadian, pembacanya baru bisa tahu sesuatu kejadian — setelah koran diantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan harian, apalagi majalah, bisa mengalahkan saingannya, radio dan TV, dengan cerita eksklusif. Tapi ia juga bisa membuat versi yang lebih mendalam (in depth) mengenai cerita yang didengar pembacanya dari radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan patokan seperti ini dalam benaknya, reporter selalu mencari feature, terhadap berita-berita yang paling hangat. Cerita feature biasanya eksklusif, sehingga tidak ada kemungkinan dikalahkan oleh radio dan TV atau koran lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature memberikan variasi terhadap berita-berita rutin seperti pembunuhan, skandal, bencana dan pertentangan yang selalu menghiasi kolom-kolom berita, feature bisa membuat pembaca tertawa tertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang reporter bisa menulis "cerita berwarna-warni" untuk menangkap perasaan dan suasana dari sebuah peristiwa. Dalam setiap kasus, sasaran utama adalah bagaimana menghibur pembaca dan memberikan kepadanya hal-hal yang baru dan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awet&lt;br /&gt;Menurut seorang wartawan kawakan, koran kemarin hanya baik untuk bungkus kacang. Unsur berita yang semuanya penting luluh dalam waktu 24 jam. Berita mudah sekali "punah", tapi feature bisa disimpan berhari, berminggu, atau berulan bulan. Koran-koran kecil sering membuat simpanan ”naskah berlebih” – kebanyakan feature. Feature ini diset dan disimpan di ruang tata muka, karena editor tahu bahwa nilai cerita itu tidak akan musnah dimakan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kacamata reporter, feature seperti itu mempunyai keuntungan lain. Tekanan deadline jarang, sehingga ia bisa punya waktu cukup untuk mengadakan riset secara cermat dan menulisnya kembali sampai mempunyai mutu yang tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah feature yang mendalam memerlukan waktu cukup. Profil seorang kepala polisi mungkin baru bisa diperoleh setelah wawancara dengan kawan-kawan sekerjanya, keluarga, musuh-musuhnya dan kepala polisi itu sendiri. Diperlukan waktu juga untuk mengamati tabiat, reaksi terhadap keadaan tertentu perwira itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subjektivitas&lt;br /&gt;Beberapa feature ditulis dalam bentuk "aku", sehingga memungkinkan reporter memasukkan emosi dan pikirannya sendiri. Meskipun banyak reporter, yang dididik dalam reporting obyektif, hanya memakai teknik ini bila tidak ada pilihan lain, hasilnya bisa enak dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, reporter-reporter muda harus awas terhadap cara seperti itu. Kesalahan umum pada reporter baru adalah kecenderungan untuk menonjolkan diri sendiri lewat penulisan dengan gaya "aku". Kebanyakan wartawan kawakan memakai pedoman begini: "Kalau Anda bukan tokoh utama, jangan sebut-sebut Anda dalam tulisan Anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, berbeda dengan berita, tulisan feature memberikan penekanan yang lebih besar pada fakta-fakta yang penting – fakta-fakta yang mungkin merangsang emosi (menghibur, memunculkan empati, di samping tetap tidak meninggalkan unsur informatifnya). Karena penakanan itu, tulisan feature sering disebut kisah human interest atau kisah yang berwarna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari gagasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide feature itu bisa diperoleh dari berbagai hal. Bisa dari kelanjutan berita-berita aktual, bisa mendompleng hari-hari tertentu, atau profil tokoh yang sedang ramai dibicarakan. Yang penting ada newspeg (cantelan berita), karena feature bukan fiksi. Ia fakta yang ditulis dengan gaya mirip fiksi. Kita bisa menggali ide dengan menengok beberapa jenis feature di bawah ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk-bentuk feature&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Feature kepribadian (profil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profil mengungkap manusia yang menarik. Misalnya, tentang seseorang yang secara dramatik, melalui berbagai liku-liku, kemudian mencapai karir yang istimewa dan sukses atau menjadi terkenal karena kepribadian mereka yang penuh warna. Agar efektif, profil seperti ini harus lebih dari sekadar daftar pencapaian dan tanggal tanggal penting dari kehidupan si individu. Profil harus bisa mengungkap karakter manusia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan, penulis feature tentang pribadi seperti ini seringkali harus mengamati subyek mereka ketika bekerja; mengunjungi rumah mereka dan mewawancara teman-teman, kerabat dan kawan bisnis mereka. Profil yang komplit sebaiknya disertai kutipan-kutipan si subyek yang bisa menggambarkan dengan pas karakternya. Profil yang baik juga semestinya bisa memberikan kesan kepada pembacanya bahwa mereka telah bertemu dan berbicara dengan sang tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sumber yang diwawancara mungkin secara terbuka berani mengejutkan Anda dengan mengungkap rahasia pribadi atau anekdot tentang si subyek. Tapi, banyak sumber lebih suka meminta agar identitasnya dirahasiakan. Informasi sumber-sumber itu penting untuk memberikan balans dalam penggambaran si tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Feature sejarah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature sejarah memperingati tanggal-tanggal dari peristiwa penting, seperti proklamasi kemerdekaan, pemboman Hiroshima atau pembunuhan jenderal-jenderal revolusi. Koran juga sering menerbitkan feature peringatan 100 tahun lahir atau meninggalnya seorang tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah feature sejarah juga bisa terikat pada peristiwa-peristiawa mutakhir yang memangkitkan minat dalam topik mereka. Jika musibah gunung api terjadi, Koran sering memuat peristiwa serupa di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature sejarah juga sering melukiskan landmark (monumen/gedung) terkenal, pionir, filosof, fasilitas hiburan dan medis, perubahan dalam komposisi rasial, pola perumahan, makanan, industri, agama dan kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kota atau sekolah memiliki peristiwa menarik dalam sejarahnya. Seorang penulis feature yang bagus akan mengkaji lebih tentang peristiwa-peristiwa itu, mungkin dengan dokumen historis atau dengan mewawancara orang-orang yang terlibat dalam peristiwa-peristiwa bersejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Feature petualangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature petualangan melukiskan pengalaman-pengalaman istimewa dan mencengangkan — mungkin pengalaman seseorang yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat terbang, mendaki gunung, berlayar keliling dunia pengalaman ikut dalam peperangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam feature jenis ini, kutipan dan deskripsi sangat penting. Setelah bencana, misalnya, penulis feature sering menggunakan saksi hidup untuk merekontruksikan peristiwa itu sendiri. Banyak penulis feature jenis ini memulai tulisannya dengan aksi — momen yang paling menarik dan paling dramatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Feature musiman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reporter seringkali ditugasi untuk menulis feature tentang musim dan liburan, tentang Hari Raya, Natal, dan musim kemarau. Kisah seperti itu sangat sulit ditulis, karena agar tetap menarik, reporter harus menemukan angle atau sudut pandang yang segar. Contoh yang bisa dipakai adalah bagaimana seorang penulis menyamar menjadi Sinterklas di Hari Natal untuk merekam respon atau tingkah laku anak-anak di seputar hari raya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Feature interpretatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature dari jenis ini mencoba memberikan deskripsi dan penjelasan lebih detil terhadap topik-topik yang telah diberitakan. Feature interpretatif bisa menyajikan sebuah organisasi, aktifitas, trend atau gagasan tertentu. Misalnya, setelah kisah berita menggambarkan aksi terorisme, feature interpretatif mungkin mengkaji identitas, taktik dan tujuan terotisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita memberikan gagasan bagi ribuan feature semacam ini. Setelah perampokan bank, feature interpretatif bisa saja menyajikan tentang latihan yang diberikan bank kepada pegawai untuk menangkal perampokan. Atau yang mengungkap lebih jauh tipikal perampok bank, termasuk peluang perampok bisa ditangkap dan dihukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Feature kiat (how-to-do-it feature)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature ini berkisah kepada pembacanya bagaimana melakukan sesuatu hal: bagaimana membeli rumah, menemukan pekerjaan, bertanam di kebun, mereparasi mobil atau mempererat tali perkawinan. Kisah seperti ini seringkali lebih pendek ketimbang jenis feature lain dan lebih sulit dalam penulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reporter yang belum berpengalaman akan cenderung menceramahi atau mendikte pembaca — memberikan opini mereka sendiri — bukannya mewawancara sumber ahli dan memberikan advis detil dan faktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam penulisan berita yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta, maka dalam penulisan feature kita dapat memakai teknik ”mengisahkan sebuah cerita”. Memang itulah kunci perbedaan antara berita ”keras” (spot news) dan feature. Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis melukis gambar dengan kata-kata: ia menghidupkan imajinasi pembaca; ia menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis feature untuk sebagian besar tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep "piramida terbalik" sering ditinggalkan. Terutama bila urutan peristiwa sudah dengan sendirinya membentuk cerita yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen Feature Terpenting: Deskripsi dan Narasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukiskan, bukan katakan...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda membaca sebuah tulisan dan sampai bertahun kemudian mengingat deskripsi dalam tulisan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita umumnya terkesan pada sebuah tulisan yang mampu melukis secara kuat gambaran di dalam otak kita. Deskripsi yang kuat adalah alat yang digdaya bagi para penulis, apapun yang kita tulis: esai, artikel, feature, berita, cerpen, novel atau puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara belajar membuat deskripsi yang kuat dan hidup?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara terbaik untuk melakukannya adalah menerapkan konsep “Show-Not-Tell” atau “Lukiskan, bukan Katakan”. Ubahlah pernyataan yang kering dan kabur menjadi paragraf berisi ilustrasi memukau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan kalimat ini: “Nasib nenek itu sangat malang”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat “mengatakan/telling” itu bisa diubah menjadi paragraf “melukiskan/showing” seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umurnya 60 tahun. Dia hidup sebatang kara. Para tetangganya, orang-orang papa yang tinggal di gubuk kardus perkampungan liar-kumuh Kota Bandung, mengenalnya dengan nama sederhana: “Emak”. &lt;br /&gt;Tidak ada yang tahu nama aslinya. Awal pekan ini, Emak ditemukan meninggal, tiga hari setelah para tetangganya melihatnya hidup terakhir kali. “&lt;br /&gt;Sejak Jumat pekan lalu, Emak tidak pernah kelihatan,” kata seorang&lt;br /&gt;tetangganya. “Saat gubuknya dilongok, Emak sudah terbujur kaku di dalam.”&lt;br /&gt;Jika kita menggunakan konsep “Show Not Tell”, paragraf-paragraf akan terbentuk secara alami, kuat, hidup dan mudah dikenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hindari kata keterangan atau kata sifat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feature yang bagus memaparkan soal yang kongkret dan spesifik. Salah satu caranya adalah dengan menghindari kata-kata sifat seperti tinggi, kaya, cantik, dan kata tak tidak spesifik, cukup besar, lumayan heboh, keren abis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kata sifat adalah musuh bebuyutan kata benda,” kata pujangga Prancis Voltaire.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konser Peterpan itu heboh banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konser Peterpan di Gelanggang Senayan dihadiri oleh 50.000 penonton. Tiket seharga Rp 200 sudah habis ludes sebulan sebelum pertunjukan. Penonton yang rata-rata siswa SMP dan SMA berdesak-desakan. Duapuluh orang pingsan, ketika para penonton berjingkrak mengikuti lagu “Ada Apa Denganmu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ahmad seorang petani miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad tinggal bersama seorang istri dan anaknya di gubuk beratap rumbia. Tiap hari mereka hanya bisa makan sekali, itupun nasi jagung tanpa lauk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mak Eroh marah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pemerintah zalim!” kata Mak Eroh, istri seorang nelayan yang suaminya tak bisa ke laut karena kanaikan harga solar.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur penulisan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Lead&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita tinggalkan difinisi apa itu feature dan kita langsung ke teknik penulisannya. Ini yang lebih penting. Kita tahu bahwa berita umumnya ditulis dengan teknik piramida terbalik dan harus memenuhi unsur 5 W + 1 H (what, who, why, when, where: apa, siapa, mengapa, kapan, di mana, bagaimana).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk penerbitan berupa koran, susunan piramida terbalik ini penting karena jika terjadi pemotongan karena tak ada tempat, pemotongan langsung dilakukan dari bagian belakang. Ini berarti lead berita itu pastilah yang terpenting dari isi berita itu sendiri. Ini harus memikat, tanpa itu berita tak menarik perhatian. Feature hampir sama dalam masalah lead, artinya harus memikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi feature tidak tunduk pada ketentuan piramida terbalik. Feature ditulis dengan teknik lead, tubuh dan ending (penutup). Penutup sebuah feature hampir sama pentingnya dengan lead. Mungkin di sana ada kesimpulan atau ada celetukan yang menggoda, atau ada sindiran dan sebagainya. Karena itu kalau memotong tulisan feature, tak bisa main gampang mengambil paling akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bagian dalam fetaure itu penting. Namun yang terpenting memang lead, karena di sanalah pembuka jalan. Gagal dalam menuliskan lead pembaca bisa tidak meneruskan membaca. Gagal berarti kehilangan daya pikat. Di sini penulis feature harus pandai betul menggunakan kalimatnya. Bahasa harus rapi dan terjaga bagus dan cara memancing itu haruslah jitu.Tak ada teori yang baku bagaimana menulis lead sebuah feature. Semuanya berdasarkan pengalaman dan juga perkembangan. Namun, sebagai garis besar beberapa contoh lead saya sebutkan di sini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Ringkasan:&lt;br /&gt;Lead ini hampir sama saja dengan berita biasa, yang ditulis adalah inti ceritanya. Banyak penulis feature menulis lead gaya ini karena gampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal:&lt;br /&gt;Walaupun dengan tangan buntung, Pak Saleh sama sekali tak merasa rendah diri bekerja sebagai tukang parkir di depan kampus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca sudah bisa menebak, yang mau ditulis adalah tukang parkir bernama Pak Saleh yang cacat. Yang berminat bisa meneruskan membaca, yang tak berminat — apalagi sebelumnya tak ada berita tentang Pak Saleh itu — bisa melewatkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Bercerita:&lt;br /&gt;Lead ini menciptakan suatu suasana dan membenamkan pembaca seperti ikut jadi tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal:&lt;br /&gt;Anggota Reserse itu melihat dengan tajam ke arah senjata lelaki di depannya. Secepat kilat ia meloncat ke samping dan mendepak senjata lawannya sambil menembakkan pistolnya. Dor… Preman itu tergeletak sementara banyak orang tercengang ketakutan menyaksi kan adegan yang sekejap itu …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca masih bertanya apa yang terjadi. Padahal feature itu bercerita tentang operasi pembersihan preman-preman yang selama ini mengacau lingkungan pemukiman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Deskriptif:&lt;br /&gt;Lead ini menceritakan gambaran dalam pembaca tentang suatu tokoh atau suatu kejadian. Biasanya disenangi oleh penulis yang hendak menulis profil seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal:&lt;br /&gt;Keringat mengucur di muka lelaki tua yang tangannya buntung itu, sementara pemilik kendaraan merelakan uang kembalinya yang hanya dua ratus rupiah. Namun lelaki itu tetap saja merogoh saku dengan tangan kirinya yang normal, mengambil dua koin ratusan. Pak Saleh, tukang parkir yang bertangan sebelah itu, tak ingin dikasihani …..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca mudah terhanyut oleh lead begini, apalagi penulisnya ingin membuat kisah Pak Saleh yang penuh warna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Kutipan:&lt;br /&gt;Lead ini bisa menarik jika kutipannya harus memusatkan diri pada inti cerita berikutnya. Dan tidak klise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal:&lt;br /&gt;“Saya lebih baik tetap tinggal di penjara, dibandingkan bebas dengan pengampunan. Apanya yang diampuni, saya kan tak pernah bersalah,” kata Sri Bintang Pamungkas ketika akan dibebaskan dari LP Cipinang. Walau begitu, Sri Bintang toh mau juga keluar penjara dijemput anak-istri.. .. dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca kemudian digiring pada kasus pembebasan tapol sebagai tekad pemerintahan yang baru. Hati-hati dengan kutipan klise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;“Pembangunan itu perlu untuk mensejahterakan rakyat dan hasil-hasilnya sudah kita lihat bersama,” kata Menteri X di depan masa yang melimpah ruah. Pembaca sulit terpikat padahal bisa jadi yang mau ditulis adalah sebuah feature tentang keterlibatan masyarakat dalam pembangunan yang agak unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Pertanyaan:&lt;br /&gt;Lead ini menantang rasa ingin tahu pembaca, asal dipergunakan dengan tepat dan pertanyaannya wajar saja. Lead begini sebaiknya satu alinea dan satu kalimat, dan kalimat berikutnya sudah alinea baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal:&lt;br /&gt;Untuk apa mahasiswa dilatih jurnalistik? Memang ada yang sinis dengan Pekan Jurnalistik Mahasiswa yang diadakan ini. Soalnya, penerbitan pers di kampus ini tak bisa lagi mengikuti kaidah-kaidah jurnalistik karena terlalu banyaknya batasan-batasan dan larangan ….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca kemudian disuguhi feature soal bagaimana kehidupan pers kampus di sebuah perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Menuding:&lt;br /&gt;Lead ini berusaha berkomunikasi langsung dengan pembaca dan ciri-cirinya adalah ada kata “Anda” atau “Saudara”. Pembaca sengaja dibawa untuk menjadi bagian cerita, walau pembaca itu tidak terlibat pada persoalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal:&lt;br /&gt;Saudara mengira sudah menjadi orang yang baik di negeri ini. Padahal, belum tentu. Pernahkah Saudara menggunakan jembatan penyeberangan kalau melintas di jalan? Pernahkah Saudara naik ke bus kota dari pintu depan dan tertib keluar dari pintu belakang? Mungkin tak pernah sama sekali. Saudara tergolong punya disiplin yang, maaf, sangat kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca masih penasaran feature ini mau bicara apa. Ternyata yang disoroti adalah kampanye disiplin nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Penggoda:&lt;br /&gt;Lead ini hanya sekadar menggoda dengan sedikit bergurau. Tujuannya untuk menggaet pembaca agar secara tidak sadar dijebak ke baris berikutnya. Lead ini juga tidak memberi tahu, cerita apa yang disuguhkan karena masih teka-teki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal:&lt;br /&gt;Kampanye menulis surat di masa pemerintahan Presiden Soeharto ternyata berhasil baik dan membekas sampai saat ini. Bukan saja anak-anak sekolah yang gemar menulis surat, tetapi juga para pejabat tinggi di masa itu keranjingan menulis surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sampai di sini pembaca masih sulit menebak, tulisan apa ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alinea berikutnya:&lt;br /&gt;Kini, ada surat yang membekas dan menimbulkan masalah bagi rakyat kecil. Yakni, surat sakti Menteri PU kepada Gubernur DKI agar putra Soeharto, Sigit, diajak berkongsi untuk menangani PDAM DKI Jakarta. Ternyata bukannya menyetor uang tetapi mengambil uang setoran PDAM dalam jumlah milyaran…. dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca mulai menebak-nebak, ini pasti feature yang bercerita tentang kasus PDAM DKI Jaya. Tetapi, apa isi feature itu, apakah kasus kolusinya, kesulitan air atau tarifnya, masih teka-teki dan itu dijabarkan dalam alinea berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Nyentrik:&lt;br /&gt;Lead ini nyentrik, ekstrim, bisa berbentuk puisi atau sepotong kata-kata pendek. Hanya baik jika seluruh cerita bergaya lincah dan hidup cara penyajiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal:&lt;br /&gt;Reformasi total.&lt;br /&gt;Mundur.&lt;br /&gt;Sidang Istimewa.&lt;br /&gt;Tegakkan hukum.&lt;br /&gt;Hapus KKN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teriakan itu bersahut-sahutan dari sejumlah mahasiswa di halaman gedung DPR/MPR untuk menyampaikan aspirasi rakyat …. dst….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca digiring ke persoalan bagaimana tuntutan reformasi yang disampaikan mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lead Gabungan:&lt;br /&gt;Ini adalah gabungan dari beberapa jenis lead tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal:&lt;br /&gt;“Saya tak pernah mempersoalkan kedudukan. Kalau memang mau diganti, ya, diganti,” kata Menteri Sosial sambil berjalan menuju mobilnya serta memperbaiki kerudungnya. Ia tetap tersenyum cerah sambil menolak menjawab pertanyaan wartawan. Ketika hendak menutup pintu mobilnya, Menteri berkata pendek: “Bapak saya sehat kok, keluarga kami semua sehat….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini gabungan lead kutipan dan deskriptif. Dan lead apa pun bisa digabung-gabungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Batang Tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tahu bagaimana lead yang baik untuk feature, tiba saatnya berkisah menulis batang tubuh. Yang pertama diperhatikan adalah fokus cerita jangan sampai menyimpang. Buatlah kronologis, berurutan dengan kalimat sederhana dan pendek-pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi, baik untuk suasana maupun orang (profil), mutlak untuk pemanis sebuah feature. Kalau dalam berita, cukup begini: Pak Saleh mendapat penghargaan sebagai tukang parkir teladan. Paling hanya dijelaskan sedikit soal Pak Saleh. Tapi dalam feature, saudara dituntut lebih banyak. Profil lengkap Pak Saleh diperlukan, agar orang bisa membayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak bisa dijejal begini:&lt;br /&gt;Pak Saleh, tukang parkir di depan kampus itu, yang tangan kanannya buntung, umurnya 50 tahun, anaknya 9, rumahnya di Depok, dapat penghargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data harus dipecah-pecah. Alenia pertama cukup ditulis:&lt;br /&gt;Pak saleh, 50 tahun, dapat penghargaan. Lalu jelaskan dari siapa penghargaan itu dan apa sebabnya. Pak Saleh yang tangannya buntung itu merasakan cukup haru, ketika Wali Kota….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain disebut: “Saya tidak mengharapkan, ” kata lelaki dengan 9 anak yang tinggal di Depok ini. Dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anekdot perlu untuk sebuah feature. Tapi jangan mengada-ada dan dibikin-bikin. Dan kutipan ucapan juga penting, agar pembaca tidak jenuh dengan suatu reportase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detil penting tetapi harus tahu kapan terinci betul dan kapan tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Preman itu tertembak dalam jarak 5 meter lebih 35 centi 6 melimeter… , apa pentingnya itu? Sebut saja sekitar 5 meter. Tapi, gol kemenangan Persebaya dicetak pada menit ke 43, ini penting. Tak bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah setengah main. Dalam olahraga sepakbola, menit ke 43 beda jauh dengan menit ke 30. Bahkan dalam atletik, waktu 10.51 detik banyak bedanya dengan 10.24 detik.Ini sudah menyangkut bahasa jurnalistik, nanti ada pembahasan khusus soal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ending&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika batang tubuh sudah selesai, tinggallah membuat penutup. Dalam berita tidak ada penutup. Untuk feature setidak-tidaknya ada empat jenis penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup ringkasan:&lt;br /&gt;Sifatnya merangkum kembali cerita-cerita yang lepas untuk mengacu kembali ke intro awal atau lead.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup penyengat:&lt;br /&gt;Membuat pembaca kaget karena sama sekali tak diduga-duga. Seperti kisah detektif saja. Misalnya, menulis feature tentang bandit yang berhasil ditangkap setelah melawan. Kisah sudah panjang dan seru, pujian untuk petugas sudah datang, dan bandit itu pun sudah menghuni sel. Tapi, ending feature adalah: Esok harinya, bandit itu telah kabur kembali. Ending ini disimpan sejak tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup klimaks:&lt;br /&gt;Ini penutup biasa karena cerita yang disusun tadi sudah kronologis. Jadi penyelesaiannya jelas. Di masa lalu, ada kegemaran menulis ending yang singkat dengan satu kata saja: Semoga. Sekarang hal seperti ini menjadi tertawaan. Ini sebuah bukti bahwa setiap masa ada kekhasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup tanpa penyelesaian:&lt;br /&gt;Cerita berakhir dengan mengambang. Ini bisa taktik penulis agar pembaca merenung dan mengambil kesimpulan sendiri, tetapi bisa pula masalah yang ditulis memang menggantung, masih ada kelanjutan, tapi tak pasti kapan. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-410213713354327070?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/410213713354327070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=410213713354327070' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/410213713354327070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/410213713354327070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2010/09/elemen-penulisan-feature.html' title='Elemen Penulisan Feature'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-3241020190840642287</id><published>2009-01-19T02:33:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T02:34:35.634-08:00</updated><title type='text'>Menatap Kemegahan Kualalumpur dari Skybridge</title><content type='html'>*Negeri Hang Tuah, Genting, dan Menara Kembar (3-Selesai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI ketinggian 170 meter dari permukaan tanah, di sebuah jembatan, ada perasaan aneh menatap Kualalumpur. Serasa mimpi tapi nyata. Itulah Skybridge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUYUNG MAKSUM, Kualalumpur&lt;br /&gt;buyung@fajar.co.id&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANGAN datang ke Kualalumpur, Malaysia, jika tak bertandang ke Twin Towers alias Menara Kembar. Inilah gedung kembar tertinggi di dunia. Kedua menara dihubungkan sebuah jembatan bertingkat dua di lantai 41 dan 42. Jembatan itu bernama Skybridge. Jembatan ini sangat elastis sehingga tidak kaku saat angin bertiup kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh berbahagia mendapat fasilitas khusus berkunjung ke Twin Towers dan melintas di Skybridge, apalagi jembatan tingkat dua. Maklum, jembatan di lantai ini hanya dikhususkan bagi tamu-tamu eksklusif Petronas. Jembatan tingkat satu diperuntukkan bagi warga umum. Rombongan kami dari Makassar; Dealer and Media Visit to Petronas Malaysia, tak perlu antre berjam-jam untuk menatap seluruh Kualalumpur dari jembatan tersohor itu. Selasa, 13 Januari, kami meraih mimpi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twin Towers adalah kantor pusat Petronas Lubricants International SDN BHD. Bangunan ini sepenuhnya milik Petronas. Tower I dan setengah Tower II khusus digunakan Petronas sebagai markas utama. Dari tempat inilah sirkulasi manajemen minyak produk Petronas dirancang dan dikomando. Setengah Tower II lainnya disewa berbagai perusahaan dari mancanegara. Ada juga supermarket, restoran, dan kafe. Termasuk Suria KLCC, mal besar dan menjual barang-barang bermerek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dirancang Januari 1992 dan pembangunan pondasi diawali Maret 1993. Pada 31 Agustus 1999, Perdana Menteri Malaysia, YAB Dato Seri Dr Mahatir Mohamad, meresmikan penggunaan Twin Towers yang masing-masing bangunan berlantai 88.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari permukaan tanah hingga ujung atas, Twin Towers mencapai 452 meter atau 1483 kaki. Di setiap lantai menara dilengkapi sepuluh eskalator. Ada 29 lift dengan berkecepatan tinggi. Untuk mencapai lantai 42 dari lantai satu, lift hanya butuh waktu kurang dari semenit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh bangunan menggunakan 36.910 ton besi. Setiap menara memiliki beban hingga 300 ribu ton. Di basement tersedia lima lokasi parkir berkapasitas 5.400 mobil. Total kawasan yang terpakai mencapai 103 hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Twin Towers memang menjadi lokasi wisata menarik. Setiap pekan, wisatawan bisa menikmati Skybridge mulai pukul 09.00 hingga 17.00. Gratis. Hanya saja, perlu berjam-jam untuk mengantre di loket tiket masuk. Setiap hari, 1.600 orang berkunjung ke sini. "Ahad (Hari Minggu, red) tertutup untuk umum," kata Senior Regional Engineer Certified Lubricant Specialist-Stle and Service Petronas Lubricants International SDN BHD, Shamsul Bahrin Mokri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perancang Twin Towers bernama Cesar Pelli. Dia desainer bangunan asal Italia yang mampu merefleksikan budaya Islam pada karyanya. Bentuk lantainya berupa dua buah persegi yang berpotongan membentuk bintang berujung delapan. Di setiap titik perpotongannya ditambahkan sepotong lingkaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Twin Towers, rombongan kami dijamu di lantai 41. Dari tempat ini, terlihat jelas Menara Kualalumpur yang tingginya mencapai 421 meter. Bandingkan dengan Monumen Nasional di Jakarta yang hanya 132 meter. Menara Kualalumpur buatan tahun 1994 ini dirancang putra Indonesia bernama Achmad Moerdijat. Sepulang dari Twin Towers, kami juga mengunjungi menara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualalumpur kini dijadikan pusat kawasan perdagangan dan pariwisata. Ibukota pemerintahan tak lagi berpusat di sini. Sejak enam tahun lalu, pusat pemerintahan Malaysia berpindah ke Putrajaya. Jaraknya sekitar 25 kilometer dari Kualalumpur. Terletak antara Sirkuit Sepang dan Kualalumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu jam saya bertandang ke Putrajaya. Penataannya sangat apik. Bersih. Kantor Diraja Malaysia, tempat Yang Dipertuan Agung sehari-hari bekerja, berdiri megah di tepi tasik. Di kawasan itu pula sang perdana menteri dan seluruh anggota kabinetnya berkantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah masjid besar di sini, Masjid Putra. Di halaman masjid yang disulap menjadi taman, saya bersua dengan seorang pemuda yang bertugas sebagai pengawas kebersihan. Namanya Suparto. Pria asal Solo yang sudah setahun mengadu nasib di Malaysia. Sebulan, Suparto mendapat gaji sebagai buruh outsourching sebesar RM1.200 atau setara Rp 3,84 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bergaji besar untuk ukuran Indonesia, Suparto tak berminat pindah kewarganegaraan. "Saya tetap pilih Indonesia. Tak mau tinggal di sini. Saya lebih suka Indonesia," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melaka, Genting, dan Twin Towers merupakan contoh kecil sukses Malaysia membangun pariwisata. Kini negara itu menjadi tujuan wisata internasional. Tahun 2008, tercatat 22 juta lebih warga asing melancong ke sana. Singapura berada di posisi pertama dengan 9,6 juta orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di posisi kedua? Jangan kaget. Peringkat ini milik Indonesia. Tahun lalu, wisatawan asal Indonesia yang berkunjung ke Malaysia mencapai 2,4 juta orang. "Naik 34,6 persen dibanding tahun 2007," jelas Pengarah Bahagian Komunikasi dan Publisiti Kementerian Pelancongan Malaysia, Wan Zawawi Mohammed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zawawi melaporkan, setiap wisatawan rata-rata menghabiskan masa tinggal 6,3 hari dan berbelanja RM2.197. Dengan kurs RM1 sama dengan Rp 3.200, total uang yang dihabiskan pelancong asal Indonesia di Malaysia sepanjang tahun lalu mencapai Rp 1,7 triliun. Angka yang tentu saja sangat fantastis. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-3241020190840642287?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/3241020190840642287/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=3241020190840642287' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3241020190840642287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3241020190840642287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2009/01/menatap-kemegahan-kualalumpur-dari.html' title='Menatap Kemegahan Kualalumpur dari Skybridge'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-2983220833477063369</id><published>2009-01-19T02:31:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T02:32:44.626-08:00</updated><title type='text'>Genting; Ini Ide Orang Gila</title><content type='html'>*Negeri Hang Tuah, Genting, dan Menara Kembar (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARYA-KARYA besar kerap lahir dari ide gila. Begitupun Genting. Puncak gunung yang disulap menjadi kota tujuan utama wisatawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUYUNG MAKSUM, Pahang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAGU Negeri di Awan memang milik Katon Bagaskara yang warga negara Indonesia. Namun, sesungguhnya, negeri di awan itu bukan milik kita. Cobalah tengok ke negeri jiran, Malaysia. Di Pahang, salah satu dari 14 kesultanan yang menyatu dalam Diraja Malaysia, negeri di awan itu berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letaknya di titik tertinggi Malaysia selatan. Tepatnya di puncak Gunung Genting. Sewaktu saya tiba di tempat ini, Sabtu malam, 10 Januari, gelap sudah membalut. Dari sepuluh kilometer sudah terpancar cahaya di puncak Genting meski saat itu tak ada cahaya rembulan. Dari area seluas 100 kali Lapangan Karebosi, puluhan, ratusan, bahkan ribuan cahaya seolah berlomba menerangi tempat ini. Cantik, menawan, mengundang decak kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit membayangkan menginap di hotel yang berada di titik kulminasi sebuah gunung. Di ketinggian sekira 5.000 meter di atas permukaan laut. Suhu rata-rata 15 derajat Celcius. Rombongan kami dari Makassar; Dealer and Media Visit to Petronas Malaysia, ditempatkan di First World Hotel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah hotel terbesar di Genting, sekaligus hotel dengan kamar terbanyak di dunia. Saya menginap di lantai 28, puncak hotel. Dari lantai ini terlihat sebagian besar wilayah Genting. Termasuk jalan berkelok mirip ular, dari dan menuju Genting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First World Hotel memiliki 6.118 kamar, termasuk ruang-ruang tempat bermain judi. Prestasi ini tercatat dalam Guinness World Records. Juga ditorehkan dengan tinta emas di selembar sertifikat Ripley's; Belive It or Not!. First World Hotel, dunia mengakuinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski ada beberapa hotel di Genting, namun First World Hotel menjadi pionir. Inilah pusat keramaian Genting. Di sini pula ragam bentuk permainan dan arena judi digelar. Saya sempat mencoba beberapa di antaranya. Termasuk flying coaster, salah satu permainan yang mewajibkan penggunanya punya adrenalin tinggi. Orang yang berpenyakit jantung sebaiknya hati-hati memilih permainan di tempat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genting punya motto City of Entertainment atau kota hiburan. Segala bentuk hiburan --kecuali striptis atau penyanyi seronok lainnya- ada di Genting. Arena hiburan untuk anak-anak juga superlengkap. Termasuk pusat-pusat belanja. Ini memang menjadi strategi bagi pengelola Genting. Suami main judi, istri shopping, anak-anak bermanja di taman main. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menikmati seluruh lokasi permainan, baik indoor maupun outdoor, cukup murah. Perorang ditawarkan RM 55 atau setara Rp 176 ribu perhari dengan kurs RM 1 sama dengan Rp 3.200. Ada 34 jenis permainan outdoor dan 25 titik di indoor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Genting, juga ada permainan bernama sky venture. Enam menit anda terbang di udara dalam sebuah tabung yang mendapat tekanan udara besar dari bawah. Para pemain sky venture dilengkapi pakaian seperti baju penerjun payung dan helm. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penikmat judi, inilah surganya. Anda bisa memainkan hampir segala jenis judi di tempat ini. Maaf, Genting bukan tempat untuk pejudi kecil-kecilan. Minimal anda harus mempertaruhkan sejuta rupiah sekali main. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua orang bisa masuk ke lokasi judi. Jika belum berusia 21 tahun, bersiap-siaplah diusir Polis Bantuan (sebutan untuk pengamanan swasta di Malaysia). Lokasi judi juga haram bagi muslim Malaysia. Wajah-wajah Melayu wajib menunjukkan paspor bila hendak masuk ke ruang judi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masuk di kedua ruang judi atau kasino di First World. Pintu masuk hanya satu tempat. Ruangan saling bersebelahan. Di ruang kanan, lokasinya relatif kecil. Pemainnya juga rata-rata masih tergolong “junior”. Suasana agak berbeda terlihat di ruang kiri. Di bagian luar tempat yang lebih luas ini, suasana tak jauh beda dengan ruang judi sebelah kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun “panasnya” arena judi sangat terasa di ruang Monte Carlo. Taruhan di meja judi cukup besar. Sekali pasang bisa sampai RM 2.000 atau setara Rp 6,4 juta. Padahal sekali duduk, para pejudi bisa pasang taruhan lebih dari sepuluh kali. Sayang sekali, sangat tidak dibenarkan memotret suasana di seluruh arena judi yang berlangsung 24 jam ini. Ketahuan motret, selain kamera disita, pelaku juga berhadapan dengan hukum Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sisi lain dari Genting; judi dan berbagai permainan. Satu lagi yang tak bisa dilupa adalah kuliner. Di sini beragam menu ditawarkan. Anda sisa memilih mau makan apa, hampir pasti ada. Bahkan aneka hewan laut yang didatangkan khusus dari mancanegara pun tersaji. Tergantung dari perut dan ketebalan dompet anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAJI Muhammad Tahir, teman saya yang punya usaha bengkel di Sungguminasa, tak bisa menahan decak kagum menyaksikan keelokan Genting. Empat puluh delapan jam di Genting membuatnya seolah menemukan kembali masa kecilnya. Abeng --demikian dia bisa kami sapa-- mencoba hampir semua jenis permainan di tempat itu. Kecuali judi dan space shot. Yang terakhir adalah jenis permainan di mana pemainnya dijatuhkan dari ketinggian sekira 100 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang gila yang membuat tempat ini,” kata Abeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ide gila itu memang selalu melahirkan karya-karya besar, Pak Haji,” tukas Andi Syamsul Rizal, diler pelumas Petronas di Palopo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain “gila”, Genting juga berdampak besar terhadap perkembangan Malaysia. Konon, 40 persen pemasukan Genting digunakan untuk membangun Malaysia. Termasuk pelayanan pendidikan dan kesehatan gratis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui Genting, pemerintah Malaysia memang mampu meraup devisa sangat besar. Genting mampu mendongkrak jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke negara itu. Dan siapa sangka, jika pemasuk devisa terbesar kedua bagi Malaysia dari sektor pariwisata adalah Indonesia. Pemasuk pertama ditempati Singapura, negara yang notabene pernah serumah dengan Pahang di bawah bendera Diraja Malaysia. (buyung@fajar.co.id)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-2983220833477063369?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/2983220833477063369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=2983220833477063369' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/2983220833477063369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/2983220833477063369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2009/01/genting-ini-ide-orang-gila.html' title='Genting; Ini Ide Orang Gila'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-6426547209014151017</id><published>2009-01-19T02:26:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T02:30:27.547-08:00</updated><title type='text'>Melaka, Tua Nan Elok</title><content type='html'>*Negeri Hang Tuah, Genting, dan Menara Kembar (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANAH Hang Tuah menjadi saksi keelokan masa lalu dan masa modern. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUYUNG MAKSUM, Melaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOTA Seribu Museum, Kota Tua, dan berbagai julukan lainnya ditujukan kepada kota yang satu ini. Namanya Melaka. Ada juga yang menyebutnya Malaka atau Malacca. Dia adalah salah satu dari 14 kesultanan yang menyatu dalam Diraja Malaysia. Saya termasuk orang beruntung bisa mengunjungi kota tua nan elok ini pada Jumat hingga Sabtu, 9-10 Januari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut Kota Seribu Museum memang bukan tanpa alasan. Di kawasan yang termasuk World Heritage City ini, museum --orang Melaka menyebutnya muzium, sangat banyak. Letaknya juga tak saling berjauhan. Bahkan di pusat keramaian Melaka, museum hanya berjarak sepelemparan batu antara satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja Christ Church. Sebuah gereja Katolik yang didirikan tahun 1753. Kini, selain sebagai gereja, bangunan yang terletak di Church Street ini juga berfungsi sebagai museum. Bentuk dan ornamen bangunannya sangat terawat. Kecuali atap dan bagian dalam, seluruh tembok bangunan berwarna merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gereja lain yang cukup tua bernama Francis Xaviers Church. Ini gereja Katolik buatan 1849. Perancangnya bernama Reverend Farve. Dia pria asal Prancis. Francis Xaviers Church mempunyai dua menara berarsitektur gothic yang didedikasikan untuk St Francis Xavier berjuluk Apostle to the East, misionaris Katolik abad 16. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ada juga Bukit St Paul. Di puncak bukit ini terdapat gereja kuno dan patung orang suci St Paul. Gereja ini sudah sangat tua dan tidak dipergunakan lagi. &lt;br /&gt;Hanya lima meter dari bangunan itu, juga berdiri sebuah bangunan tua. Bangunan ini bernama The Stadhuys buatan 1650. Dulunya sebagai tempat tinggal gubernur Belanda. The Stadhuys sudah berubah nama menjadi Muzium Ethnografi dan Muzium Sejarah Melaka. Bentuk bangunan menyerupai gereja tua meski lebih besar. Ada dua lantai. Dinding atas dan plafon mulai dimakan usia. Di depan museum, sejumlah karya seni dan suvenir dijual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari Christ Church, di seberang jalan, ada satu monumen kapal laut model dulu. Oleh masyarakat setempat diyakini, inilah replika dari orang Portugis pertama yang menjejakkan kaki di Melaka. Replika kapal yang mirip digunakan Johnny Deep dalam film Pirates of the Carribian itu juga difungsikan sebagai museum. Namanya Muzium Samudera, ada juga yang menyebutnya Muzium Kapal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini baru beberapa museum yang ada di sekitar Christ Church. Termasuk Muzium Kecantikan. Di seantero Melaka sendiri sangat banyak museum. Hampir sebanyak bangunan tua yang ada di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Melaka tak lepas dari Majapahit. Konon, kesultanan ini dibangun oleh seorang bangsawan Majapahit yang memilih hengkang dari kerajaan asal Sumatera itu. Dia kemudian berlayar hingga akhirnya tiba di tempat itu tahun 1409. Bangsawan Majapahit ini dikenal punya banyak kerabat. Termasuk saudagar China. Sehingga saudagar-saudagar China pun bersedia singgah dan membuka bandar di Melaka. Mereka mendapat satu lokasi bernama Bukit China. Sampai saat ini, bukit ini masih bisa disaksikan warga awam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandu yang mendampingi kami, Ain, juga menjelaskan bahwa Melaka adalah pintu masuk Tionghoa warga Liem ke Indonesia. “Termasuk ke Makassar,” kata dia. Intinya, nenek moyang marga Liem di Asia Tenggara berasal dari sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika kota ini ramai dikunjungi Tionghoa. Mereka bukan hanya marga Liem atau Lim, namun juga marga-marga lainnya. Keluarga pengusaha Tionghoa asal Makassar, David Gozal, pun terkesima menikmati Melaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejayaan Melaka membuat bangsa Eropa tergiur. Maka berlomba-lombalah kaum Eropa berusaha datang sekaligus menguasai Melaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Eropa awal yang sukses ke Melaka berasal dari Portugis. Sampai kini, masih ada peninggalan tertua di Melaka yang diyakini sebagai gerbang masuknya Portugis ke tanah ini. Namanya Pintu Gerbang Santiago atau Porto de Santiago. Pintu Gerbang Santiago merupakan salah satu dari empat pintu masuk ke Melaka. Pintu ini dibangun tentara Portugis pada tahun 1511. Mereka dipimpin Alfonso de Albuquerque.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bangunan sisa Portugis lainnya yang masih bisa disaksikan adalah Memorial Pengisytiharan Kemerdekaan atau Proclamatic of Independence Memorial. Letaknya menghadap ke Pintu Gerbang Santiago. Gedung ini masih terawat dengan baik.&lt;br /&gt;Di belakang Pintu Gerbang Santiago terdapat Istana Kesultanan Melaka. Istana ini pun sudah dijadikan cagar budaya. Dahulu istana ini terdapat di dalam benteng, tetapi dinding benteng dihancurkan tentara Inggris pimpinan William Farquhar pada tahun 1807. Sir Stamford Raffles dan Lord Minto berusaha mencegah penghancuran ini, namun yang berhasil diselamatkan hanya Pintu Gerbang Santiago. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesultanan Melaka juga dikenal sebagai Negeri Hang Tuah. Bersama para sahabatnya, mereka dikenal pelaut tangguh nan berani. Nama-nama mereka diabadikan sebagai nama jalan. Di Jalan Hang Jebat, salah seorang sahabat Hang Tuah, bahkan ada keunikan ragam agama yang patut dicontoh. Di situ ada kuil India Sri Poyyatha Moorthi, dan Masjid Kampong Keling. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan masjid ini menjadi bukti perpaduan akulturasi budaya Islam, China, dan Melayu kala itu. Berarsitektur Sumatera. Kubah bertingkat ibarat piramida. Ada pula menaranya yang berbentuk pagoda. Beberapa meter berikutnya ada Kuil China, Cheng Hoon Teng buatan tahun 1646. Seluruh material bangunan kuil didatangkan langsung dari China. Hingga saat ini, ketiga tempat ibadah ini tetap terawat apik dan masih digunakan bersembahyang. Jemaahnya hidup damai dan rukun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekelumit Melaka. Kota tua nan elok dan cantik. Sebuah kesultanan yang mampu menyeimbangkan identitas masa lalunya dengan perkembangan teknologi dunia. Kota tua yang anak mudanya tetap memadati menu internasional ala Pizza Hut atau Kentucky Fried Chicken. Dan di antara becak kuno berhias, mereka tak canggung “berpusing” menunggangi sepeda motor berkapasitas selinder di atas 750 cc. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-6426547209014151017?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/6426547209014151017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=6426547209014151017' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6426547209014151017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6426547209014151017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2009/01/melaka-tua-nan-elok.html' title='Melaka, Tua Nan Elok'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-562698631062803465</id><published>2008-12-23T23:36:00.000-08:00</published><updated>2008-12-23T23:37:22.932-08:00</updated><title type='text'>terapi hidung, cobalah...</title><content type='html'>BREATHING THERAPY (HEADACHE &amp; TIREDNESS) 呼吸治療法（頭痛及疲倦）TERAPI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Our noses have left and right nostrils. Are these nostrils having the same function for inhaling (breathe in) and exhaling (breathe out)? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;我們有左邊、右邊鼻孔，吸氣、吐氣時有沒有一樣？&lt;br /&gt;Kita meiliki hidung berlubang disebelah kiri dan disebelah kanan, apakah fungsinya sama untuk menghirup dan membuang nafas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Actually it's not the same and we can feel the difference. Accordingly, the right side represents the sun and the left side represents the moon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;其實不一樣，可以感覺不一樣；右邊等於是太陽的意思，左邊等於是月亮.&lt;br /&gt;Sebenarnya fungsinya tidak sama dan dapat kita rasakan bedanya; sebelah kanan mewakili matahari (mengeluarkan panas) dan sebelah kiri mewakili bulan ( mengeluarkan dingin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When having headache, try to close your right nostril and use your left nostril to do breathing for about 5 min. The headache will be gone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;平常頭痛時可以用手把右邊鼻孔關起來，只用左邊鼻孔吸氣、吐氣，約五分鐘，頭痛就好了。&lt;br /&gt;Jika sakit kepala, cobalah menutup lubang hidung sebelah kanan dan bernafaslah melalui hidung sebelah kiri dan lakukan kira-kira 5 menit, sakit kepala akan sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you feel too tired, do it the opposite way. Close your left nostril and breathe through your right nostril. After a while, you will feel refresh again.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;如果疲倦、累了，相反的關起左邊的鼻孔，只用右邊吸氣、吐氣，不用多久，馬上精神好起了。 Jika Anda merasa lelah, lakukan bolak-balik. Tutup lubang hidung sebelah kiri dan bernafaslah melalui hidung sebelah kanan. Tak lama kemudian, Anda akan merasakan segar kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Because the right side belongs to heat, so it gets hot easily. The left side gets cold easily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;因為右邊屬於火氣，比較會熱，左邊比較會涼。&lt;br /&gt;Sebab lubang hidung sebelah kanan mengeluarkan panas, sehingga gampang sekali panas, Lubang hidung sebelah kiri mengeluarkan dingin..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Women breathe mainly with their left nostril, so they get calm down easily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;女生大部分吸氣、吐氣在左邊，所以心比較會涼快。&lt;br /&gt;Perempuan bernafas lebih dengan hidung sebelah kiri, sehingga hatinya gampang sekali dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Men breathe mostly with their right nostril, so they get angry easily.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;男生大部分吸氣、吐氣在右邊，所以他們比較會生氣。&lt;br /&gt;Laki-laki bernafas lebih dengan hidung sebelah kanan, sehingga gampang sekali marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When we wake up, do we notice which nostril breathes faster? Is it the left side or the right side?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;我們起床時，可以注意哪邊吸氣、吐氣比較快？左邊或右邊？&lt;br /&gt;Apakah Anda ada memperhatikan pada saat bangun, lubang hidung sebelah mana yang bernafas lebih cepat ? Sebelah kiri atau kanan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If the left nostril breathes faster, you will feel very tired. Close your left nostril and use your right nostril for breathing and you will get refresh quickly. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;如果左邊比較快，覺得提不起精神，可以關起左邊鼻孔，用右邊呼吸，很快的精神會好起來。&lt;br /&gt;Jika lubang hidung sebelah kiri bernafas lebih cepat, Anda akan merasa sangat lelah. Tutuplah lubang hidung sebelah kiri dan gunakan lubang hidung sebelah kanan untuk bernafas, Anda akan merasa segar kembali dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;You can teach your kids about it. The effect of breathing therapy is much better for adults. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;這也可以教給小孩，大人用更好。如果你有警覺心的話，速度更快。&lt;br /&gt;Cara tersebut boleh diajarkan kepada anak-anak, tetapi efeknya akan lebih baik diterapkan kepada orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I used to have painful headache. When consulted a doctor, he told me jokingly," You will be all right if you get married!" The doctor did not bullshit me as he had his theory and supported with testimony. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;以前我曾經頭痛，痛得非常厲害，去看醫生，醫生說 "你去結婚就好了!" 醫生說得沒錯，他有理論根據。&lt;br /&gt;Saya biasanya merasakan sakit kepala, dan rasanya nyeri. Kemudian saya berobat ke dokter dan beliau mengatakan ,"Anda akan sembuh jika berumah tangga!" Dokter itu tidak bicara omong kosong. Apa yang dia sampaikan didukung dengan teori dan kesaksian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;During that time, I used to have headache every night and I was not able to study. I took medicine but I was not cured. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;當時每天晚上都頭痛，沒有辦法看書，有吃藥，也不是辦法。&lt;br /&gt;Pada saat itu, setiap malam saya merasakan sakit kepala dan tidak dapat belajar. Saya makan obat, tetapi tidak dapat sembuh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One night as I sat down to medidate, I closed my right nostril and breathed with my left nostril. In less than a week, it seemed that my headache problem had left me! I continued doing it for about a month and since then there was no recurrence of headache in me. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;有一天晚上靜坐，關起右鼻孔呼吸，這樣子做，不到一個禮拜，頭痛好了！持個月，從那天晚上到現在，一次也沒有頭痛過。&lt;br /&gt;Pada suatu malam. saya duduk bersemedi dan menutup lubang hidung sebelah kanan dan bernafas dengan lubang hidung sebelah kiri. Dalam kurang dari satu minggu, sakit kepala saya sembuh. Saya teruskan melakukannya selama 1 bulan, sejak malam itu sampai sekarang , sakit kepala saya tidak kambuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is my own experience. I used to tell others who also suffer headache to try this method as it was effective for me. It also works for those who have tried as well. This is a natural therapy, unlike taking medicines for a long time may have side effect. So, why don't you try it out? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;這是我自己親身經驗過，每一次我告訴別人，你們頭痛的話，試試看，因為我的身體有效種自然的處理，不像吃藥會有副作用，為什麼不用呢？&lt;br /&gt;Ini adalah yang saya alami sendiri. Saya beritahukan kepada orang lain, jika sakit kepala, boleh mencoba cara tersebut, sebab sangat efektif buat saya. Banyak orang pun telah mencoba dan berhasil. Ini adalah terapi alami, tidak seperti memakan obat dalam jangka panjang akan ada efek sampingnya. Jadi kenapa Anda tidak mencobanya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Practice the correct ways of breathing (breathe in and breathe out) and your body will be in a very relaxing condition. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;經常清楚的吸氣、吐氣，身體會覺非常輕鬆。&lt;br /&gt;Selalulah mecoba terapi perrnafasan ini, tubuh Anda akan merasa sangat tenang sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(From: Suska Dianingka &lt;Suska.Dianingka@ tpi.tv&gt;&lt;br /&gt;Subject: BREATHING THERAPY (HEADACHE &amp; TIREDNESS) ?????(?????) TERAPI.&lt;br /&gt;To: andriblues@yahoo. com&lt;br /&gt;Date: Tuesday, December 23, 2008, 3:42 PM)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-562698631062803465?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/562698631062803465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=562698631062803465' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/562698631062803465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/562698631062803465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/12/terapi-hidung-cobalah.html' title='terapi hidung, cobalah...'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-6506853260249407566</id><published>2008-06-27T04:45:00.000-07:00</published><updated>2008-06-27T04:47:58.014-07:00</updated><title type='text'>Tujuh Pertimbangan dalam Jurnalisme Sastra</title><content type='html'>Oleh: Andreas Harsono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISTILAH jurnalisme sastra adalah salah satu dari sekian banyak nama buat genre tertentu dalam jurnalisme. Wartawan Amerika Tom Wolfe pada 1974 memperkenalkannya dengan nama “jurnalisme baru.” Ada juga yang memakai nama “narrative reporting”. Ada juga yang pakai nama “passionate journalism.” Tapi ada yang secara sederhana mengatakannya “tulisan panjang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi intinya, genre ini menukik lebih dalam daripada apa yang kita kenal sebagai “in-depth reporting.” Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal tersebut. Tulisannya biasanya panjang. Majalah The New Yorker bahkan pernah hanya menerbitkan laporan John Hersey berjudul “Hiroshima” dalam satu edisi majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara untuk sebuah laporan bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan ratusan, nara sumber. Risetnya juga tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua. Tapi bisa berbulan-bulan. Di Indonesia, ada beberapa penulis yang punya kegemaran menulis panjang. Saya menikmati sekali buku Bondan Winarno, “Sebongkah Emas di Kaki Pelangi” atau artikel-artikel panjang George J. Aditjondro, misalnya, soal Arnold C. Ap, cendekiawan Papua yang mati ditembak tentara Indonesia pada April 1984. Atau kisah bertutur dengan ungkapan “saya” yang digunakan Goenawan Mohamad dalam laporan “Peristiwa `Manikebu’: Kesusastraan Indonesia dan Politik di tahun 1960-an.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang reportase adalah bagian yang melekat dengan jurnalisme ini. Data-data diperoleh dari liputan di lapangan dengan tangguh. Menembus sumber dengan gigih. Pagi hingga malam. Riset yang makan keringat. Wawancara yang berjibun. Ia menukik tajam hingga mampu menterjemahkan, misalnya, sesosok kepribadian manusia dengan segala kerumitannya ke dalam kata-kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasanya tidak harus mendayu-dayu. Bahasa bisa lugas. Dari segi struktur karangan, genre ini bentuknya model gelombang sinus. Naik turun. Liar. Tapi ia juga cantik dan memikat. Rasanya pembaca tidak bisa melepaskan karangan itu sebelum tuntas membaca.&lt;br /&gt;Saya sering ditanya apakah karya Seno Gumira Ajidarma “Saksi Mata” masuk dalam kategori jurnalisme? Saya akui karya itu sangat memukau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi karya itu adalah fiksi. Seno tidak menyampaikan fakta yang nyata. Nama-nama diganti. Tempat juga tidak disebutkan jelas. “Saksi Mata” adalah karya fiksi yang memakai data-data pembantaian Dili pada November 1991 sebagai ide cerita.&lt;br /&gt;Ketika mendalami jurnalisme sastra di Amerika, saya selalu diberitahu adanya tujuh pertimbangan bagi seorang wartawan bila hendak membuat laporan dalam genre ini.&lt;br /&gt;Fakta. Jurnalisme selalu mensakralkan fakta. Walaupun genre ini memakai kata “sastra” tapi ia tetap jurnalisme Setiap detail seyogyanya berupa kenyataan. Nama-nama orang adalah nama-nama sebenarnya. Tempat juga memang nyata. Kejadian benar-benar kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila ada dua orang bertemu dan mengadakan pembicaraan. Seorang wartawan seyogyanya mengecek kepada keduanya apakah benar si A mengatakan ini dan si B mengatakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang mungkin bisa lupa. Orang mungkin bisa berubah persepsi bersamaan dengan perjalanan waktu. Tapi minimal, esensi dari pembicaraan itu harus disetujui A dan B bila hendak dilaporkan dalam jurnalisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau berbeda? Ada dua pilihan. Tidak dipakai sama sekali. Atau kalau pembicaraan itu penting, dilaporkan saja dari dua sudut yang berbeda. Si A bilang ini tapi si B bilang lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi perbedaan bisa tidak terletak pada esensi. Biasanya ia terletak pada detail. Warna jas, warna dinding, bau minyak wangi, permukaan papan yang kasar atau jenis sepatu bisa diingat secara berbeda oleh orang yang berbeda. Tidak ada salahnya untuk pergi ke situs di mana suatu kejadian terlaksana, untuk mencatat detail di lapangan.&lt;br /&gt;Konflik. Sebuah tulisan panjang lebih mudah dipertahankan daya pikatnya bila ada konflik. Bila Anda berminat membuat laporan panjang, Anda seyogyanya berpikir berapa besar pertikaian yang ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohamad bercerita soal konflik antara para penandatangan Manifes Kebudayaan dengan para pendukung Lekra. Pertikaian ini termasuk besar. Ada polemik di surat kabar. Menteri ini bicara, tokoh partai itu membantah. Akhirnya, Mohamad dan para penandatangan Manikebu dikalahkan dan dilarang menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi konflik bisa berupa pertikaian satu orang dengan orang lain. Ia juga bisa berupa pertikaian antar kelompok. Misalnya, upaya Arnold Ap mengembangkan kesenian Papua berbuntut ketegangan dengan pejabat militer dari Jawa yang dikirim ke Jayapura. Ap ditahan dan ditembak mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik juga bisa berupa pertentangan seseorang dengan hati nuraninya. Konflik juga bisa berupa pertentangan seseorang dengan nilai-nilai di masyarakatnya. Pendek kata, pertikaian adalah unsur penting dalam suatu laporan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karakter. Jurnalisme sastra mensyaratkan adanya karakter-karakter. Karakter membantu terikatnya suatu laporan. Ada karakter utama. Ada karakter pembantu. Karakter utama seyogyanya orang yang terlibat dalam pertikaian. Karakter utama seyogyanya juga kepribadian yang menarik. Tidak datar dan tidak menyerah dengan mudah (Orang yang mudah menyerah biasanya juga tidak mau dituliskan riwayatnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winarno bicara soal beberapa karakter dalam buku “Sebongkah Emas di Kaki Pelangi.” Ada karakter geologis Michael de Guzman. Ada juga rekan-rekannya dari perusahaan Bre-X. Namun ada juga orang penting Indonesia macam Bob Hasan dan Siti Hardiyanti Rukmana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Winarno menganggap De Guzman, “meracuni” sample hasil pemboran sumur emas dan melakukan kejahatan untuk memperkaya diri sendiri. Winarno memperkirakan bahwa de Guzman masih hidup, tidak mati bunuh diri seperti diberitakan. Winarno melaporkan bahwa mayat yang diklaim sebagai mayat de Guzman tidak memiliki gigi palsu di rahang atasnya seperti dalam rekaman gigi de Guzman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohamad menggunakan dirinya sendiri, lewat penggunaan kata “saya,” sebagai karakter untuk mengikat eseinya. Aditjondro tidak menggunakan kata saya sebanyak Mohamad. Tapi kata itu muncul beberapa kali sesuai gaya Aditjondro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akses. Anda seyogyanya punya akses kepada karakter utama atau orang-orang yang mengenal karakter utama. Akses bisa berupa dokumen, korespondensi, album foto, buku harian, wawancara dan sebagainya. Winarno tentu tidak memiliki akses terhadap De Guzman. Orang Filipino itu dinyatakan mati atau menyembunyikan diri. Winarno menengok makamnya, mencari dokumen dan mewawancarai orang yang mengenal De Guzman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Aditjondro berhubungan dengan almarhum Arnold Ap. Aditjondro mengenal Ap dengan dekat. Mohamad juga kenal dengan orang-orang yang menandatangani Manikebu maupun mereka yang melawannya. Saya sering mengibaratkan akses kepada karakter utama ini dengan akses yang dimiliki oleh seorang penulis biografi. Aksesnya luar biasa. Bisa masuk ke masalah-masalah pribadi karakter utama. Soal percintaan, soal skandal, soal kejahatan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi. Jurnalisme sastra membutuhkan emosi dari karakter-karakternya. Emosi bisa berupa cinta. Bisa berupa pengkhianatan. Bisa berupa kebencian. Loyalitas. Kekaguman. Sikap menjilat. Oportunisme dan sebagainya. Emosi menjadikan cerita kita seakan-akan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emosi karakter juga bisa berubah-ubah bersama perjalanan waktu. Mulanya si karakter menghormati mentornya. Suatu kejadian besar menguji apakah ia perlu tetap menghormati mentornya atau tidak. Di sini mungkin ada pergulatan batin. Mungkin ada perdebatan intelektual. Ini seyogyanya memberikan ruang buat emosi. Apa emosi si karakter ketika tahu ia memenangkan pertarungannya? Apa perasaan si karakter ketika tahu ia dikhianati istri atau suaminya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Waktu. Mungkin perbedaan antara jurnalisme sehari-hari dengan jurnalisme sastra adalah keterkaitannya dengan waktu. Saya mengibaratkan laporan suratkabar “hari ini” dengan sebuah potret. Snap shot. Sedangkan laporan panjang adalah sebuah film yang berputar. Video.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Vare, mantan editor The New Yorker, menyebutnya “series of time.” Peristiwa berjalan bersama waktu. Ini memiliki konsekuensi penyusunan kerangka karangan. Mau bersifat kronologis, dari awal hingga akhir. Atau mau membuat flashback. Dari akhir mundur ke belakang? Atau kalau mau bolak-balik apa benang merahnya supaya pembaca tidak bingung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjangnya waktu tergantung kebutuhan. Sebuah laporan tentang kehamilan bisa dibuat dalam kerangka waktu sembilan bulan. Tapi bisa juga dibuat dalam kerangka waktu dua tahun, tiga tahun dan sebagainya. Tapi bisa juga sekian menit ketika si ibu bergulat hidup dan mati di ruang operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaruan. Ada unsur kebaruan yang harus Anda pertimbangkan bila hendak membuat laporan panjang. Tidak ada gunanya mengulang-ulang lagu lama. Kalau Anda hendak menulis cerita panjang soal pembunuhan G30S atau kerusuhan Mei 1998, sebaiknya berpikirlah dua atau tiga kali sebelum menjalankan ide ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak fakta yang sudah diungkap oleh orang lain soal G30S atau kerusuhan Mei 1998. Ini tidak berarti tidak ada yang masih tersembunyi. Saya percaya masih banyak hal yang belum terungkap dari dua peristiwa besar itu. Tapi bersiaplah untuk mencari fakta-fakta baru. Bersiaplah untuk menembus sumber-sumber yang paling sulit yang belum ditembus orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin lebih mudah mengungkapkan kebaruan itu dari kacamata orang-orang biasa yang menjadi saksi mata peristiwa besar. Hersey mewawancarai seorang dokter, seorang pendeta, seorang sekretaris dan seorang pastor Jerman, untuk merekonstruksi pemboman Hiroshima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara detail, Hersey menceritakan dahsyatnya bom itu. Ada kulit terkelupas, ada desas-desus soal bom rahasia, ada kematian yang menyeramkan, ada perasaan dendam, ada perasaan rendah diri. Semua campur aduk ketika Hersey merekamnya dan menjadikannya salah satu artikel termahsyur dalam sejarah jurnalisme Amerika. Hersey mempublikasikan karyanya setahun setelah bom nuklir dijatuhkan di Hiroshima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon fisikawan nuklir Albert Eistein tidak bisa mendapatkan edisi The New Yorker pada Agustus 1946 tersebut. Einstein membaca laporan itu karena ia berlangganan. Tapi Eistein ingin membeli enam buah lagi buat teman-temannya. Tapi majalah itu laku habis. Einstein kehabisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa artinya?&lt;br /&gt;Sederhana saja. Einstein menemukan teori baru. Hersey juga menemukan sesuatu yang baru. Hersey menemukan sisi bengis dari bom nuklir! Itu saja. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-6506853260249407566?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/6506853260249407566/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=6506853260249407566' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6506853260249407566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6506853260249407566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/06/tujuh-pertimbangan-dalam-jurnalisme.html' title='Tujuh Pertimbangan dalam Jurnalisme Sastra'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-6995322689439099478</id><published>2008-06-27T04:38:00.001-07:00</published><updated>2008-06-27T04:44:22.731-07:00</updated><title type='text'>Bahasa Jurnalistik Indonesia</title><content type='html'>Oleh: Goenawan Mohamad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHASAN jurnalistik sewajarnya didasarkan atas kesadaran terbatasnya ruangan dan waktu. Salah satu sifat dasar jurnalisme menghendaki kemampuan komunikasi cepat dalam ruangan serta waktu yang relatif terbatas. Meski pers nasional yang menggunakan bahasa Indonesia sudah cukup lama usianya, sejak sebelum tahun 1928 (tahun Sumpah Pemuda), tapi masih terasa perlu sekarang kita menuju suatu bahasa&lt;br /&gt;jurnalistik Indonesia yang lebih efisien. Dengan efisien saya maksudkan lebih hemat dan lebih jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asas hemat dan jelas ini penting buat setiap reporter, dan lebih penting lagi buat editor. Di bawah ini diutarakan beberapa fasal, yang diharapkan bisa diterima para (calon) wartawan dalam usaha kita ke arah efisien penulisan. Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghematan Unsur Kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Beberapa kata Indonesia sebenarnya bisa dihemat tanpa mengorbankan tatabahasa dan jelasnya arti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;agar supaya - agar, supaya&lt;br /&gt;akan tetapi - tapi&lt;br /&gt;apabila - bila&lt;br /&gt;sehingga - hingga&lt;br /&gt;meskipun - meski&lt;br /&gt;walaupun - walau&lt;br /&gt;tidak - tak (kecuali diujung kalimat atau berdiri sendiri)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kata daripada atau dari pada juga sering bisa disingkat jadi&lt;br /&gt;dari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;”Keadaan lebih baik dari pada zaman sebelum perang”, menjadi ”Keadaan lebih baik dari sebelum perang”. Tapi mungkin masih janggal mengatakan: ”Dari hidup berputih mata, lebih baik mati berputih tulang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ejaan yang salah kaprah justru bisa diperbaiki dengan menghemat huruf.&lt;br /&gt;sjah - sah&lt;br /&gt;khawatir - kuatir&lt;br /&gt;akhli - ahli&lt;br /&gt;tammat - tamat&lt;br /&gt;progressive - progresif&lt;br /&gt;effektif - efektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;kemudian - lalu&lt;br /&gt;makin - kian&lt;br /&gt;terkejut - kaget&lt;br /&gt;sangat - amat&lt;br /&gt;demikian - begitu&lt;br /&gt;sekarang - kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: Dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan hanya soal perasaan. Dalam soal memilih sinonim yang telah pendek memang perlu ada kelonggaran, dengan mempertimbangkan rasa bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghematan Unsur Kalimat (1)&lt;br /&gt;Lebih efektif dari penghematan kata ialah penghematan melalui struktur kalimat. Banyak contoh pembikinan kalimat dengan pemborosan kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, di awal kalimat:&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;• ”Adalah merupakan kenyataan, bahwa percaturan politik internasional berubah-ubah setiap zaman”. (Bisa disingkat: ”Merupakan kenyataan, bahwa …..”).&lt;br /&gt;• ”Apa yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro sudah jelas”. (Bisa disingkat: ”Yang dinyatakan Wijoyo Nitisastro……”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pemakaian apakah atau apa (mungkin pengaruh bahasa daerah) yang sebenarnya bisa ditiadakan:&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;• ”Apakah Indonesia akan terus tergantung pada bantuan luar negeri”? (Bisa disingkat: ”Akan terus tergantungkah Indonesia…..”).&lt;br /&gt;• Baik kita lihat, apa(kah) dia di rumah atau tidak”. (Bisa disingkat: ”Baik kita lihat, dia di rumah atau tidak”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemakaian dari sebagai terjemahan of (Inggris) dalam hubungan milik yang sebenarnya bisa ditiadakan; juga daripada. Misalnya:&lt;br /&gt;• ”Dalam hal ini pengertian dari Pemerintah diperlukan”.&lt;br /&gt;   (Bisa disingkat: ”Dalam hal ini pengertian Pemerintah diperlukan”.&lt;br /&gt;• ”Sintaksis adalah bagian daripada tatabahasa”. &lt;br /&gt;   (Bisa disingkat: ”Sintaksis adalah bagian tatabahasa”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pemakaian untuk sebagai terjemahan to (Inggris) yang sebenarnya bisa ditiadakan:&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;• ”Uni Soviet cenderung untuk mengakui hak-hak India”. &lt;br /&gt;   (Bisa disingkat: ”Uni Soviet cenderung mengakui……”).&lt;br /&gt;• ”Pendirian semacam itu mudah untuk dipahami”. &lt;br /&gt;   (Bisa disingkat: ”Pendirian semacam itu mudah dipahami”).&lt;br /&gt;• ”GINSI dan Pemerintah bersetuju untuk memperbaruhi prosedur barang-barang   modal”. &lt;br /&gt;   (Bisa disingkat: ”GINSI dan Pemerintah bersetuju memperbaruhi…….”).&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;Dalam kalimat: ”Mereka setuju untuk tidak setuju”, kata untuk demi kejelasan dipertahankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pemakaian adalah sebagai terjemahan is atau are (Inggris) tak selamanya perlu:&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;• ”Kera adalah binatang pemamah biak”. &lt;br /&gt;   (Bisa disingkat ”Kera binatang pemamah biak”).&lt;br /&gt;   Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam struktur kalimat lama, adalah ditiadakan, tapi kata itu ditambahkan, misalnya dalam kalimat: ”Pikir itu pelita hati”. Kita bisa memakainya, meski lebih baik dihindari. Misalnya kalau kita harus menterjemahkan ”Man is a better driver than woman”, bisa mengacaukan bila disalin: ”Pria itu pengemudi yang lebih baik dari wanita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Pembubuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa dihapuskan, kalau ada keterangan waktu.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;• ”Presiden besok akan meninjau pabrik ban Goodyear”. (Bisa disingkat: ”Presiden besok meninjau pabrik….”).&lt;br /&gt;• ”Tadi telah dikatakan ……..” (Bisa disingkat: ”Tadi dikatakan.”).&lt;br /&gt;• ”Kini Clay sedang sibuk mempersiapkan diri”. (Bisa disingkat: ”Kini Clay mempersiapkan diri”).&lt;br /&gt;Penghematan diarahkan ke penghematan ruangan dan waktu. Ini bisa&lt;br /&gt;dilakukan di dua lapisan: (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat. Penghematan Unsur Kalimat (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pembubuhan bahwa sering bisa ditiadakan:&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;• ”Gubernur Ali Sadikin membantah desas-desus yang mengatakan bahwa ia akan diganti”.&lt;br /&gt;• ”Tidak diragukan lagi bahwa ialah orangnya yang tepat”.&lt;br /&gt;(Bisa disingkat: ”Tak diragukan lagi, ialah orangnya yang tepat”.).&lt;br /&gt;Catatan: Sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (:), bila perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Yang, sebagai penghubung kata benda dengan kata sifat, kadang-kadang juga bisa ditiadakan dalam konteks kalimat tertentu.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;• ”Indonesia harus menjadi tetangga yang baik dari Australia”.&lt;br /&gt;• (Bisa disingkat: ”Indonesia harus menjadi tetangga baik Australia”).&lt;br /&gt;• ”Kami adalah pewaris yang sah dari kebudayaan dunia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pembentukan kata benda (ke + ….. + an atau pe + …. + an) yang berasal dari kata kerja atau kata sifat, kadang, kadang, meski tak selamanya, menambah beban kalimat dengan kata yang sebenarnya tak perlu.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;• ”Tanggul kali Citanduy kemarin mengalami kebobolan”. (Bisa dirumuskan: ”Tanggul kali Citanduy kemarin bobol”).&lt;br /&gt;• ”PN Sandang menderita kerugian Rp 3 juta”. (Bisa dirumuskan: ”PN Sandang rugi Rp 3 juta”).&lt;br /&gt;• ”Ia telah tiga kali melakukan penipuan terhadap saya” (Bisa disingkat: ”Ia telah tiga kali menipu saya”).&lt;br /&gt;• Ditandaskannya sekali lagi bahwa DPP kini sedang memikirkan langkah-langkah untuk mengadakan peremajaan dalam tubuh partai”. (Bisa dirumuskan: ”Ditandaskannya sekali lagi, DPP sedang memikirkan langkah-langkah meremajakan tubuh partai”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Penggunaan kata sebagai dalam konteks ”dikutip sebagai mengatakan” yang belakangan ini sering muncul (terjemahan dan pengaruh bahasa jurnalistik Inggris &amp; Amerika), masih meragukan nilainya buat bahasa jurnalistik Indonesia. Memang, dalam kalimat yang memakai rangkaian kata-kata itu (bahasa Inggrisnya ”quoted as&lt;br /&gt;saying”) tersimpul sikap berhati-hati memelihat kepastian berita.&lt;br /&gt;Kalimat ”Dirjen Pariwisata dikutip sebagai mengatakan……” tak menunjukkan Dirjen Pariwisata secara pasti mengatakan hal yang dimaksud; di situ si reporter memberi kesan ia mengutipnya bukan dari tangan pertama, sang Dirjen Pariwisata sendiri. Tapi perlu diperhitungkan mungkin kata sebagai bisa dihilangkan saja, hingga kalimatnya cukup berbunyi: ”Dirjen Pariwisata dikutip mengatakan…..”.&lt;br /&gt;Bukankah masih terasa kesan bahwa si reporter tak mengutipnya dari&lt;br /&gt;tangan pertama? Lagipula, seperti sering terjadi dalam setiap mode baru, pemakaian&lt;br /&gt;sebagai biasa menimbulkan ekses. Misalnya: Ali Sadikin menjelaskan tetang pelaksanaan membangun proyek miniatur Indonesia itu sebagai berkata: ”Itu akan dilakukan dalam tiga tahap”. Kata sebagai dalam berita itu samasekali tak tepat, selain boros.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, juga bisa tak tepat dan boros. Dimana sebagai kataganti penanya yang berfungsi sebagai kataganti relatif muncul dalam bahasa Indonesia akibat pengaruh bahasa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Dr. C. A. Mees, dalam “Tatabahasa Indonesia” (G. Kolff &amp; Co., Bandung, 1953 hal. 290-294) menolak pemakaian dimana. Ia juga menolak pemakaian pada siapa, dengan siapa, untuk diganti dengan susunan kalimat Indonesia yang ”tidak meniru jalan bahasa&lt;br /&gt;Belanda”, dengan mempergunakan kata tempat, kawan atau teman.&lt;br /&gt;Misalnya: ”orang tempat dia berutang” (bukan: pada siapa ia berutang); ”orang kawannya berjanji tadi” (bukan: orang dengan siapa ia berjanji tadi). Bagaimana kemungkinannya untuk bahasa jurnalistik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Misalnya: ”Rumah dimana saya diam”, yang berasal dari ”The house where I live in”, dalam bahasa Indonesia semula sebenarnya cukup berbunyi: ”Rumah yang saya diami”. Misal lain: ”Negeri dimana ia dibesarkan”, dalam bahasa Indonesia semula berbunyi: ”Negeri tempat ia dibesarkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua misal itu terasa bahasa Indonesia semula lebih luwes, kurang kaku. Meski begitu tak berarti kita harus mencampakkan kata dimana sama sekali dari pembentukan kalimat bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) hanya sekali lagi perlu ditegaskan: penggunaan dimana, kalau tak hati-hati, bisa tak tepat dan boros. Saya ambilkan 3 contoh ekses penggunaan dimana dari 3 koran:&lt;br /&gt;Kompas, 4 Desember 1971:&lt;br /&gt;”Penyakit itu dianggap berasal (dan disebarkan) oleh serdadu-serdadu Amerika (GI) dimana konsentrasi besar mereka ada di Vietnam”.&lt;br /&gt;Sinar Harapan, 24 November 1971:&lt;br /&gt;”Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Menado dewasa ini sedang menggarap&lt;br /&gt;9 buah perkara tindak pidana korupsi, dimana ke-9 buah perkara tsb. sebagian sudah dalam tahap penuntutan, selainnya masih dalam pengusutan.”&lt;br /&gt;Abadi, 6 Desember 1971:&lt;br /&gt;”Selanjutnya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dunia dewasa ini masih belum menentu, dimana secara tidak langsung telah dapat mempengaruhi usaha-usaha pemerintah di dalam menjaga kestabilan, baik untuk perluasan produksi ekonomi dan peningkatan ekspor”.&lt;br /&gt;Dalam ketiga contoh kecerobohan pemakaian dimana itu tampak: kata tersebut tak menerangkan tempat, melainkan hanya berfungsi sebagai penyambung satu kalimat dengan kalimat lain. Sebetulnya masing-masing bisa dirumuskan dengan lebih hemat:&lt;br /&gt;• ”Penyakit itu dianggap berasal (dan disebarkan) serdadu-serdadu Amerika (GI), yang konsentrasi besarnya ada di Vietnam”.&lt;br /&gt;• ”Pihak Kejaksaan Tinggi Sulut di Menado dewasa ini menggarap 9 perkara tindak pidana korupsi. Ke-9 perkata tsb. sebagian sudah dalam tahap penuntutan, selainnya (sisanya) masih dalam pengusutan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan:&lt;br /&gt;1. Kalimat itu dijadikan dua, selain bisa menghilangkan dimana, juga menghasilkan kalimat-kalimat pendek.&lt;br /&gt;2. ”dewasa ini sedang” cukup jelas dengan ”dewasa ini”.&lt;br /&gt;3. kata ”9 buah” bisa dihilangkan ”buah”-nya sebab kecuali dalam konteks tertentu, kata penunjuk-jenis (dua butir telor, 5 ekor kambing, 7 sisir pisang) kadang-kadang bisa ditiadakan dalam bahasa Indonesia mutahir.&lt;br /&gt;• ”Selanjuntya dinyatakan bahwa keadaan ekonomi dan moneter dewasa ini masih belum menentu. Hal ini (atau lebih singkat: Ini) secara tidak langsung telah dapat …. dst”.&lt;br /&gt;Perhatikan: Kalimat dijadikan dua. Kalimat kedua ditambahi Hal ini atau cukup Ini diawalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Dalam beberapa kasus, kata yang berfungsi menyambung satu kalimat dengan kalimat lain sesudahnya juga bisa ditiadakan, asal hubungan antara kedua kalimat itu secara implisit cukup jelas (logis) untuk menjamin kontinyuitas.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;• ”Bukan kebetulan jika Gubernur menganggap proyek itu bermanfaat bagi daerahnya. Sebab 5 tahun mendatang, proyek itu bisa menampung 2500 tenaga kerja setengah terdidik”. (Kata sebab diawal kalimat kedua bisa ditiadakan: hubungan kausal antara kedua kalimat secara implisit sudah jelas).&lt;br /&gt;• ”Pelatih PSSI Witarsa mengakui kekurangan-kekurangan di idang logistik anak-anak asuhnya. Kemudian ia juga menguraikan perlunya perbaikan gizi pemain” (Kata kemudian diawal kalimat kedua bisa ditiadakan; hubungan kronologis antara kedua kalimat secara&lt;br /&gt;implisit cukup jelas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu diuraikan lebih lanjut, bahwa dalam hal hubungan kausal dan kronologi saja kata yang berfungsi menyambung dua kalimat yang berurutan bisa ditiadakan. Kata tapi, walau atau meski yang mengesankan ada yang yang mengesankan adanya perlawanan tak bisa ditiadakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejelasan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dikemukakan 16 pasal yang merupakan pedoman dasar penghematan dalam menulis, di bawah ini pedoman dasar kejelasan dalam menulis. Menulis secara jelas membutuhkan dua prasyarat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Si penulis harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan juga pura-pura paham atau belum yakin benar akan pengetahuannya sendiri.&lt;br /&gt;2. Si penulis harus punya kesadaran tentang pembaca. Memahami betul soal-soal yang mau ditulisnya berarti juga bisa menguasai bahan penulisan dalam suatu sistematik. Ada orang yang sebetulnya kurang bahan (baik hasil pengamatan, wawancara, hasil bacaan, buah pemikiran) hingga tulisannya cuma mengambang. Ada orang yang terlalu banyak bahan, hingga tak bisa membatasi dirinya: menulis terlalu panjang.&lt;br /&gt;Terutama dalam penulisan jurnalistik, tulisan kedua macam orang itu tak bisa dipakai. Sebab penulisan jurnalistik harus disertai informasi faktuil atau detail pengalaman dalam mengamati, berwawancara dan membaca sumber yang akurat. Juga harus dituangkan dalam waktu dan ruangan yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih penting lagi ialah kesadaran tentang pembaca. Sebelum kita menulis, kita harus punya bayangan (sedikit-sedikitnya perkiraan) tentang pembaca kita: sampai berapa tinggi tingkat informasinya? Bisakah tulisan saya ini mereka pahami? Satu hal yang penting sekali diingat: tulisan kita tak hanya akan dibaca seorang atau sekelompok&lt;br /&gt;pembaca tertentu saja, melainkan oleh suatu publik yang cukup bervariasi dalam tingkat informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca harian atau majalah kita sebagian besar mungkin mahasiswa, tapi belum tentu semua tau sebagian besar mereka tahu apa dan siapanya W. S. Renda atau B. M. Diah. Menghadapi soal ini, pegangan penting buat penulis jurnalistik yang jelas ialah: buatlah tulisan yang tidak membingungkan orang yang yang belum tahu, tapi tak membosankan orang yang sudah tahu. Ini bisa dicapai dengan praktek yang sungguh-sungguh dan terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tulisan yang jelas juga harus memperhitungkan syarat-syarat teknis komposisi:&lt;br /&gt;• tanda baca yang tertib.&lt;br /&gt;• ejaan yang tidak terlampau menyimpang dari yang lazim dipergunakan atau ejaan standard.&lt;br /&gt;• pembagian tulisan secara sistematik dalam alinea-alinea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup kiranya ditekankan perlunya disiplin berpikir dan menuangkan pikiran dalam menulis, hingga sistematika tidak kalang-kabut, kalimat-kalimat tidak melayang kesana-kemari, bumbu-bumbu cerita tidak berhamburan menyimpang dari hal-hal yang perlu dan relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuju kejelasan bahasa, ada dua lapisan yang perlu mendapatkan perhatian:&lt;br /&gt;1. Unsur kata&lt;br /&gt;2. Unsur kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejelasan Unsur Kata&lt;br /&gt;1. Berhemat dengan kata-kata asing. Dewasa ini begitu derasnya arus istilah-istilah asing dalam pers kita. Misalnya: income per capita, Meet the Press, steam-bath, midnight show, project officer, two China policy, floating mass, program-oriented, floor-price, City Hall, upgrading, the best photo of the year, reshuffle, approach, single, seeded dan apa lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata itu sebenarnya bisa diterjemahkan, tapi dibiarkan begitu saja. Sementara diketahui bahwa tingkat pelajaran bahasa Inggris sedang merosot, bisa diperhitungkan&lt;br /&gt;sebentar lagi pembaca koran Indonesia akan terasing dari informasi, mengingat timbulnya jarak bahasa yang kian melebar. Apalagi jika diingat rakyat kebanyakan memahami bahasa Inggris sepatah pun tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terlambat, ikhtiar menterjemahkan kata-kata asing yang relatif mudah diterjemahkan harus segera dimulai. Tapi sementara itu diakui: perkembangan bahasa tak berdiri sendiri, melainkan ditopang perkembangan sektor kebudayaan lain. Maka sulitlah kita mencari terjemahan lunar module feasibility study, after-shave lotion, drive-in, pant-suit, technical know-how, backhand drive, smash, slow motion, enterpeneur, boom, longplay, crash program, buffet dinner, double-breast, dll., karena pengertian-pengertian itu tak berasal dari perbendaharaan kultural kita. Walau begitu, ikhtiar mencari salinan Indonesia yang tepat dan enak (misalnya bell-bottom dengan ”cutbrai”) tetap perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menghindari sejauh mungkin akronim. Setiap bahasa mempunyai akronim, tapi agaknya sejak 15 tahun terakhir, pers berbahasa Indonesia bertambah-tambah gemar mempergunakan akronim, hingga sampai hal-hal yang kurang perlu. Akronim mempunyai manfaat: menyingkat ucapan dan penulisan dengan cara yang mudah diingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Indonesia, yang kata-katanya jarang bersukukata tunggal dan yang rata-rata dituliskan dengan banyak huruf, kecenderungan membentuk akronim memang lumrah. ”Hankam”, ”Bappenas”, ”Daswati”, ”Humas” memang lebih ringkas dari ”Pertahanan &amp; Keamanan” ”Badan Perencanaan Pembangunan Nasional”, ”Daerah Swantantra Tingkat” dan ”Hubungan Masyarakat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kiranya akan teramat membingungkan kalau kita seenaknya saja membikin akronim sendiri dan terlalu sering. Di samping itu, perlu diingat: ada yang membuat akronim untuk alasan praktis dalam dinas (misalnya yang dilakukan kalangan ketentaraan), ada yang membuat akronim untuk bergurau, mengejek dan mencoba lucu (misalnya di&lt;br /&gt;kalangan remaja sehari-hari: ”ortu” untuk ”orangtua”; atau di pojok koran: ”keruk nasi” untuk ”kerukunan nasional”) tapi ada pula yang membuat akronim untuk menciptakan efek propaganda dalam permusuhan politik (misalnya ”Manikebu” untuk ”Manifes Kebudayaan”, ”Nekolim” untuk ”neo-kolonialisme”. ”Cinkom” untuk ”Cina Komunis”, ”ASU” untuk ”Ali Surachman”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa jurnalistik, dari sikap objektif, seharusnya menghindarkan akronim jenis terakhir itu. Juga akronim bahasa pojok sebaiknya dihindarkan dari bahasa pemberitaan, misalnya ”Djagung” untuk ”Djaksa Agung”, ”Gepeng” untuk ”Gerakan Penghematan”, ‘’sas-sus” untuk ”desas-desus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak bermaksud memberikan batas yang tegas akronim mana saja yang bisa dipakai dalam bahasa pemberitaan atau tulisan dan mana yang tidak. Saya hanya ingin mengingatkan: akronim akhirnya bisa mengaburkan pengertian kata-kata yang diakronimkan, hingga baik yang mempergunakan ataupun yang membaca dan yang mendengarnya bisa terlupa akan isi semula suatu akronim. Misalnya akronim ”Gepeng”&lt;br /&gt;jika terus-menerus dipakai bisa menyebabkan kita lupa makna ”gerakan” dan ”penghematan” yang terkandung dalam maksud semula, begitu pula akronim ”ASU”.&lt;br /&gt;Kita makin lama makin alpa buat apa merenungkan kembali makna semula sebelum kata-kata itu diakronimkan. Sikap analitis dan kritis kita bisa hilang terhadap kata berbentuk akronim itu, dan itulah sebabnya akronim sering dihubungkan dengan bahasa pemerintahan totaliter dan sangat penting dalam bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejelasan Unsur Kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi seperti halnya dalam asas penghematan, asas kejelasan juga lebih efektif jika dilakukan dalam struktur kalimat. Satu-satunya untuk itu ialah dihindarkannya kalimat-kalimat majemuk yang paling panjang anak kalimatnya; terlebih-lebih lagi, jika kalimat majemuk itu kemudian bercucu kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya setiap kalimat yang amat panjang, lebih dari 15-20 kata, bisa mengaburkan hal yang lebih pokok, apalagi dalam bahasa jurnalistik. Itulah sebabnya penulisan lead (awal) berita sebaiknya dibatasi hingga 13 kata. Bila lebih panjang dari itu, pembaca bisa kehilangan jejak persoalan. Apalagi bila dalam satu kalimat terlalu banyak data yang dijejalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Harian Kami”, 4 Desember 1971:&lt;br /&gt;”Sehubungan dengan berita ‘Harian Kami’ tanggal 25 November 1971&lt;br /&gt;hari Kamis berjudul: ‘Tanah Kompleks IAIN Ciputat dijadikan Objek&lt;br /&gt;Manipulasi’ (berdasarkan keterangan pers dari Hamdi Ajusa, Ketua&lt;br /&gt;Dewan Mahasiswa IAIN Djakarta) maka pada tanggal 28 November jbl. di&lt;br /&gt;Kampus IAIN tersebut telah diadakan pertemuan antara pihak Staf&lt;br /&gt;JPMII (Jajasan Pembangunan Madrasah Islam &amp; Ihsan - Perwakilan&lt;br /&gt;Ciputat) dengan Hamdi Ajusa mewakili DM IAIN dengan maksud untuk&lt;br /&gt;mengadakan ‘clearing’ terhadap berita itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu terdiri dari 60 kata lebih. Sebagai pembaca, saya&lt;br /&gt;memerlukan dua kali membacanya untuk memahami yang ingin dinyatakan&lt;br /&gt;sang wartawan. Pada pembacaan pertama, saya kehilangan jejak perkara&lt;br /&gt;yang disajikan di hadapan saya. Ini artinya suatu komunikasi cepat&lt;br /&gt;tak tercapai. Lebih ruwet lagi soalnya jika bukan saja pembaca yang&lt;br /&gt;kehilangan jejak dengan dipergunakannya kalimat-kalimat panjang,&lt;br /&gt;tapi juga si penulis sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pedoman, 4 Desember 1971:&lt;br /&gt;”Selama tour tersebut sambutan masyarakat setempat di mana mereka&lt;br /&gt;mengadakan pertunjukan mendapat sambutan hangat.”&lt;br /&gt;Perhatikan: Penulis kehilangan subjek semula kalimatnya sendiri,&lt;br /&gt;yakni sambutan masyarakat setempat. Akibatnya kalimat itu&lt;br /&gt;berarti, ”yang mendapat sambutan hangat ialah sambutan masyarakat&lt;br /&gt;setempat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar Harapan, 22 November 1971:&lt;br /&gt;”Di kampung-kampung kelihatan lebaran lebih bersemarak, ketupat&lt;br /&gt;beserta sayur dan sedikit daging semur, opor ayam ikut berlebaran.&lt;br /&gt;Dari rumah yang satu ke rumah yang lain, ketupat-ketupat tersebut&lt;br /&gt;saling mengunjungi dan di langgar-langgar, surau-surau ramai pula&lt;br /&gt;ketupat-ketupat, daging semur, opor ayam disantap bersama oleh&lt;br /&gt;mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan: Siapa yang dimaksud dengan kata ganti mereka dalam&lt;br /&gt;kalimat itu? Si penulis nampaknya lupa bahwa ia sebelumnya tak&lt;br /&gt;pernah menyebut ”orang-orang kampung”. Mengingat dekat sebelum itu&lt;br /&gt;ada kalimat ketupat-ketupat tersebut saling mengunjungi dan kalimat&lt;br /&gt;surau-surau ramai pula ketupat-ketupat, kalimat panjang itu bisa&lt;br /&gt;berarti aneh dan lucu: ”daging semur, opor ayam disantap bersama&lt;br /&gt;oleh ketupat-ketupat. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-6995322689439099478?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/6995322689439099478/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=6995322689439099478' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6995322689439099478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6995322689439099478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/06/bahasa-jurnalistik-indonesia.html' title='Bahasa Jurnalistik Indonesia'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-3865903539222845072</id><published>2008-06-27T04:35:00.001-07:00</published><updated>2008-06-27T04:37:20.866-07:00</updated><title type='text'>Terjebak Antara Pengarang dan Penulis</title><content type='html'>Oleh: Faisal Kamandobat  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APA perbedaan pengarang (author) dan penulis (writer)? Pertanyaan sederhana yang tidak mudah dijawab, apalagi bila disusul beberapa pertanyaan berikut: bagaimana membedakannya? Apa ukuran yang kita gunakan? Kenapa dibedakan?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menjawab pertanyaan di atas, kita perlu mengetahui persamaan pengarang dan penulis. Kerja keduanya sama-sama berhubungan dengan bahasa. Bahasa dalam pengertian paling luas dan mendasar: formula yang membentuk kesadaran (bahkan ketidaksadaran, menurut psikoanalisis) dan pandangan hidup manusia. Seandainya terdapat seorang pengarang atau penulis mengaku mampu bekerja tanpa bahasa, orang tersebut bisa dibilang sedang berdusta. Ibu guru memberi pelajaran mengarang, murid-muridnya menulis cerita. Pak guru memberi tugas menulis karya ilmiah, para siswa menulis laporan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengarang sering diasosiasikan dengan karya sastra yang fiksional, sedangkan menulis dengan ilmu yang sifatnya faktual: seakan-akan mengarang sastra tidak memerlukan studi ilmiah, dan menulis karya ilmiah tidak memerlukan bahasa imajinasi yang fiksional.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan bentuk, tetapi fungsi Kita akan tahu asumsi tersebut keliru. Terbukti dengan adanya karya ilmiah yang ditulis dengan bahasa literer atau kental unsur sastranya. Filsuf, ekonom, dan ilmuwan politik Karl Marx menulis karyanya dengan bahasa yang literer, penuh simbol dan metafora, contohnya dalam Capital. Demikian pula Darwin yang terkenal dengan bukunya, The Origin of Species.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, terdapat banyak karya sastra yang penuh muatan ilmiah, dan mengolah fakta-fakta dengan metodologi tertentu. Umberto Eco misalnya, secara konsisten menggunakan logika abduksi sebagai metode dalam novelnya, The Name of the Rose. Demikian pula Jorge Luis Borges yang menggunakan labirin sebagai konsep (bahkan semacam metode) untuk membahas matematika dan metafisika dalam prosa-prosanya, khususnya Tlon, Uqbar, Orbis Tertius, dan Perpustakaan Babel.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, asumsi tersebut keliru karena adanya kesalahan dalam menentukan kategori. Seseorang disebut pengarang bukan karena sifat karyanya literer-fiksional, dan disebut penulis bukan karena sifat karyanya ilmiah dan faktual (barang siapa tetap menggunakan kategori ini untuk membedakan pengarang dan penulis, jalan pikiran orang tersebut pasti akan tersesat). Yang membedakan keduanya bukan bentuk bahasa, melainkan fungsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi bahasa bagi pengarang adalah untuk mencipta wacana, sementara bagi penulis untuk menyampaikan pesan. Marx, Darwin, Eco, dan Borges adalah pengarang, karena karya mereka melahirkan wacana. Sementara banyak karya sastra dan ilmiah yang tidak melahirkan wacana, dengan alasan yang berlainan; entah bahasanya kurang kuat, penalarannya kurang akurat, atau sekadar mengulang karya sebelumnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengarang niscaya menempatkan bahasa sebagai basis dari gagasannya, melampaui fungsi instrumentalnya sebagai media komunikasi. Gagasan seorang pengarang memberi bobot baru terhadap bahasa, sehingga mampu mengubah struktur kesadaran, pandangan hidup, dan landasan baru dalam memandang dunia. Adapun penulis menjadikan bahasa semata sebagai instrumen untuk menyampaikan pesan agar para pembacanya memahami makna yang disampaikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh yang mendasar Apa yang membuat sebuah karya sastra dan ilmiah menjadi wacana sehingga penciptanya layak disebut pengarang? Pertanyaan itu juga tidak mudah dijawab, karena banyaknya ukuran yang bisa digunakan, dan jangan-jangan kita akan salah lagi (dan lagi) dalam menentukan kategori. Tulisan ini kembali berusaha menjawabnya, dan jika jawaban itu ternyata kelak bisa dibuktikan salah, maka itu berarti kita telah menawarkan sepercik gagasan kepada pembaca, dan oleh sebab itu bolehlah disebut sebagai “wacana”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah karya ilmiah bisa menjadi wacana karena di dalamnya terdapat tiga hal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ide kreatif yang didukung dasar filosofi yang kuat. Marx bisa dikatakan adalah orang pertama yang mengemukakan hukum ekonomi sebagai hukum yang menentukan perkembangan masyarakat dan sejarah. Kebudayaan (seperti agama, negara, dan institusi sosial lainnya), dicipta semata agar manusia dapat mengatur kebutuhan ekonominya. Melalui budaya, agama, dan negara, manusia mendistribusikan kebutuhan ekonominya, bukan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, gagasannya memiliki pengaruh melampaui disiplinnya, bahkan pandangan hidup secara keseluruhan. Sebelum Darwin, Lamarck telah menggunakan teori evolusi untuk menjelaskan asal-usul manusia, tetapi Darwin-lah yang membuat teori evolusi berpengaruh melampaui disiplin biologi, seperti pandangan yang ditawarkan kitab suci serta dunia mitos. Lebih luas lagi gagasan Marx yang mengubah pandangan manusia tak semata secara teoretis, tetapi juga praksis. Kita tahu, di abad lalu komunisme menguasai sepertiga dunia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pemikirannya dapat dibuktikan kebenarannya. Darwin melahirkan teori evolusi dengan melakukan observasi terhadap serangkaian fakta-fakta ilmiah, demikian pula Marx dengan teori ekonominya. Gagasan mereka bukan spekulasi penalaran belaka, melainkan didukung bukti-bukti empiris. Tanpa itu, gagasan mereka akan rapuh, persis seperti mitos-mitos yang ditentangnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra tak jauh beda Bila karya ilmuwan menjadi wacana melalui tiga hal di atas, karya sastra tidak jauh beda. Membaca novel Eco, The Name of The Rose, kita akan mendapati ide yang didukung basis filosofis yang kuat, salah satunya bobot relevatif (kewahyuan) filsafat Aristoteles. Sebelum Eco mungkin sudah ada yang mengatakannya, tetapi Eco melakukannya secara lebih konstruktif dengan cara menghubungkan ide tersebut dengan berbagai ide yang menentang dan yang mendukungnya, termasuk filsafat Abad Pertengahan yang terkungkung teologi apokalipsis. Demikian pula Borges, yang secara konstruktif memberi bobot filosofis terhadap labirin, dan melalui itu ia mencipta model berpikir tertentu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Eco dan Borges juga berpengaruh hingga di luar disiplinnya. Novel Eco tak hanya mengubah pandangan manusia terhadap novel, tetapi juga terhadap agama dan filsafat Abad Pertengahan. Demikian pula Borges, karyanya berpengaruh secara generik terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan. Eco sendiri, bahkan Michael Foucault, adalah filsuf dan ilmuwan yang menimba ilham dari prosa-prosa Borges.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa gagasan dalam karya sastra dapat dibuktikan secara ilmiah? Tak terhitung karya sastra yang penuh muatan ilmiah, karena sastrawan lazim menggunakan disiplin tertentu dalam menciptakan karyanya. Namun, bukan di situ posisi unik sastra dalam hubungannya dengan ilmu. Bila Marx dan Darwin mengajukan pertanyaan filosofis dan menyelesaikannya secara ilmiah, sastra membaca kesimpulan ilmiah melalui serangkaian pertanyaan imajinatif sehingga dari sana terbuka wilayah baru bagi spekulasi para filsuf dan ilmuwan, persis seperti pengaruh Borges dan Eco terhadap khazanah humaniora kontemporer.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga memiliki karya-karya ilmiah dan sastrawi yang sebetulnya memiliki karakteristik seperti karya-karya mereka yang “pengarang” dan bukan sekadar “penulis”. Pemikiran Tan Malaka, sajak-sajak Chairil Anwar, dan prosa-prosa Iwan Simatupang di antaranya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa karya mereka tidak punya pengaruh mendasar di luar disiplinnya? Jawabannya, karena mereka adalah orang- orang cemerlang yang hidup di tengah bangsa dengan tradisi pengetahuan yang buruk (kita berharap jawaban ini salah). Bangsa yang belum memiliki tradisi pengetahuan yang kuat membutuhkan banyak “pengarang”, bukan sekadar “penulis”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bukti karya ilmiah, filsafat, dan sastra yang melahirkan wacana adalah ketika ia menjadi tonggak dalam disiplinnya. Misalnya dalam membahas kapitalisme (baik ekonomi, politik, maupun budayanya) kita tidak bisa lepas dari landasan yang diberikan Marx. Begitu pula mengenai asal-usul manusia sulit lepas dari Darwin. Novel Eco tidak bisa dilewati ketika kita membahas dunia Abad Pertengahan, juga Borges dalam kaitannya dengan sastra filsafi dan fantasi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah, karya mereka memiliki otoritas terhadap wacana. Chairil Anwar memiliki otoritas terhadap puisi Indonesia modern. Sulit bicara puisi Indonesia modern tanpa Chairil Anwar. Demikian pula Tan Malaka dan Iwan Simatupang dalam filsafat dan prosa di negeri ini. Nama-nama mereka—termasuk tentu saja Marx, Darwin, Eco, dan Borges—sering disebut bukan sekadar nama melainkan semacam “istilah” yang merujuk pada gagasan tertentu yang pengaruhnya luas. Itu membuktikan mereka adalah pengarang (author), mempunyai “otoritas” terhadap wacana, dan bukan sekadar penulis (writer) yang menyampaikan sebuah “pesan”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kita inginkan, pengarang atau penulis? Kita tak bisa menjawabnya kecuali dengan berdusta. Karena, secara etos mereka yang penulis lebih elegan bila bekerja layaknya pengarang, sedangkan secara etis mereka yang pengarang lebih elegan bila tetap memandang dirinya sekadar penulis. Sejauh ditempatkan pada konteks etis dan etos itulah polemik seputar “kematian pengarang” (the death of author) yang diusung Roland Barthes dan ramai didiskusikan beberapa tahun silam di sini relevan untuk direnung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faisal Kamandobat: Penyair, Eksponen Bale Sastra Kecapi Yogyakarta&lt;br /&gt;Rubrik Humaniora Kompas Sabtu 24 Maret 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-3865903539222845072?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/3865903539222845072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=3865903539222845072' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3865903539222845072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3865903539222845072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/06/terjebak-antara-pengarang-dan-penulis.html' title='Terjebak Antara Pengarang dan Penulis'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-6971103153639742151</id><published>2008-05-16T04:04:00.000-07:00</published><updated>2008-05-16T04:06:39.831-07:00</updated><title type='text'>Tujuh Kriteria Sumber Anonim</title><content type='html'>PANTAU punya tujuh kriteria untuk sumber-sumber anonim. Kesemuanya dibahas agak panjang lebar dalam buku Warp Speed (1999) pada bab "The Rise of Anonymous Sourcing" (h. 33-42) karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, ketika mereka membahas pemakaian sumber anonim pada kasus Monica Lewinsky. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, kita harus ingat bahwa sumber yang anonim tak memberi kesempatan pada audiens kita (pemirsa, pembaca, pendengar) untuk menentukan seberapa besar derajat kepercayaan mereka pada sumber bersangkutan. Ini praktek yang harus kita hindari karena kita harus bisa memberikan kesempatan kepada pembaca kita untuk menentukan sendiri; seberapa besar ia mau percaya pada suatu keterangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sumber anonim juga punya kecenderungan untuk lebih kurang bertanggungjawab ketimbang sumber yang sama tapi identitasnya disajikan dengan lengkap. Sumber anonim cenderung lebih sering "bernyanyi" --kedengarannya merdu, sensasional, tapi esensinya lebih kecil dari nyanyian. &lt;br /&gt;Kita harus ekstra hati-hati dengan sumber yang minta diberi status anonim. Frase yang sering dipakai wartawan Indonesia, "menurut sebuah sumber yang layak dipercaya" --meminjam gurauan satiris kita Hamid Basyaib-- harusnya bisa kita artikan sebagai "sumber yang layak ditempeleng." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi berpeganglah pada tujuh kriteria sumber anonim ala Kovach dan Rosenstiel. Seseorang bisa diberi status anonim bila ia memenuhi ketujuh syarat sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sumber tersebut berada pada lingkaran pertama "peristiwa berita" yang kita laporkan. Artinya, dia menyaksikan sendiri, atau terlibat langsung, dalam peristiwa tersebut. Dia bisa merupakan pelaku, korban atau saksi mata, tapi dia bukanlah orang yang mendengar dari orang lain. Dia bukan pihak ketiga yang melakukan analisis terhadap peristiwa itu. Dia bukan berada pada lingkaran kedua, ketiga, dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Keselamatan sumber tersebut terancam bila identitasnya kita buka. Unsur "keselamatan" itu secara masuk akal bisa diterima akal sehat audiens kita. Artinya, entah nyawanya yang benar-benar terancam atau nyawa anggota keluarga langsungnya yang terancam (anak, istri, suami, orang tua, saudara kandung). Kalau sekedar "hubungan sosial" yang terancam, misalnya pertemanan, maka ia tak termasuk faktor "keselamatan." Kalau sekedar "kelangsungan pekerjaan" yang terancam, masih harus diperdebatkan lagi, apakah benar dia akan kehilangan pekerjaan, dan apakah dia akan sulit mendapat pekerjaan baru? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Motivasi sumber anonim memberikan informasi murni untuk kepentingan publik. Kita harus mengukur apa motivasi si sumber memberikan informasi. Banyak kasus di mana si sumber memberikan informasi dan minta status anonim untuk menghantam lawan atau orang yang tak disukainya. Banyak juga kasus di mana informasi anonim diberikan karena hal itu menguntungkan si sumber tapi ia mau sembunyi tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Integritas sumber harus Anda perhatikan. Orang yang sering mengarang cerita atau terbukti pernah berbohong atau pernah menyalahgunakan status sumber anonim, tentu saja, jangan diberi kesempatan jadi sumber anonim Anda lagi. Periksalah integritas sumber Anda. Biasanya makin tinggi jabatan seseorang, makin sulit mempertahankan integritas dirinya, sehingga Anda harus makin hati-hati dengan status anonim. Kami praktis punya satu daftar hitam para pejabat atau mantan pejabat Indonesia yang tak boleh kita beri status anonim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Harus seizin atasan Anda. Pemberian sumber anonim harus dilakukan dengan sepengetahuan dan seizin atasan Anda. Bagaimana pun juga, editor Anda yang harus bertanggungjawab kalau ada gugatan terhadap kinerja jurnalistik kita. Ini prinsip dalam pekerjaan jurnalisme. Editor punya hak veto terhadap suatu berita tapi si editor pula yang harus masuk penjara atau membayar denda bila kalah di pengadilan. Lebih baik kita berdebat duluan ketimbang ribut belakangan gara-gara suatu berita anonim digugat orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ingat aturan Ben Bradlee. Bradlee adalah redaktur eksekutif harian The Washington Post zaman skandal Watergate. Bradlee pernah mengeluarkan sebuah aturan yang terkenal tentang pemakaian sumber anonim. Dia hanya mau meloloskan sebuah keterangan anonim kalau sumbernya minimal dua orang. Dalam film "All the President's Men," Anda akan mengenali adegan di mana Bradlee minta reporter Bob Woodward agar sumber anonimnya ditambah --untuk melakukan verifikasi terhadap informasi yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Bill Kovach sendiri menambahkan satu syarat lagi. Kita harus membuat sangat jelas dengan calon sumber anonim kita bahwa perjanjian keanoniman akan batal dan nama mereka akan kita buka ke hadapan publik, bila kelak terbukti si sumber berbohong atau sengaja menyesatkan kita dengan informasinya. Ini perjanjian yang berat karena konsekuensinya bermacam-macam tapi kita harus menjelaskan pada sumber persyaratan ini. &lt;br /&gt;Kami mohon tujuh syarat ini kita perhatikan sebaik-baiknya. Kita tak punya uang untuk membayar pengacara atau denda. Pantau adalah media kecil. Bahkan untuk membayar gaji pun, kita tampaknya akan harus berusaha dan berpikir keras setiap bulan. Satu-satunya cara untuk menghindar dari keluarnya biaya besar ini adalah menjalankan prosedur jurnalisme dengan disiplin tinggi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sumber juga tak tahu bahwa sumber anonim memiliki syarat-syarat. Kami harap Anda mau meluangkan waktu untuk menerangkan tujuh kriteria ini pada orang yang menghendaki status anonim. Dari pengalaman kami, setelah diterangkan panjang lebar, biasanya si sumber mengerti dan mau memberikan informasi dengan identitas lengkap (nama dan atribut). Mungkin informasinya tak spektakular tapi setidaknya ia bertanggungjawab terhadap informasi yang diberikannya.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-6971103153639742151?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/6971103153639742151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=6971103153639742151' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6971103153639742151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6971103153639742151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/05/tujuh-kriteria-sumber-anonim.html' title='Tujuh Kriteria Sumber Anonim'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-3665551267032816542</id><published>2008-05-13T02:13:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T02:17:02.320-07:00</updated><title type='text'>Sembilan Elemen Jurnalisme</title><content type='html'>ANDREAS HARSONO &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Elements of Journalism: &lt;br /&gt;What Newspeople Should Know and the Public Should Expect &lt;br /&gt;Oleh Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (April 2001) 205 halaman &lt;br /&gt;Crown $20.00 (Hardcover) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HATI nurani jurnalisme Amerika ada pada Bill Kovach. Ini ungkapan yang sering dipakai orang bila bicara soal Kovach. Thomas E. Patterson dari Universitas Harvard mengatakan, Kovach punya "karir panjang dan terhormat" sebagai wartawan. Goenawan Mohamad, redaktur pendiri majalah Tempo, merasa sulit “mencari kesalahan” Kovach. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan yang nyaris tanpa cacat itulah yang menulis buku The Elements of Journalism bersama rekannya Tom Rosenstiel. Kovach memulai karirnya sebagai wartawan pada 1959 di sebuah suratkabar kecil sebelum bergabung dengan The New York Times, salah satu suratkabar terbaik di Amerika Serikat, dan membangun karirnya selama 18 tahun di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach mundur ketika ditawari jadi pemimpin redaksi harian Atlanta Journal-Constitution. Di bawah kepemimpinannya, harian ini berubah jadi suratkabar yang bermutu. Hanya dalam dua tahun, Kovach membuat harian ini mendapatkan dua Pulitzer Prize, penghargaan bergengsi dalam jurnalisme Amerika. Total dalam karirnya, Kovach menugaskan dan menyunting lima laporan yang mendapatkan Pulitzer Prize. Pada 1989-2000 Kovach jadi kurator Nieman Foundation for Journalism di Universitas Harvard yang tujuannya meningkatkan mutu jurnalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Tom Rosentiel adalah mantan wartawan harian The Los Angeles Times spesialis media dan jurnalisme. Kini sehari-harinya Rosenstiel menjalankan Committee of Concerned Journalists –sebuah organisasi di Washington D.C. yang kerjanya melakukan riset dan diskusi tentang media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini Bill Kovach dan Tom Rosenstiel merumuskan sembilan elemen jurnalisme. Kesimpulan ini didapat setelah Committee of Concerned Journalists mengadakan banyak diskusi dan wawancara yang melibatkan 1.200 wartawan dalam periode tiga tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sembilan elemen ini sama kedudukannya. Tapi Kovach dan Rosenstiel menempatkan elemen jurnalisme yang pertama adalah kebenaran, yang ironisnya, paling membingungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran yang mana? Bukankan kebenaran bisa dipandang dari kacamata yang berbeda-beda? Tiap-tiap agama, ideologi atau filsafat punya dasar pemikiran tentang kebenaran yang belum tentu persis sama satu dengan yang lain. Sejarah pun sering direvisi. Kebenaran menurut siapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan bias seorang wartawan? Tidakkah bias pandangan seorang wartawan, karena latar belakang sosial, pendidikan, kewarganegaraan, kelompok etnik, atau agamanya, bisa membuat si wartawan menghasilkan penafsiran akan kebenaran yang berbeda-beda? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach dan Rosenstiel menerangkan bahwa masyarakat butuh prosedur dan proses guna mendapatkan apa yang disebut kebenaran fungsional. Polisi melacak dan menangkap tersangka berdasarkan kebenaran fungsional. Hakim menjalankan peradilan juga berdasarkan kebenaran fungsional. Pabrik-pabrik diatur, pajak dikumpulkan, dan hukum dibuat. Guru-guru mengajarkan sejarah, fisika, atau biologi, pada anak-anak sekolah. Semua ini adalah kebenaran fungsional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang dianggap kebenaran ini senantiasa bisa direvisi. Seorang terdakwa bisa dibebaskan karena tak terbukti salah. Hakim bisa keliru. Pelajaran sejarah, fisika, biologi, bisa salah. Bahkan hukum-hukum ilmu alam pun bisa direvisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pula yang dilakukan jurnalisme. Bukan kebenaran dalam tataran filosofis. Tapi kebenaran dalam tataran fungsional. Orang butuh informasi lalu lintas agar bisa mengambil rute yang lancar. Orang butuh informasi harga, kurs mata uang, ramalan cuaca, hasil pertandingan bola dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu kebenaran yang diberitakan media dibentuk lapisan demi lapisan. Kovach dan Rosenstiel mengambil contoh tabrakan lalu lintas. Hari pertama seorang wartawan memberitakan kecelakaan itu. Di mana, jam berapa, jenis kendaraannya apa, nomor polisi berapa, korbannya bagaimana. Hari kedua berita itu mungkin ditanggapi oleh pihak lain. Mungkin polisi, mungkin keluarga korban. Mungkin ada koreksi. Maka pada hari ketiga, koreksi itulah yang diberitakan. Ini juga bertambah ketika ada pembaca mengirim surat pembaca, atau ada tanggapan lewat kolom opini. Demikian seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kebenaran dibentuk hari demi hari, lapisan demi lapisan. Ibaratnya stalagmit, tetes demi tetes kebenaran itu membentuk stalagmit yang besar. Makan waktu, prosesnya lama. Tapi dari kebenaran sehari-hari ini pula terbentuk bangunan kebenaran yang lebih lengkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi beruntung mengenal Kovach ketika saya mendapat kesempatan ikut program Nieman Fellowship pada 1999-2000 di mana Kovach jadi kuratornya. Di sana Kovach melatih wartawan-wartawan dari berbagai belahan dunia untuk lebih memahami pilihan-pilihan mereka dalam jurnalisme. Tekanannya jelas: memilih kebenaran! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mengetahui mana yang benar dan mana yang salah saja tak cukup. Kovach dan Rosenstiel menerangkan elemen kedua dengan bertanya, “Kepada siapa wartawan harus menempatkan loyalitasnya? Pada perusahaannya? Pada pembacanya? Atau pada masyarakat?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu penting karena sejak 1980-an banyak wartawan Amerika yang berubah jadi orang bisnis. Sebuah survei menemukan separuh wartawan Amerika menghabiskan setidaknya sepertiga waktu mereka buat urusan manajemen ketimbang jurnalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memprihatinkan karena wartawan punya tanggungjawab sosial yang tak jarang bisa melangkahi kepentingan perusahaan di mana mereka bekerja. Walau pun demikian, dan di sini uniknya, tanggungjawab itu sekaligus adalah sumber dari keberhasilan perusahaan mereka. Perusahaan media yang mendahulukan kepentingan masyarakat justru lebih menguntungkan ketimbang yang hanya mementingkan bisnisnya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari melihat dua contoh. Pada 1893 seorang pengusaha membeli harian The New York Times. Adolph Ochs percaya bahwa penduduk New York capek dan tak puas dengan suratkabar-suratkabar kuning yang kebanyakan isinya sensasional. Ochs hendak menyajikan suratkabar yang serius, mengutamakan kepentingan publik dan menulis, “… to give the news impartiality, without fear or favor, regardless of party, sect or interests involved.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 1933 Eugene Meyer membeli harian The Washington Post dan menyatakan di halaman suratkabar itu, “Dalam rangka menyajikan kebenaran, suratkabar ini kalau perlu akan mengorbankan keuntungan materialnya, jika tindakan itu diperlukan demi kepentingan masyarakat.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsip Ochs dan Meyer terbukti benar. Dua harian itu menjadi institusi publik yang prestisius sekaligus bisnis yang menguntungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach dan Rosenstiel khawatir banyaknya wartawan yang mengurusi bisnis bisa mengaburkan misi media dalam melayani kepentingan masyarakat. Bisnis media beda dengan bisnis kebanyakan. Dalam bisnis media ada sebuah segitiga. Sisi pertama adalah pembaca, pemirsa, atau pendengar. Sisi kedua adalah pemasang iklan. Sisi ketiga adalah masyarakat (citizens). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kebanyakan bisnis, dalam bisnis media, pemirsa, pendengar, atau pembaca bukanlah pelanggan (customer). Kebanyakan media, termasuk televisi, radio, maupun dotcom, memberikan berita secara gratis. Orang tak membayar untuk menonton televisi, membaca internet, atau mendengarkan radio. Bahkan dalam bisnis suratkabar pun, kebanyakan pembaca hanya membayar sebagian kecil dari ongkos produksi. Ada subsidi buat pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adanya kepercayaan publik inilah yang kemudian “dipinjamkan” perusahaan media kepada para pemasang iklan. Dalam hal ini pemasang iklan memang pelanggan. Tapi hubungan ini seyogyanya tak merusak hubungan yang unik antara media dengan pembaca, pemirsa, dan pendengarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach dan Rosenstiel prihatin karena banyak media Amerika mengkaitkan besarnya bonus atau pendapatan redaktur mereka dengan besarnya keuntungan yang diperoleh perusahaan bersangkutan. Sebuah survei menemukan, 71 persen redaktur Amerika menerapkan sebuah gaya manajemen yang biasa disebut management by objections. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model ini ditemukan oleh guru manajemen Peter F. Drucker. Idenya sederhana sebenarnya. Para manajer diminta menentukan target sekaligus imbalan bila mereka berhasil mencapainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manajemen model ini, menurut Kovach dan Rosenstiel, bisa mengaburkan tanggungjawab sosial para redaktur. Mengkaitkan pendapatan seorang redaktur dengan penjualan iklan atau keuntungan perusahaan sangat mungkin untuk mengingkari prinsip loyalitas si redaktur terhadap masyarakat. Loyalitas mereka bisa bergeser pada peningkatan keuntungan perusahaan karena dari sana pula mereka mendapatkan bonus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BANYAK wartawan mengatakan The Elements of Journalism perlu untuk dipelajari orang media. Suthichai Yoon, redaktur pendiri harian The Nation di Bangkok, menulis bahwa renungan dua wartawan “yang sudah mengalami pencerahan” ini perlu dibaca wartawan Thai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Made Suarjana dari tim pendidikan majalah Gatra mengatakan pada saya bahwa Gatra sedang menterjemahkan buku ini buat keperluan internal mereka, “Buku ini kita pandang mengembalikan pada basic jurnalisme,” kata Suarjana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bagian penting buku ini adalah penjelasan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel tentang elemen ketiga. Mereka mengatakan esensi dari jurnalisme adalah disiplin dalam melakukan verifikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiplin mampu membuat wartawan menyaring desas-desus, gosip, ingatan yang keliru, manipulasi, guna mendapatkan informasi yang akurat. Disiplin verifikasi inilah yang membedakan jurnalisme dengan hiburan, propaganda, fiksi atau seni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpendapat, “saudara sepupu” hiburan yang disebut infotainment (dari kata information dan entertainment) harus dimengerti wartawan agar tahu mana batas-batasnya. Infotainment hanya terfokus pada apa-apa yang menarik perhatian pemirsa dan pendengar. Jurnalisme meliput kepentingan masyarakat yang bisa menghibur tapi juga bisa tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batas antara fiksi dan jurnalisme memang harus jelas. Jurnalisme tak bisa dicampuri dengan fiksi setitik pun. Kovach dan Rosenstiel mengambil contoh pengalaman Mike Wallace dari CBS yang difilmkan dalam The Insider. Film ini bercerita tentang keengganan jaringan televisi CBS menayangkan sebuah laporan tentang bagaimana industri rokok Amerika memakai zat kimia tertentu buat meningkatkan kecanduan perokok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu sebuah fakta. Namun Wallace keberatan karena ada kata-kata yang diciptakan dan seolah-olah diucapkan Wallace. Sutradara Michael Mann mengatakan film itu “pada dasarnya akurat” karena Wallace memang takluk pada tekanan pabrik rokok. Jika kata-kata diciptakan atau motivasi Wallace berbeda antara keadaan nyata dan dalam film, Mann berpendapat itu bisa diterima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach dan Rosenstiel mengatakan dalam kasus itu keterpaduan (utility) jadi nilai tertinggi ketimbang kebenaran harafiah. Fakta disubordinasikan kepada kepentingan fiksi. Mann membuat film itu dengan tambahan drama agar menarik perhatian penonton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas bagaimana dengan beragamnya standar jurnalisme? Tidakkah disiplin tiap wartawan dalam melakukan verifikasi bersifat personal? Kovach dan Ronsenstiel menerangkan memang tak setiap wartawan punya pemahaman yang sama. Tidak setiap wartawan tahu standar minimal verifikasi. Susahnya, karena tak dikomunikasikan dengan baik, hal ini sering menimbulkan ketidaktahuan pada banyak orang karena disiplin dalam jurnalisme ini sering terkait dengan apa yang biasa disebut sebagai objektifitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang sering bertanya apa objektifitas dalam jurnalisme itu? Apakah wartawan bisa objektif? Bagaimana dengan wartawan yang punya latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, kewarganegaraan, etnik, agama dan pengalaman pribadi yang nilai-nilainya berbeda dengan nilai dari peristiwa yang diliputnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach dan Rosenstiel menjelaskan, pada abad XIX tak mengenal konsep objektifitas itu. Wartawan zaman itu lebih sering memakai apa yang disebut sebagai realisme. Mereka percaya bila seorang reporter menggali fakta-fakta dan menyajikannya begitu saja maka kebenaran bakal muncul dengan sendirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide tentang realisme ini muncul bersamaan dengan terciptanya struktur karangan yang disebut sebagai piramida terbalik di mana fakta yang paling penting diletakkan pada awal laporan, demikian seterusnya, hingga yang paling kurang penting. Mereka berpendapat struktur itu membuat pembaca memahami berita secara alamiah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada awal abad XX beberapa wartawan khawatir dengan naifnya realisme ini. Pada 1919 Walter Lippmann dan Charles Merz, dua wartawan terkemuka New York, menulis sebuah analisis tentang bagaimana latar belakang kultural The New York Times menimbulkan distorsi pada liputannya tentang revolusi Rusia. The New York Times lebih melaporkan tentang apa yang diharapkan pembaca ketimbang melaporkan apa yang terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lippmann menekankan, jurnalisme tak cukup hanya dilaporkan oleh “saksi mata yang tak terlatih.” Niat baik atau usaha yang jujur juga tak cukup. Lippmann mengatakan inovasi baru pada zaman itu, misalnya bylines atau kolumnis, juga tidak cukup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bylines diciptakan agar nama setiap reporter diketahui publik yang bakal mendorong si reporter bekerja lebih baik karena namanya terpampang jelas. Kolumnis adalah wartawan atau penulis senior yang tugasnya menerangkan suatu peristiwa dengan konteks yang lebih luas yang mungkin tak bisa dilaporkan reporter yang sibuk bekerja di lapangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusinya, menurut Lippmann, wartawan harus menguasai semangat ilmu pengetahuan, “There is but one kind of unity possible in a world as diverse as ours. It is unity of method, rather than aim; the unity of disciplined experiement (Ada satu hal yang bisa disatukan dalam kehidupan yang berbeda-beda ini. Hal itu adalah keseragaman dalam mengembangkan metode, ketimbang sebagai tujuan; seragamnya metode yang ditarik dari pengalaman di lapangan).” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, metode jurnalisme bisa objektif. Tapi objektifitas ini bukanlah tujuan. Objektifitas adalah disiplin dalam melakukan verifikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, dengan berjalannya waktu, pemahaman orisinal terhadap objektifitas ini diartikan keliru. Banyak penulis seperti Leo Rosten, yang mengarang sebuah buku sosiologi tentang wartawan, memakai istilah objektifitas buat merujuk pada pemahaman bahwa wartawan itu seyogyanya objektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira di Indonesia juga banyak dosen-dosen komunikasi yang berpikir ala Rosten. Ini membingungkan. Para wartawan pun, pada gilirannya, ikut meragukan pengertian objektif dan menganggapnya sebagai ilusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana metode yang objektif itu bisa dilakukan? Kovach dan Rosenstiel menerangkan betapa kebanyakan wartawan hanya mendefinisikan hanya sebagai dengan liputan yang berimbang (balance), fairness serta akurat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi berimbang maupun fairness adalah metode. Bukan tujuan. Keseimbangan bisa menimbulkan distorsi bila dianggap sebagai tujuan. Kebenaran bisa kabur di tengah liputan yang berimbang. Fairness juga bisa disalahmengerti bila ia dianggap sebagai tujuan. Fair terhadap sumber atau fair terhadap pembaca? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach dan Rosenstiel menawarkan lima konsep dalam verifikasi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Jangan menambah atau mengarang apa pun; &lt;br /&gt;- Jangan menipu atau menyesatkan pembaca, pemirsa, maupun pendengar; &lt;br /&gt;- Bersikaplah setransparan dan sejujur mungkin tentang metode dan motivasi Anda dalam melakukan reportase; &lt;br /&gt;- Bersandarlah terutama pada reportase Anda sendiri; &lt;br /&gt;- Bersikaplah rendah hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach dan Rosenstiel tak berhenti hanya pada tataran konsep. Mereka juga menawarkan metode yang kongkrit dalam melakukan verifikasi itu. Pertama, penyuntingan secara skeptis. Penyuntingan harus dilakukan baris demi baris, kalimat demi kalimat, dengan sikap skeptis. Banyak pertanyaan, banyak gugatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, memeriksa akurasi. David Yarnold dari San Jose Mercury News mengembangkan satu daftar pertanyaan yang disebutnya “accuracy checklist.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Apakah lead berita sudah didukung dengan data-data penunjang yang cukup? &lt;br /&gt;- Apakah sudah ada orang lain yang diminta mengecek ulang, menghubungi atau menelepon semua nomor telepon, semua alamat, atau situs web yang ada dalam laporan tersebut? Bagaimana dengan penulisan nama dan jabatan? &lt;br /&gt;- Apakah materi background guna memahami laporan ini sudah lengkap? &lt;br /&gt;- Apakah semua pihak yang ada dalam laporan sudah diungkapkan dan apakah semua pihak sudah diberi hak untuk bicara? &lt;br /&gt;- Apakah laporan itu berpihak atau membuat penghakiman yang mungkin halus terhadap salah satu pihak? Siapa orang yang kira-kira tak suka dengan laporan ini lebih dari batas yang wajar? &lt;br /&gt;- Apa ada yang kurang? &lt;br /&gt;- Apakah semua kutipan akurat dan diberi keterangan dari sumber yang memang mengatakannya? Apakah kutipan-kutipan itu mencerminkan pendapat dari yang bersangkutan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, jangan berasumsi. Jangan percaya pada sumber-sumber resmi begitu saja. Wartawan harus mendekat pada sumber-sumber primer sedekat mungkin. David Protess dari Northwestern University memiliki satu metode. Dia memakai tiga lingkaran yang konsentris. Lingkaran paling luar berisi data-data sekunder terutama kliping media lain. Lingkaran yang lebih kecil adalah dokumen-dokumen misalnya laporan pengadilan, laporan polisi, laporan keuangan dan sebagainya. Lingkaran terdalam adalah saksi mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metode keempat, pengecekan fakta ala Tom French yang disebut Tom French’s Colored Pencil. Metode ini sederhana. French, seorang spesialis narasi panjang nonfiksi dari suratkabar St. Petersburg Times, Florida, memakai pensil berwarna untuk mengecek fakta-fakta dalam karangannya, baris per baris, kalimat per kalimat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSIM dingin tahun lalu ketika salju membasahi Cambridge, saya sempat berbincang-bincang dengan Bill Kovach tentang hubungan wartawan dan sumbernya. Saya katakan, pernah ketika mengerjakan suatu liputan, secara tak sengaja, keluarga saya berhubungan cukup dekat dengan keluarga orang yang diwawancarai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami diskusikan masalah itu. Singkat kata Kovach mengatakan, bahwa seorang wartawan “tidak mencari teman, tidak mencari musuh.” Terkadang memang sulit menerima tawaran jasa baik, misalnya diantar pulang ketika kesulitan cari taksi, tapi juga tak perlu datang ke acara-acara sosial di mana independensi wartawan bisa salah dimengerti orang karena ada saja pertemanan yang terbentuk lewat acara-acara itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang wartawan adalah mahluk asosial. Don’t get me wrong,” kata Kovach. Asosial bukan antisosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini sedikit menjelaskan elemen keempat: independensi. Kovach dan Rosenstiel berpendapat, wartawan boleh mengemukakan pendapatnya dalam kolom opini (tidak dalam berita). Mereka tetap dibilang wartawan walau menunjukkan sikapnya dengan jelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu wartawan boleh tak netral? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi netral bukanlah prinsip dasar jurnalisme. Impartialitas juga bukan yang dimaksud dengan objektifitas. Prinsipnya, wartawan harus bersikap independen terhadap orang-orang yang mereka liput. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, semangat dan pikiran untuk bersikap independen ini lebih penting ketimbang netralitas. Namun wartawan yang beropini juga tetap harus menjaga akurasi dari data-datanya. Mereka harus tetap melakukan verifikasi, mengabdi pada kepentingan masyarakat, dan memenuhi berbagai ketentuan lain yang harus ditaati seorang wartawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wartawan yang menulis kolom memang punya sudut pandangnya sendiri …. Tapi mereka tetap harus menghargai fakta di atas segalanya,” kata Anthony Lewis, kolumnis The New York Times. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis kolom ibaratnya, menurut Maggie Galagher dari Universal Press Syndicate, “bicara dengan seseorang yang tak setuju dengan saya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi wartawan yang menulis opini tetap tak diharapkan menulis tentang sesuatu dan ikut jadi pemain. Ini membuat si wartawan lebih sulit untuk melihat dengan perspektif yang berbeda. Lebih sulit untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak lain. Lebih sulit lagi menyakinkan masyarakat bahwa si wartawan meletakkan kepentingan mereka lebih dulu ketimbang kepentingan kelompok di mana si wartawan ikut bermain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetiaan pada kebenaran inilah yang membedakan wartawan dengan juru penerangan atau propaganda. Kebebasan berpendapat ada pada setiap orang. Tiap orang boleh bicara apa saja walau isinya propaganda atau menyebarkan kebencian. Tapi jurnalisme dan komunikasi bukan hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Independensi ini juga yang harus dijunjung tinggi di atas identitas lain seorang wartawan. Ada wartawan yang beragama Kristen, Islam, Hindu, Buddha, berkulit putih, keturunan Asia, keturunan Afrika, Hispanik, cacat, laki-laki, perempuan, dan sebagainya. Mereka, bukan pertama-tama, orang Kristen dan kedua baru wartawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang etnik, agama, ideologi, atau kelas, ini seyogyanya dijadikan bahan informasi buat liputan mereka. Tapi bukan dijadikan alasan untuk mendikte si wartawan. Kovach dan Rosenstiel juga percaya, ruang redaksi yang multikultural bakal menciptakan lingkungan yang lebih bermutu secara intelektual ketimbang yang seragam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama-sama wartawan dari berbagai latar ini menciptakan liputan yang lebih kaya. Tapi sebaliknya, keberagaman ini tak bisa diperlakukan sebagai tujuan. Dia adalah metode buat menghasilkan liputan yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ELEMEN jurnalisme yang kelima adalah memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas. Memantau kekuasaan bukan berarti melukai mereka yang hidupnya nyaman. Mungkin kalau dipakai istilah Indonesianya, “jangan cari gara-gara juga.” Memantau kekuasaan dilakukan dalam kerangka ikut menegakkan demokrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara pemantauan ini adalah melakukan investigative reporting --sebuah jenis reportase di mana si wartawan berhasil menunjukkan siapa yang salah, siapa yang melakukan pelanggaran hukum, yang seharusnya jadi terdakwa, dalam suatu kejahatan publik yang sebelumnya dirahasiakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya di Amerika Serikat, saya kira juga di Indonesia, label investigasi sering dijadikan barang dagangan. Kovach dan Rosenstiel menceritakan bagaimana radio-radio di sana menyiarkan rumor dan dengan seenaknya mengatakan mereka melakukan investigasi. Susahnya, para pendengar, pemirsa, dan pembaca juga tak tahu apa investigasi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu konsekuensi dari investigasi adalah kecenderungan media bersangkutan mengambil sikap terhadap isu di mana mereka melakukan investigasi. Ada yang memakai istilah advocacy reporting buat mengganti istilah investigative reporting karena adanya kecenderungan ini. Padahal hasil investigasi bisa salah. Dan dampak yang timbul besar sekali. Bukan saja orang-orang yang didakwa dibuat menderita tapi juga reputasi media bersangkutan bisa tercemar serius. Mungkin karena risiko ini, banyak media besar serba tanggung dalam melakukan investigasi. Mereka lebih suka memperdagangkan labelnya saja tapi tak benar-benar masuk ke dalam investigasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob Woodward dari The Washington Post, salah satu wartawan yang investigasinya ikut mendorong mundurnya Presiden Richard Nixon karena skandal Watergate pada 1970-an, mengatakan salah satu syarat investigasi adalah “pikiran yang terbuka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen keenam adalah jurnalisme sebagai forum publik. Kovach dan Rosenstiel menerangkan zaman dahulu banyak suratkabar yang menjadikan ruang tamu mereka sebagai forum publik di mana orang-orang bisa datang, menyampaikan pendapatnya, kritik, dan sebagainya. Di sana juga disediakan cerutu serta minuman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logikanya, manusia itu punya rasa ingin tahu yang alamiah. Bila media melaporkan, katakanlah dari jadwal-jadwal acara hingga kejahatan publik hingga timbulnya suatu trend sosial, jurnalisme ini menggelitik rasa ingin tahu orang banyak. Ketika mereka bereaksi terhadap laporan-laporan itu maka masyarakat pun dipenuhi dengan komentar –mungkin lewat program telepon di radio, lewat talk show televisi, opini pribadi, surat pembaca, ruang tamu suratkabar dan sebagainya. Pada gilirannya, komentar-komentar ini didengar oleh para politisi dan birokrat yang menjalankan roda pemerintahan. Memang tugas merekalah untuk menangkap aspirasi masyarakat. Dengan demikian, fungsi jurnalisme sebagai forum publik sangatlah penting karena, seperti pada zaman Yunani kuno, lewat forum inilah demokrasi ditegakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang teknologi modern membuat forum ini lebih bertenaga. Sekarang ada siaran langsung televisi maupun chat room di internet. Tapi kecepatan yang menyertai teknologi baru ini juga meningkatkan kemampuan terjadinya distorsi maupun informasi yang menyesatkan yang potensial merusak reputasi jurnalisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach dan Rosenstiel berpendapat jurnalisme yang mengakomodasi debat publik harus dibedakan dengan “jurnalisme semu,” yang mengadakan debat secara artifisial dengan tujuan menghibur atau melakukan provokasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya jurnalisme semu itu terjadi karena debatnya tak dibuat berdasarkan fakta-fakta secara memadai. “Talk is cheap,” kata Kovach dan Rosenstiel. Biaya produksi sebuah talk show kecil sekali dibandingkan biaya untuk membangun infrastruktur reportase. Sebuah media yang hendak membangun infrastruktur reportase bukan saja harus menggaji puluhan, bahkan ratusan wartawan, tapi juga membiayai operasi mereka. Belum lagi bila media bersangkutan hendak membuka biro-biro baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Ngomong itu murah. Mendapatkan komentar-komentar lewat telepon dan disiarkan secara langsung sangat jauh lebih murah ketimbang melakukan reportase. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalisme semu juga muncul karena gaya lebih dipentingkan ketimbang esensi. Jurnalisme semu pada gilirannya membahayakan demokrasi karena ia bukannya memperlebar nuansa suatu perdebatan tapi lebih memfokuskan dirinya pada isu-isu yang sempit, yang terpolarisasi. Buntutnya, upaya mencari kompromi, sesuatu yang esensial dalam demokrasi, juga tak terbantu oleh jurnalisme macam ini. Jurnalisme semu tak memberikan pencerahan tapi malah mengajak orang berkelahi lebih sengit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMA dua semester mengikuti program Nieman Fellowship, Bill Kovach mengusulkan agar kami ikut suatu kelas tentang penulisan nonfiksi. Dia menekankan perlunya wartawan belajar menulis narasi karena kekuatan jurnalisme cetak sangat ditentukan oleh kemampuan ini. Saya mengikuti nasehat Kovach dan belajar tentang suatu genre yang disebut narrative report atau jurnalisme kesastraan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjuran itu sesuai dengan elemen ketujuh bahwa jurnalisme harus memikat sekaligus relevan. Mungkin meminjam motto majalah Tempo jurnalisme itu harus “enak dibaca dan perlu.” Selama mengikuti kelas narasi itu, saya belajar banyak tentang komposisi, tentang etika, tentang naik-turunnya emosi pembaca dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memikat sekaligus relevan. Ironisnya, dua faktor ini justru sering dianggap dua hal yang bertolakbelakang. Laporan yang memikat dianggap laporan yang lucu, sensasional, menghibur, dan penuh tokoh selebritas. Tapi laporan yang relevan dianggap kering, angka-angka, dan membosankan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal bukti-bukti cukup banyak, bahwa masyarakat mau keduanya. Orang membaca berita olah raga tapi juga berita ekonomi. Orang baca resensi buku tapi juga mengisi teka-teki silang. Majalah The New Yorker terkenal bukan saja karena kartun-kartunnya yang lucu, tapi juga laporan-laporannya yang panjang dan serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach dan Rosenstiel mengatakan wartawan macam itu pada dasarnya malas, bodoh, bias, dan tak tahu bagaimana harus menyajikan jurnalisme yang bermutu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis narasi yang dalam, sekaligus memikat, butuh waktu lama. Banyak contoh bagaimana laporan panjang dikerjakan selama berbulan-bulan terkadang malah bertahun-tahun. Padahal waktu adalah sebuah kemewahan dalam bisnis media. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, daya tarik hiburan memang luar biasa. Pada 1977 kulit muka majalah Newsweek dan Time 31 persen diisi gambar tokoh politik atau pemimpin internasional serta 15 persen diilustrasikan oleh bintang hiburan. Pada 1997, kulit muka kedua majalah internasional ini mengalami penurunan 60 persen dalam hal tokoh politik. Sedangkan 40 persen diisi oleh bintang hiburan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duet Kovach-Rosenstiel sebelumnya menerbitkan buku Warp Speed: American in the Age of Mixed Media di mana mereka melakukan analisis yang tajam terhadap liputan media Amerika atas skandal Presiden Bill Clinton dan Monica Lewinsky. Kebanyakan media suka menekankan pada sisi sensasi dari skandal itu ketimbang isu yang lebih relevan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen kedelapan adalah kewajiban wartawan menjadikan beritanya proporsional dan komprehensif. Kovach dan Rosenstiel mengatakan banyak suratkabar yang menyajikan berita yang tak proporsional. Judul-judulnya sensional. Penekanannya pada aspek yang emosional. Mungkin kalau di Jakarta contoh terbaik adalah harian Rakyat Merdeka. Suratkabar macam ini seringkali tidak proporsional dalam pemberitaannya.&lt;br /&gt;Kovach dan Rosenstiel mengambil contoh yang menarik. Suratkabar sensasional diibaratkan seseorang yang ingin menarik perhatian pembaca dengan pergi ke tempat umum lalu melepas pakaian, telanjang. Orang pasti suka dan melihatnya. Pertanyaannya adalah bagaimana orang telanjang itu menjaga kesetiaan pemirsanya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berbeda dengan pemain gitar. Dia datang ke tempat umum, memainkan gitar, dan ada sedikit orang yang memperhatikan. Tapi seiring dengan kualitas permainan gitarnya, makin hari makin banyak orang yang datang untuk mendengarkan. Pemain gitar ini adalah contoh suratkabar yang proporsional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proporsional serta komprehensif dalam jurnalisme memang tak seilmiah pembuatan peta. Berita mana yang diangkat, mana yang penting, mana yang dijadikan berita utama, penilaiannya bisa berbeda antara si wartawan dan si pembaca. Pemilihan berita juga sangat subjektif. Kovach dan Rosenstiel bilang justru karena subjektif inilah wartawan harus senantiasa ingat agar proporsional dalam menyajikan berita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat bisa tahu kalau si wartawan mencoba proporsional atau tidak. Sebaliknya masyarakat juga tahu kalau si wartawan cuma mau bertelanjang bulat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP wartawan harus mendengarkan hati nuraninya sendiri. Dari ruang redaksi hingga ruang direksi, semua wartawan seyogyanya punya pertimbangan pribadi tentang etika dan tanggungjawab sosial. Ini elemen yang kesembilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap individu reporter harus menetapkan kode etiknya sendiri, standarnya sendiri dan berdasarkan model itulah dia membangun karirnya,” kata wartawan televisi Bill Kurtis dari A&amp;E Network. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalankan prinsip itu tak mudah karena diperlukan suasana kerja yang nyaman, yang bebas, di mana setiap orang dirangsang untuk bersuara. “Bos, saya kira keputusan Anda keliru!” atau “Pak, ini kok kesannya rasialis” adalah dua contoh kalimat yang seyogyanya bisa muncul di ruang redaksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menciptakan suasana ini tak mudah karena berdasarkan kebutuhannya, ruang redaksi bukanlah tempat di mana demokrasi dijalankan. Ruang redaksi bahkan punya kecenderungan menciptakan kediktatoran. Seseorang di puncak organisasi media memang harus bisa mengambil keputusan –menerbitkan atau tidak menerbitkan sebuah laporan, membiarkan atau mencabut sebuah kutipan yang panas—agar media bersangkutan bisa menepati deadline. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membolehkan tiap individu wartawan menyuarakan hati nurani pada dasarnya membuat urusan manajemen jadi lebih kompleks. Tapi tugas setiap redaktur untuk memahami persoalan ini. Mereka memang mengambil keputusan final tapi mereka harus senantiasa membuka diri agar tiap orang yang hendak memberi kritik atau komentar bisa datang langsung pada mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob Woodward dari The Washington Post mengatakan, “Jurnalisme yang paling baik seringkali muncul ketika ia menentang manajemennya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama Nieman Fellowship, Bill Kovach mengatakan pada 24 peserta program itu bahwa pintunya selalu terbuka. Terkadang dia sering harus mengejar deadline dan mengetik, “Raut wajah saya bisa galak sekali bila seseorang muncul di pintu saya. Tapi jangan digubris. Masuk dan bicaralah.”*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-3665551267032816542?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/3665551267032816542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=3665551267032816542' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3665551267032816542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3665551267032816542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/05/sembilan-elemen-jurnalisme.html' title='Sembilan Elemen Jurnalisme'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-123057672802926656</id><published>2008-05-13T02:08:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T02:09:29.455-07:00</updated><title type='text'>Byline</title><content type='html'>Oleh ANDREAS HARSONO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya satu isu yang mungkin bisa kita diskusikan bersama. Ceritanya, 15 Desember lalu Bill Kovach, salah satu penulis buku "Sembilan Elemen Jurnalisme" dan seorang wartawan terhormat di Amerika, datang ke kantor harian Kompas. Kovach menemui Jakob Oetama dan Suryopratomo, masing-masing pemimpin umum dan pemimpin redaksi Kompas, di ruang kerja Oetama untuk diskusi selama satu jam, lantas Kovach menemui sekelompok wartawan Kompas untuk berdiskusi di sebuah ruang rapat. Ada sekitar 15 wartawan Kompas ikut di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusinya cukup menarik. Saya kebetulan ikut mengantar sehingga bisa mendengarkannya. Kovach sempat bertanya kepada para wartawan Kompas, "Mengapa suratkabar Anda tak memakai byline? Mengapa di halaman satu tak terlihat byline?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingatan saya tidak keliru, Bambang Wisudo, salah satu wartawan yang hadir, mengatakan kalau Kompas menggunakan byline bakal kelihatan kalau tulisan wartawan-wartawannya masih belum bagus. Tak semua wartawan bisa mendapatkan byline. Malu kalau pakai byline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach balik mengatakan bukankah itu esensi byline? Artinya, biarkan pembaca tahu mana wartawan yang bisa menulis dengan baik dan mana yang tidak baik. Bukankah itu bagian dari "accountability" Kompas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau Kompas memakai byline, orang bakal tahu siapa orang yang menulis laporan yang baik atau yang buruk. Bukan sebaliknya, menaruh semua tanggungjawab kepenulisan itu kepada institusi Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisudo bilang ini sudah tradisi Kompas. Ia mengatakan tak tahu jawaban pastinya. Wisudo mengatakan seharusnya Kovach tanya kepada "Pak Jakob."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach mengangguk-angguk. Sayang, janji bertemu kedua kalinya dengan Oetama, karena kesibukan masing-masing, tak terlaksana sehingga pertanyaan itu pun tak bisa dilanjutkan Kovach kepada Oetama. Namun Kovach sempat melontarkan isu ini sekali lagi keesokan harinya, ketika ia muncul dalam acara Metro TV bersama Jason Tedjasukmana. Kovach mengatakan suratkabar Indonesia kebanyakan tak memakai byline dan ini menurutnya sebuah kekurangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Inggris, byline berasal dari kata "by" (oleh) dan "line" (baris) yang merujuk kepada sebuah baris dekat judul cerita dimana terdapat nama orang yang menulis cerita itu. Menurut kamus Merriam-Webster's Collegiate Dictionary, kata ini masuk ke dalam perbendaharaan bahasa Inggris, artinya terekam pertama kalinya dalam perbendaharaan bahasa Inggris pada 1938.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kovach mengatakan pada sebuah diskusi lain bahwa byline dipakai pertama kali pada 1850-an oleh Charles S. Taylor, seorang jendral yang lantas jadi "publisher" harian The Boston Globe, sesudah perang saudara Amerika. Taylor sering jengkel karena selama perang ada saja wartawan yang menulis dengan judul, "Berita Penting Jika Terbukti Benar." Ia memutuskan menaruh nama para wartawannya pada berita-berita yang diterbitkan The Boston Globe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakaian byline ternyata membuat wartawan-wartawan The Boston Globe lebih berhati-hati dengan laporan-laporan mereka. Ketika itu, sama dengan suratkabar-suratkabar Indonesia hari ini, media Amerika tak memakai byline. Mereka hanya menaruh inisial si wartawan di ekor laporan. Namun inovasi Taylor ini perlahan-lahan ditiru oleh suratkabar lain di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prosesnya tidak cepat. Butuh waktu lama untuk menyakinkan pada redaktur bahwa byline adalah masalah "accountability." Harian The New York Times baru mulai menerapkan byline pada laporan mereka, sebagai isu accountability, pada 1960-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak redaktur hanya memberikan byline bila sebuah laporan dianggap punya kualitas bagus. Kalau biasa-biasa saja, tak diberi byline, cukup inisial di ekor karangan --yang sebenarnya menurut sejarah, lebih untuk fungsi administrasi internal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Byline dianggap sebagai "reward" (hadiah) bukan "accountability" (pertanggungjawaban). Namun pemakaian byline untuk kolom opini lebih cepat diterima karena si suratkabar berpendapat isi opini tak harus mencerminkan opini institusi suratkabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hari ini, kalau Anda membaca The New York Times, The Washington Post, Wall Street Journal, atau suratkabar apapun di Amerika Serikat, byline sudah jadi praktek biasa. Semua laporan berita diberi nama wartawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kebetulan pernah bekerja untuk harian The West Australian (Perth), The Nation (Bangkok) dan The Star (Kuala Lumpur). Di tiga harian ini byline biasa dipakai. Semua berita, kecuali berita dua kolom yang relatif pendek, diberi byline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kebanyakan suratkabar tak memakai byline. Di Indonesia, accountability wartawan disembunyikan di balik tanggungjawab institusi. Padahal dua hal ini bisa dibedakan. Kalau seorang wartawan diberi byline, maka ia akan lebih bertanggungjawab terhadap isi laporannya karena publik akan tahu siapa wartawan yang bekerja secara relatif konsisten menghasilkan berita-berita yang bermutu. Juga sebaliknya, publik akan tahu wartawan mana yang pernah bikin salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harian The Jakarta Post mungkin termasuk suratkabar pertama di Indonesia yang memakai byline. Menurut Endy Bayuni, wakil pemimpin redaksi The Jakarta Post, kebijakan ini dipakai sejak 1 Oktober 2001 ketika disain harian ini diubah --antara lain memakai warna merah pada logo mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endy mengatakan pada saya, hasilnya memang wartawan The Jakarta Post dipaksa menulis lebih baik karena kalau ada kesalahan atau ada yang melenceng, nama mereka bisa segera diketahui publik. Namun, hasilnya positif karena wartawan juga bisa membangun reputasi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek byline juga dipakai majalah. Cuma di majalah, atau juga suratkabar kalau sebuah laporan dikerjakan ramai-ramai, harus dibedakan antara byline dan tagline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tagline adalah baris dimana nama para kontributor sebuah laporan diletakkan. Byline untuk penulis laporan. Sedang wartawan-wartawan lain yang memberikan bahan atau kontribusi untuk laporan itu dimasukkan dalam tagline. Ini penting dibedakan karena si penulis sering hanya memakai satu alinea saja dari si kontributor. Dan seringkali si kontributor yang jadi sasaran kekesalan orang kalau laporan mereka dianggap tak memuaskan. Padahal kontributor cuma setor laporan. Kebanyakan majalah Indonesia&lt;br /&gt;menggunakan tagline tapi tanpa byline.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mari kita perhatikan. Suratkabar dan majalah apa saja di Indonesia ini yang belum membawa prinsip accountability ke ruang redaksi mereka? Kalau Anda bekerja di media, tidakkah Anda tertarik untuk membawa isu ini ke rapat redaksi? Atau kalau Anda seorang pembaca, tidakkah Anda tertarik untuk bertanya kepada redaktur suratkabar langganan Anda, "Eh kenapa ya kita tak memakai byline?" *&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-123057672802926656?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/123057672802926656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=123057672802926656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/123057672802926656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/123057672802926656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/05/byline.html' title='Byline'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-6455444011804721360</id><published>2008-05-13T02:05:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T02:06:18.614-07:00</updated><title type='text'>Jurnalisme Sastrawi</title><content type='html'>OLEH: Andreas Harsono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMUA ini bermula dari keisengan belaka. Pada Maret 2000, dari sebuah apartemen kecil di dekat Harvard Square, jantung kota Cambridge, Amerika Serikat, saya mengirim sebuah email kepada dua mailing list yang anggota-anggotanya kebanyakan orang Indonesia: wartawan, seniman, dosen, peneliti, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isinya sebuah pertanyaan yang diterangkan dengan agak panjang lebar. Mengapa di Indonesia tak ada surakabar di mana orang bisa menulis narasi secara panjang dan utuh? Mengapa jurnalisme sastrawi (literary journalism) tak berkembang di kalangan wartawan, sastrawan, seniman, dan cendekiawan Indonesia? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu muncul sejak semester sebelumnya ketika saya mengikuti matakuliah non-fiction writing dalam program Nieman Fellowship on Journalism di Universitas Harvard. “Kalau di Amerika Serikat mereka punya majalah Time, Newsweek, dan sejenisnya, kita juga punya Tempo, Gatra, dan lain-lain. Kalau Amerika punya harian The New York Times, The Washington Post, kita juga punya harian sejenis. Tapi mengapa kita ompong di jurnalisme sastrawi?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jurnalisme sastrawi” adalah satu dari setidaknya tiga nama buat genre tertentu dalam jurnalisme yang berkembang di Amerika Serikat di mana reportase dikerjakan dengan mendalam, penulisan dilakukan dengan gaya sastrawi, sehingga hasilnya enak dibaca. Tom Wolfe, &lt;br /&gt;wartawan-cum-novelis, pada 1960-an memperkenalkan genre ini dengan nama "new journalism" (jurnalisme baru). Kritisi menanggapi, “Apanya yang baru?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada 1973, Wolfe dan EW Johnson menerbitkan antologi dengan judul The New Journalism. Mereka jadi editor. Mereka memasukkan narasi-narasi terkemuka zaman itu. Antara lain dari Hunter S. Thompson, Joan Didion, Truman Capote, Jimmy Breslin, dan Wolfe sendiri. Wolfe dan Johnson menulis kata pengantar. Mereka bilang genre ini berbeda dari reportase sehari-hari karena dalam bertutur ia menggunakan adegan demi adegan (scene by scene construction), reportase yang menyeluruh (immersion reporting), menggunakan sudut pandang orang ketiga (third person point of view), serta penuh dengan detail. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawancara bisa dilakukan dengan puluhan, bahkan lebih sering ratusan, narasumber. Risetnya tidak main-main. Waktu bekerjanya juga tidak seminggu atau dua. Tapi bisa berbulan-bulan. Ceritanya juga kebanyakan tentang orang biasa. Bukan orang terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pemikir jurnalisme mengembangkan temuan Wolfe. Ada yang pakai nama "narrative reporting." Ada juga yang pakai nama "passionate journalism." Pulitzer Prize menyebutnya “explorative journalism”. Apapun nama yang diberikan, genre ini menukik sangat dalam. lebih dalam daripada apa yang disebut sebagai in-depth reporting. Ia bukan saja melaporkan seseorang melakukan apa. Tapi ia masuk ke dalam psikologi yang bersangkutan dan menerangkan mengapa ia melakukan hal itu. Ada karakter, ada drama, ada babak, ada adegan, ada konflik. Laporannya panjang dan utuh –tidak dipecah-pecah ke dalam beberapa laporan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roy Peter Clark, seorang guru menulis dari Poynter Institute, Florida, mengembangkan pedoman standar 5W 1H menjadi pendekatan baru yang naratif. 5W 1H adalah singkatan dari who (siapa), what (apa), where (dimana), when (kapan), why (mengapa), dan how (bagaimana). &lt;br /&gt;Pada narasi, menurut Clark dalam sebuah esei Nieman Reports, “who” berubah menjadi karakter, “what” menjadi plot atau alur, “where” menjadi setting, “when” menjadi kronologi, “why” menjadi motif, dan “how” menjadi narasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang bilang genre ini adalah jawaban media cetak terhadap serbuan televisi, radio, dan internet. Hari ini praktis tak ada orang mendapatkan breaking news dari suratkabar. Orang mengandalkan media elektronik. Suratkabar tak bisa bersaing cepat dengan media elektronik. Namun media elektronik sulit bersaing kedalaman dengan media cetak. Suratkabar bisa berkembang bila ia menyajikan berita yang dalam dan analitis. Genre ini makanya disajikan panjang. Majalah The New Yorker bahkan pernah menerbitkan sebuah laporan hanya dalam satu edisi majalah. Judulnya “Hiroshima” karya John Hersey yang dimuat pada 31 Agustus 1946 tentang korban bom atom Hiroshima. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Maret 1946 itu, The New Yorker merayakan ulang tahunnya yang ke-75. Editor David Remnick datang ke Harvard dan bicara panjang lebar soal tantangan majalah tersebut. Banyak orang mengatakan The New Yorker adalah ikon dunia pemikiran di Amerika Serikat. Ada lebih dari 10 judul buku diterbitkan dalam kesempatan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kehidupan pers bebas baru mulai 1998 saat Soeharto ambruk kejeblok. Negara baru ini dibentuk pada 1950-an dengan menghancurkan semua suratkabar “peninggalan” kolonialisme Belanda. Tak ada garis sambung antara media pemula di Hindia Belanda –dengan jagoan-jagoan macam Tirto Adisurjo, F. Wiggers, H. Kommer, Tio Ie Soei, Marah Sutan, Mas Marco Dikromo, Kwee Kek Beng, Adi Negoro, atau J.H. Pangemanann– dan media pascakemerdekaan dengan tokoh macam Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, Joesoef Isak, Umar Said, serta L.E. Manuhua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buntutnya, republik baru ini tak punya sejarah jurnalisme yang panjang. Ia belum pernah punya majalah atau harian yang secara sadar menggunakan narasi sebagai tulang punggung cerita-ceritanya. Berapa wartawan yang bisa dan biasa menulis lebih dari 15,000 kata dalam satu cerita? Kebanyakan wartawan di negara baru yang didirikan dari Hindia Belanda ini tumbuh hanya dengan batas 1.000 atau 2.000 kata per cerita. Apalagi pada zaman Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menulis bahwa di Indonesia genre ini tak berkembang karena tak ada media yang mau menyediakan tempat, uang, dan waktu untuk naskah panjang. Memang ada media kecil yang memberikan kesempatan menulis panjang, itu pun kebanyakan esei, macam majalah Sastra, Horizon, Kalam, Basis, atau Intisari. Namun ukuran mereka relatif kecil, bukan media mainstream, dan isinya lebih banyak esei yang kering (kecuali mungkin Intisari), plus catatan kaki, daripada narasi yang bisa dinikmati orang banyak. Apakah jurnalisme sastrawi tidak berkembang karena pasarnya kecil? Apakah mereka ompong karena zaman rezim Presiden Soeharto belum memungkinkan gaya begitu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak tahu jawabnya secara persis,” kata saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keisengan itu ternyata mendapat reaksi. Dari mailing list penerima beasiswa Fulbright Scholarship, ada jawaban dari tiga mahasiswa Indonesia yang sedang studi lanjut di Amerika: Fadjar I. Thufail, Biranul Anas, dan Wicak Sarosa. Dari mailing list Institut Studi Arus Informasi, saya mendapat jawaban dari Yosep Adi Prasetyo, Alip Kusnandar, Nirwan Dewanto, maupun Atmakusumah Astraatmadja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yosep Adi Prasetyo kritis mempertanyakan genre ini, “Saya kuatir penamaan-penamaan jurnalisme ini tak bermakna apa-apa, kecuali hanya ingin menandai serta membedakan karya yang satu dari karya yang lain.” Alip Kusnandar dari Makassar mempertanyakan apa sebenarnya ciri-ciri genre ini? Apa yang membedakannya dari jurnalisme biasa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fadjar Thufail mengatakan, “Menurut saya, kuncinya justru terletak pada Anda, atau kawan-kawan di sektor media, untuk mulai bereksperimen dengan segala macam kemungkinan genre penulisan. Saya yakin, sekali ada yang mulai, pasti nantinya kita paling nggak punya satu majalah semacam itu....” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nirwan Dewanto menulis, “Penerbitan majalah yang bisa menyelenggarakan jurnalisme sastrawi (seperti The New Yorker) memang harus diusahakan atau kita usahakan bersama …. Namun, kalau berpikir tentang pembaca dan pasar, sampeyan pasti gemetar juga untuk membuat majalah ala The New Yorker di Negeri Melayu. Tapi soal yang lebih penting, seperti yang sudah saya bilang, siapa wartawan dan penulis kita yang bisa dan siap untuk itu?” kata Nirwan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atmakusumah Astraatmadja, ketua Dewan Pers, pesimis pada proposal Fadjar Thufail karena genre ini “tidak mungkin” berkembang di Indonesia. Pasalnya? Kebanyakan media bermodal kecil atau sama sekali tidak berkeuntungan. Para pengasuhnya, termasuk wartawan, sangat sedikit jumlahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astraatmadja memberi contoh. Harian Tifa Papua (Jayapura) hanya diasuh lima wartawan. Ada harian Palu dan Kendari yang hanya diasuh oleh kurang lebih tiga wartawan saja. Jumlah wartawan di Indonesia pada masa Presiden Soeharto hanya sekira 7.000, mengasuh hampir 300 media cetak. Ada hampir 700 stasiun radio (walaupun sangat sedikit yang memiliki kegiatan jurnalistik) dan enam stasiun televisi. Sekarang, ketika media cetak jadi sekitar 600-700, stasiun radio lebih dari 1.000, dan televisi menjadi lebih dari sepuluh di Jakarta, paling-paling wartawan bertambah menjadi 8.000-10.000. Bandingkan dengan Jerman, misalnya, yang 90.000, termasuk 40.000 wartawan freelance. Jadi ada kekurangan wartawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Media massa kita lebih mementingkan kuantitas daripada kualitas –yang memerlukan lebih banyak waktu untuk membuatnya. Mengingat sangat kurangnya tenaga wartawan, walaupun sejumlah kecil media seharusnya sudah mampu menyisihkan sebagian wartawannya untuk lebih &lt;br /&gt;memusatkan perhatian pada, misalnya: peliputan penyidikan (investigative reporting), peliputan berkedalaman (in-depth reporting), dan jurnalisme baru,” kata Astraatmadja, maka tak mungkin penulisan narasi bisa berkembang di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debat itu sangat menarik. Ia berjalan hingga dua bulan. Saya puas dengan jawaban-jawaban yang muncul. Kesimpulan diskusi, tak mungkin bikin media dengan narasi di Jakarta. Negeri ini ditakdirkan bernasib malang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ROBERT VARE seorang lelaki paruh baya. Rambutnya memutih. Dia biasa datang Jumat siang ke Lippmann House, Cambridge, naik mobil sedan warna hijau. Lippmann House adalah rumah petani yang diubah jadi kantor, perpustakaan, dan ruang kelas milik Nieman Foundation di Harvard University. Nama Lippmann, tentu saja, diambil dari teoritikus jurnalisme terkenal Walter Lippmann, penulis Public Opinion, buku babon jurnalisme awal abad ke-20. Harvard sengaja menamakan rumah itu untuk menghormati Lippmann. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Vare pernah bekerja untuk majalah The New Yorker dan The Rolling Stones. Dia mengajar kelas narasi saya. “Kelas” mungkin pengertian yang agak kaku karena kami lebih sering diskusi di ruang yang hangat. Makan. Minum. Ruang kelas, pakai karpet tebal. Penerangan warna kuning hangat. Kursinya macam-macam. Ada sofa, ada kursi Victorian, terkadang malah tiduran. Seringnya, para murid membaca bergantian. Lalu saling memberi komentar. Ketika musim dingin, perapian dinyalakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Jumat, Robert membawa daftar bacaan. Truman Capote. Tom Wolfe. Joan Didion. Jimmy Breslin. Joseph Mitchell. John McPhee. Juga generasi baru. Mark Kramer. Susan Orlean. Andrian Nicole LeBlanc. Joseph Nocera. Mark Singer. Mark Bowden. Kami sampai “mabuk” karena tiap minggu membaca karya demi karya. Hampir semuanya bikin saya tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Vare, ada tujuh pertimbangan bila Anda hendak menulis narasi. &lt;br /&gt;Pertama, fakta. Jurnalisme menyucikan fakta. Walau pakai kata dasar “sastra” tapi ia tetap jurnalisme. Setiap detail harus berupa fakta. Nama-nama orang adalah nama sebenarnya. Tempat juga memang nyata. Kejadian benar-benar kejadian. Merah disebut merah. Hitam hitam. Biru biru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jurnalisme sastrawi bukan, bukan, sekali lagi bukan, reportase yang ditulis dengan kata-kata puitis. Sering orang salah mengerti. Narasi boleh puitis tapi tak semua prosa yang puitis adalah narasi. Kebanyakan narasi bawaan Robert Vare malah tak puitis. John Hersey menulis “Hiroshima” layaknya laporan suratkabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Verifikasi adalah esensi dari jurnalisme. Maka apa yang disebut sebagai jurnalisme sastrawi juga mendasarkan diri pada verifikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sering ditanya apakah kumpulan cerita pendek karya Seno Gumira Adjidarma Saksi Mata masuk dalam kategori jurnalisme sastrawi? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adjidarma cerita soal pembunuhan orang-orang Timor Leste oleh tentara-tentara Indonesia pada November 1991. Ceritanya memukau. Tapi karya itu fiktif. Nama-nama diganti. Tempat tak disebutkan jelas. Adjidarma membuat cerita fiksi justru karena dia tak bisa menuliskan fakta. Harap maklum, rezim Soeharto dengan anjing-anjing penjaganya melarang media bercerita bebas soal pembantaian Santa Cruz 1991. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, konflik. Sebuah tulisan panjang lebih mudah dipertahankan daya pikatnya bila ada konflik. Bila Anda berminat bikin narasi, Anda sebaiknya pikir berapa besar sengketa yang ada? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengketa bisa berupa pertikaian satu orang dengan orang lain. Ia juga bisa berupa pertikaian antarkelompok. Misalnya, upaya Arnold Ap, cendekiawan Papua, mengembangkan kesenian dan nasionalisme Papua berbuntut ketegangan dengan tentara Komando Pasukan Khusus dari Jawa yang dikirim ke Jayapura. Ap ditahan dan ditembak mati. Banyak sekali cerita di Republik Indonesia yang mengandung sengketa. Dari Sabang sampai Merauke, isinya banyak berdarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sengketa juga bisa pertentangan seseorang dengan hati nuraninya. Sengketa juga bisa pertentangan seseorang dengan nilai-nilai di masyarakatnya. Soal interpretasi agama sering jadi sengketa. Pendek kata, konflik unsur penting dalam narasi. Dalam fiksi, seluruh cerita terkenal dibangun di atas gugusan konflik. Bahkan lapis-lapis konflik. Tanpa elemen konflik, orang tak akan membaca Harry Potter, bahkan kisah Cinderella atau Putri Tidur dan Tujuh Kurcaci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, karakter. Narasi minta ada karakter-karakter. Karakter membantu mengikat cerita. Ada karakter utama. Ada karakter pembantu. Karakter utama seyogyanya orang yang terlibat dalam pertikaian. Ia harus punya kepribadian menarik. Tak datar dan tak menyerah dengan mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 15 November 1958, di kota kecil Holcomb, Kansas, terjadi pembunuhan terhadap bapak, ibu, dan dua anak keluarga Clutter. Ini keluarga petani. Mereka ditembak dengan senapan laras pendek. Jaraknya, dekat dengan wajah mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan The New Yorker Truman Capote mengikuti kasus ini selama enam tahun hingga pemuda Richard Hickock dan Perry Smith ditemukan polisi, diadili, dinyatakan bersalah, dan dihukum gantung karena kasus tersebut. Maka Capote pun menerbitkan serial In Cold Blood di majalah The New Yorker. Dick dan Perry adalah karakter dalam cerita Capote. &lt;br /&gt;Keempat, akses. Anda seyogyanya punya akses kepada para karakter. Akses bisa berupa wawancara, dokumen, korespondensi, foto, buku harian, gambar, kawan, musuh, dan sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Capote mengikuti kasus Dick dan Perry selama lima tahun, empat bulan, dan 28 hari. Capote menyaksikan penangkapan mereka. Pemeriksaan. Pengadilan. Hukuman. Capote juga menyaksikan ketika Dick dan Perry dihukum gantung. Serial itu dibukukan dan difilmkan. Capote punya akses yang luar biasa terhadap keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, emosi. Ia bisa rasa cinta. Bisa pengkhianatan. Bisa kebencian. Kesetiaan. Kekaguman. Sikap menjilat dan sebagainya. Emosi menjadikan cerita Anda hidup. Emosi juga bisa bolak-balik. Mulanya cinta lalu benci. Mungkin ada pergulatan batin. Mungkin ada perdebatan pemikiran. Capote menangkap emosi Dick dan Perry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, saya kira tidak susah mencari karakter dengan emosi. Mulai drama perlawanan orang-orang Acheh terhadap Jakarta hingga gerakan kemerdekaan di Timor Leste. Mulai diskriminasi terhadap orang Tionghoa –disuruh meninggalkan identitasnya, agamanya, namanya, dan dipaksa “berasimilasi”– hingga pembunuhan massal terhadap orang-orang Madura di Kalimantan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, perjalanan waktu. Robert Vare mengibaratkan laporan suratkabar “biasa” dengan sebuah potret. Snap shot. Klik. Klik. Klik. Laporan panjang adalah sebuah film yang berputar. Video. Ranah waktu jadi penting. Ini juga yang membedakan narasi dari feature. Narasi macam video. Feature macam potret. Sekali jepret. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vare menyebutnya “series of time.” Peristiwa berjalan bersama waktu. Konsekuensinya, penyusunan struktur karangan. Mau bersifat kronologis, dari awal hingga akhir. Atau mau membuat flashback. Dari akhir mundur ke belakang? Atau kalau mau bolak-balik bagaimana agar pembaca tak bingung? Teknik-teknik ini diajarkan dan didiskusikan bersama selama setahun di ruang kelas yang hangat itu. Saya sangat menikmati masa dua semester bersama Vare. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panjang perjalanan waktu tergantung kebutuhan. Cerita kehamilan bisa dibuat dalam sembilan bulan. Tapi bisa juga dibuat dalam kerangka waktu dua tahun, tiga tahun, dan sebagainya. Tapi bisa juga sekian menit ketika si ibu bergulat hidup dan mati di ruang melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, unsur kebaruan. Tak ada gunanya mengulang-ulang lagu lama. Mungkin lebih mudah mengungkapkan kebaruan itu dari kacamata orang biasa yang jadi saksi mata peristiwa besar. John Hersey mewawancarai dua dokter, seorang pendeta, seorang sekretaris, seorang penjahit, dan seorang pastor Jerman untuk merekonstruksi pemboman Hiroshima. &lt;br /&gt;Secara detail, Hersey menceritakan dahsyatnya bom itu. Ada kulit terkelupas, ada desas-desus bom rahasia, ada kematian menyeramkan, ada dendam, ada rendah diri. Semua campur aduk ketika Hersey merekamnya dan menjadikannya salah satu cerita termasyhur dalam sejarah jurnalisme Amerika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Maret 1999, Universitas New York menunjuk 37 ahli sejarah, wartawan, penulis, dan akademisi untuk memilih 100 karya jurnalistik terbaik di Amerika Serikat pada abad ke-20. Ini bukan pekerjaan mudah karena ada jutaan karya. Hasilnya, “Hiroshima” menduduki tempat nomor satu (Karya Rachel Carson soal DDT "Silent Spring" pada 1962 jadi juara kedua, sedang karya investigatif Bob Woodward dan Carl Bernstein soal Watergate untuk harian The Washington Post pada 1972-73 juara ketiga).*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-6455444011804721360?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/6455444011804721360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=6455444011804721360' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6455444011804721360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6455444011804721360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/05/jurnalisme-sastrawi.html' title='Jurnalisme Sastrawi'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-7462917831480548800</id><published>2008-05-13T02:03:00.000-07:00</published><updated>2008-05-13T02:04:10.006-07:00</updated><title type='text'>Pagar Api</title><content type='html'>OLEH: ANDREAS HARSONO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain suratkabar selalu ada filsafatnya. Suratkabar misalnya, tak dianjurkan melulu berhalaman yang berisikan huruf. Ini membuat pembaca cepat bosan dan matanya lelah. Desain suratkabar juga membutuhkan garis tipis untuk memisahkan iklan dan berita. Garis ini adalah lambang pagar api atau "fire wall" yang mencerminkan prinsip antara berita dengan iklan harus tegas dipisahkan. Iklan adalah iklan. Berita adalah berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan, misalnya, harian Financial Times, International Herald Tribune, The New York Times, atau Wall Street Journal. Mereka selalu menorehkan garis tipis dengan rapi untuk memisahkan iklan dengan berita. Di Asia, tengok saja harian The Bangkok Post, Asahi Shimbun (Tokyo), atau South China Morning Post (Hongkong). Mereka dengan rajin setiap hari membubuhkan garis tipis. Majalah macam Far Eastern Economic Review maupun Asiaweek juga menghormati garis sakral ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan dengan Kompas, Tempo, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Republika, The Jakarta Post, atau harian daerah macam Suara Merdeka (Semarang), Jawa Pos (Surabaya), dan Singgalang (Padang). Ternyata rombongan suratkabar ini tak memiliki garis lambang pagar api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bill Kovach, wartawan veteran harian The New York Times dan kurator The Nieman Foundation for Journalism di Universitas Harvard, Amerika Serikat, mengatakan pagar api hukumnya wajib bagi setiap media massa. Setiap suratkabar seyogyanya mencetak garis tipis tersebut. "Tak perlu dipertanyakan lagi," kata Kovach.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harold Ross, redaktur majalah The New Yorker, menganggap sedemikian sakralnya pagar api itu sampai-sampai ruang redaksi dan pemasarannya pun dipisahkan. Ruang redaksi di lantai yang berbeda dengan ruang iklan dan distribusi. Ross bahkan tak menganjurkan para wartawannya banyak bicara dengan orang pemasaran. Ia khawatir obrolan itu akan mempengaruhi cara pandang si wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jelas mengapa suratkabar Indonesia tak biasa mencantumkan garis tipis itu. Mungkin ada redaktur yang berpendapat toh hanya lambang. Tidakkah lebih penting substansinya? Yang lain berpendapat hanya menambah pekerjaan, ongkos produksi, dan makan waktu. Mungkin juga alasan sejarah. Suratkabar Indonesia lebih merupakan alat perjuangan melawan kekuasaan ketimbang medium berita yang dikelola dengan profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini zaman berubah. Wartawan sekarang bisa bekerja lebih bebas, tanpa takut sensor atau bredel. Keleluasaan itu seyogyanya ditanggapi pula dengan cara kerja yang lebih baik, lebih etis, dan lebih disiplin dalam memisahkan berita dan iklan. Apalagi tekanan pasar makin meningkat. Kompetisi berebut kue iklan juga makin ketat. Persaingan ini seringkali membuat para redaktur lupa bahwa berita mereka bukan "berita pesanan" terutama karena dana atau kompensasi apapun dari pemesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suratkabar Indonesia makin hari makin memperlihatkan campurnya berita dan iklan. Ada harian terkemuka Jakarta yang menciptakan rubrik foto upacara, kegiatan hotel, kegiatan sosial, pameran, peresmian ini dan itu, setiap Rabu dan Minggu dengan penampilan berita. Padahal rubrik ini sepenuhnya iklan. Ada juga mingguan terkemuka yang beberapa minggu lalu menurunkan berita perjalanan dengan kapal mewah, saat si wartawan sepenuhnya disponsori si empunya bisnis pariwisata, dan laporannya muncul sebagai berita. Lengkap dengan foto-foto yang disediakan pihak sponsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk majalah perempuan jangan ditanya, dari iklan minyak wangi hingga mode pakaian, banyak yang dibiayai industri kecantikan. Kini advertorial tidak pernah dipermasalahkan lagi. Makin banyak suratkabar Indonesia yang membuat advertorial dengan wajah sama dengan berita. Advertorial, sekadar mengingatkan, adalah gabungan dua kata: advertisement dan editorial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagar api mengingatkan bahwa orang advertisement tak boleh ikut campur urusan editorial. Sebaliknya redaktur dan wartawan juga tak usah ikut campur urusan iklan. Pagar ini sebenarnya memudahkan kerja jurnalisme. Bagian iklan tak direpoti kerewelan wartawan. Sementara para wartawan juga tahu bahwa ia benar-benar menulis berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa risiko pelanggaran pagar api? Jawabnya bisa bermacam-macam, dari yang sederhana hingga yang serius. Yang jelas kepercayaan pembaca terhadap suratkabar bersangkutan bakal digerogoti. Mungkin pelan, mungkin cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paralel dengan dilanggarnya pagar api adalah dilanggarnya pemisahan peranan masing-masing golongan dalam masyarakat. Kalau meminjam ajaran Hindu, seorang birokrat dianjurkan tak berdagang. Seorang pedagang sebaliknya tak usah sok intelektual. Tentara jangan ikut mengatur perdagangan. Kalau batas-batas itu dilanggar, etika masyarakat compang-camping. Buktinya ya rezim Orde Baru. Tentara kok merangkap pedagang! Sistem sosial, politik, dan ekonomi Indonesia terbukti rapuh ketika dihantam krisis ekonomi 1997-1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Indonesia menghadapi macam-macam persoalan yang tak mudah dicarikan jalan keluarnya. Mulai dari sistem perbankan yang keropos hingga utang luar negeri yang bertumpuk. Mulai separatisme hingga pertikaian antaragama, suku, hingga ideologi. Di Aceh, Maluku, Papua, dan Kalimantan. Isu keadilan, baik dan jahat, dosa masa lalu, harapan masa depan, semua ibarat ombak lautan, datang menerpa, tiap saat memenuhi halaman-halaman koran Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Justru dalam situasi sulit macam inilah, media diuji untuk menunjukkan kemampuan menyediakan informasi yang akurat, jujur, dan fair kepada para pembaca. Media yang baik bakal membantu pembacanya mengambil keputusan yang tepat dalam situasi sulit. Dan suratkabar terbukti kebesarannya ketika mampu melalui masa-masa sulit di tengah para pembacanya. Mereka melewatinya dengan anggun, jujur, dan menghormati prinsip pagar api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berpendapat sudah saatnya suratkabar Indonesia menorehkan garis tipis lambang pagar api. Pagar api ini akan mengingatkan pembaca bahwa suratkabar mereka bukan berisi "berita pesanan." Wartawan tiap hari juga diingatkan mereka tak boleh menulis berita pesanan. Pagar api inilah salah satu cerminan filsafat dasar jurnalisme.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-7462917831480548800?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/7462917831480548800/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=7462917831480548800' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/7462917831480548800'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/7462917831480548800'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/05/pagar-api.html' title='Pagar Api'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-6808127108539742099</id><published>2008-04-18T04:58:00.000-07:00</published><updated>2008-04-23T02:25:35.677-07:00</updated><title type='text'>Hotel Rwanda, Live from Baghdad, Lord War</title><content type='html'>SUATU malam di pertengahan 2005, di Kebayoran Lama, Jakarta, saya memutar kepingan vcd bajakan. Ada dua kepingan. Di sampul luar tertulis “Hotel Rwanda”. Memang vcd sebuah film. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkisah tentang pria kulit hitam yang bekerja di Hotel Rwanda. Dia orang Tutsi. Istrinya dari Hutu. Rwanda kacau. Orang Tutsi mencari laki dan wanita Hutu. Tujuannya hanya satu: Bantai! Tiba-tiba saya teringat saat berada di tengah-tengah "perang saudara" di Ambon, awal 2004 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditemani seorang perempuan relawan berkulit putih, sang suami berusaha menyelamatkan keluarganya dan orang-orang Hutu lainnya. Tempat teraman di kota itu hanya di Hotel Rwanda. Sebab di hotel inilah para warga asing termasuk pekerja United Nations ditampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Tutsi tetap Tutsi dan Hutu adalah Hutu, namun tetap ada balancing kemanusiaan di film ini. Antara istri, nyawa, atau ratusan nyawa lainnya yang berlindung di hotel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali saya memutar kepingan film ini. Saya tidak bosan. Padahal semua yang menjadi tokoh di film ini saya tidak tahu namanya. Keseringan menyaksikan Hotel Rwanda membuat saya tiba di satu kesimpulan; dunia ini sangat tidak nyaman!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LALU suatu senja di penghujung 2005, saya berjalan-jalan ke Citraland Plaza di sudut Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat. Di basement, secara kebetulan tiba di penjualan vcd dan DVD. Mata tertarik ke sebuah sebuah sampul hijau. Di tengahnya tertera “Live from Baghdad”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kepingan vcd sebuah film. Katanya kisah nyata dari seorang wartawan sebuah televisi swasta yang bertugas di Baghdad, Irak. Saya tidak tahu siapa nama pemerannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia nyaris menjadi tokoh sentral di film ini. Tak ada “perlawanan” dari tokoh-tokoh lainnya. Film ini hampir mendekati kata; menjemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, berkali-kali saya memutar kepingan film ini. Hingga akhirnya saya sampai di satu kesimpulan; apa yang terpampang di Hotel Rwanda sudah benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU sore di awal 2006, di kawasan Roxi, Jakarta, saya mampir di Studio 21. Setelah mencermati empat film yang diputar saat itu, saya memilih Lord War. Tokoh sentral diperankan Nicolas Cage. Begitu yang tertulis di awal film.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pangeran selalu mencari kawasan merah. Kawasan yang siap membantai. Sebisanya, kawasan yang siap saling membantai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tak dapat medan seperti ini, maka sang pangeran menciptakan kawasan itu. Penampilannya yang parlente sangat kontras dengan audiensnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film itu tak banyak berkisah. Selalu fokus ke satu hal; pertempuran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bukan kisah nyata, namun tergambar jelas bagaimana sepak terjang seorang pialang senjata. Ketegangan adalah pangsa pasar. Pertempuran adalah perdagangan. Jika tak ada perang maka ciptakanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lord War memang diciptakan untuk menjadi pangeran perang. Meski hanya sekali menyaksikannya namun saya sudah memiliki satu kesimpulan; perang dan ketidaknyamanan diciptakan oleh segelintir orang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 18 April 2008. 20.00&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-6808127108539742099?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/6808127108539742099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=6808127108539742099' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6808127108539742099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6808127108539742099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/04/hotel-rwanda-live-from-baghdad-lord-war.html' title='Hotel Rwanda, Live from Baghdad, Lord War'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-7674842001691548878</id><published>2008-04-06T23:14:00.001-07:00</published><updated>2008-04-28T02:54:26.123-07:00</updated><title type='text'>eksekusi sinta</title><content type='html'>jakarta akhir desember 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UJUNG parang Dedi melekat di leher sinta. Saya dan Doel bertugas memegang kaki sinta. Kami mengambil posisi jongkok. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siap?" Tanya Dedi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke bos," jawab saya dibarengi anggukan Doel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut Dedi komat-kamit membaca mantera. Tak terdengar. Entah apa isi manteranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelabat, parang Dedi mulai bekerja. Ke bawah. Ke atas. Bawah lagi. Atas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinta mencoba meronta. Kakinya menghentak cukup kuat. Tubuh saya bergetar. Doel malah mulai berkeringat. Kami berdua mempererat pegangan. Takut terlepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah segar muncrat dari leher sinta. Kulit dan daging leher menganga. Satu urat sebesar kelingking terputus. Ceceran darah terus mengalir. Semakin deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dedi menggigit bibir bawahnya. Parangnya terus mencoba menggerogoti tulang leher sinta. Hingga akhirnya, "Krraaakkkkk.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parang nyaris mematahkan leher sinta. Hentakan sinta melemah. Nyawanya meregang. Badannya bergerak. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Dua puluh detik berlalu sinta sudah tak bergerak. Mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan saya tetap di kaki sinta. Doel berdiri. Menyeka keringat di dahinya. Dedi menarik secarik kertas koran untuk membersihkan parang. Eksekusi sinta berakhir. Tak ada penyelasan di wajah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama empat kawannya, sinta menjadi penghuni Gang Adam, Kebayoran Lama, Jakarta, sejak Selasa lalu. Saya memilih turut mengeksekusi sinta lantaran tergoda dengan penampilannya. Pantatnya montok. Bulunya lebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak berada di Gang Adam, sinta sudah menarik perhatian banyak orang. Termasuk saya. Beberapa anak sering saya pergoki mencandai sinta. Ada yang membelainya. Ada juga yang memukul-mukul pantatnya. Sinta jadi idola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, tibalah hari eksekusi itu. Siang kemarin, bertempat di halaman seorang warga, sinta dan empat kawannya menghadapi sakratul maut. Kebetulan, saya kebagian tugas membantu eksekusi sinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik-detik jelang eksekusi, Dedi masih sempat mengasah parangnya. Saya melonggarkan otot-otot tangan. Mencoba pemanasan biar tidak kaku. Doel berusaha santai dengan merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu muncullah seorang lelaki tua sambil menarik sinta. Setengah memaksa. Saya menghela napas panjang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai disembelih, saya mengambil sedikit daging sinta. Mau dibuat sate. Sinta adalah nama pemberian warga Gang Adam kepada seekor kambing yang menjadi hewan kurban pada Iduladha kemarin. (buyung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-7674842001691548878?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/7674842001691548878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=7674842001691548878' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/7674842001691548878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/7674842001691548878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/04/eksekusi-sinta.html' title='eksekusi sinta'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-4415278850692046659</id><published>2008-03-28T04:12:00.000-07:00</published><updated>2008-03-28T04:16:27.778-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-zTQ-Kh2RI/AAAAAAAAACs/Xq7MJDpFMWQ/s1600-h/K+aMbA%C3%8C%CB%86.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-zTQ-Kh2RI/AAAAAAAAACs/Xq7MJDpFMWQ/s320/K+aMbA%C3%8C%CB%86.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182749559715125522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;in the future...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-4415278850692046659?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/4415278850692046659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=4415278850692046659' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/4415278850692046659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/4415278850692046659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/03/in-future.html' title=''/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-zTQ-Kh2RI/AAAAAAAAACs/Xq7MJDpFMWQ/s72-c/K+aMbA%C3%8C%CB%86.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-8869537882002824086</id><published>2008-03-28T04:09:00.000-07:00</published><updated>2008-03-28T04:12:14.221-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-zSTuKh2QI/AAAAAAAAACk/z-Vpdq-i0xI/s1600-h/EINSTEIN-FAJAR-UTK-MAL.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-zSTuKh2QI/AAAAAAAAACk/z-Vpdq-i0xI/s320/EINSTEIN-FAJAR-UTK-MAL.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182748507448137986" /&gt;&lt;/a&lt;br /&gt;maumi diapa....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-8869537882002824086?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/8869537882002824086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=8869537882002824086' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/8869537882002824086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/8869537882002824086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/03/maumi-diapa.html' title=''/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-zSTuKh2QI/AAAAAAAAACk/z-Vpdq-i0xI/s72-c/EINSTEIN-FAJAR-UTK-MAL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-6085934088536823549</id><published>2008-03-27T04:13:00.000-07:00</published><updated>2008-03-27T04:16:09.287-07:00</updated><title type='text'>Selamat Datang Para Pembisik</title><content type='html'>Oleh: Buyung Maksum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBISIK bukan hanya ada di zaman Presiden Abdurrahman Wahid. Tahun depan, “pembisik” bupati dan walikota pun dilegitimasi dalam sebuah peraturan pemerintah. Pembisik; seksi, basah, namun bisa juga jadi biang keributan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang memungkinkan kehadiran “pembisik” tadi. Bukan hanya satu orang, tapi jumlahnya bisa tiga pembisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tergantung dari tipe sebuah kabupaten/kota. Semisal, untuk tipe sedang seperti Soppeng, bupati Andi Soetomo berhak didampingi tiga pembisik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam PP tersebut, pembisik diberi status “staf ahli”. Mereka bertanggung jawab langsung kepada bupati. Ada staf ahli bidang pemerintahan, bidang pembangunan, dan bidang kemasyarakatan. Pada prinsipnya, lingkup tugas staf ahli ini sama dengan kewenangan para asisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara khusus, sebenarnya PP ini lebih mengatur tentang kelembagaan sebuah daerah. Jumlah OPD ini sangat bergantung pada skoring berbagai faktor. Seperti jumlah penduduk dan luas wilayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Soppeng yang berpenduduk 225.984 jiwa (BPS 2006) dengan luas wilayah 1.359,44 kilometer persegi. Maka jumlah skor untuk jumlah penduduk adalah 16 dan luas wilayah 14. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang APBD meraih skor 15. Akumulasi skor adalah 45. Sehingga untuk penataan kelembagaan, pemerintah setempat bisa membentuk maksimal 15 dinas plus sepuluh lembaga teknis. Ditambah tiga staf ahli bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menetapkan dinas dan lembaga teknis tentunya bukan hal mudah. Butuh kreativitas pimpinan masing-masing daerah. Maklum, sangat susah menempatkan seorang pejabat tanpa harus mengorbankan eselon bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain sisi, status dan jumlah kelembagaan juga jadi ajang pertaruhan martabat daerah. Sebut saja Kabupaten Bone yang memaksa peningkatan tipe Rumah Sakit Umum Tenriawaru melalui akreditasi. Setelah lolos akreditasi maka RSU ini kelak tak lagi dipimpin oleh seorang direktur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan PP Nomor 41 tadi, maka RSU Tenriawaru berubah menjadi badan dan dikomandoi seorang kepala. Pejabat yang memipin RSU ini bereselon IIb atau setara kepala dinas. Seandainya tak lolos akreditasi, RSU ini tetap dipimpin pejabat eselon IIIa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah eselon ini diatur dalam bab VII di PP tersebut, khususnya pasal 34 ayat 3 dan 4. Pada ayat 3 berbunyi; kepala biro, direktur RSUD kelas B, wakil direktur RSU kelas A, dan direktur RSU khusus daerah kelas A merupakan jabatan struktural eselon IIb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada ayat 4 tertulis; kepala kantor, kepala bagian, sekretaris pada dinas, badan dan inspektorat, kepala bidang dan inspektur pembantu, direktur RSUD kelas C, direktur RS khusus daerah kelas B, wakil direktur RSUD kelas B, wakil direktur RS khusus daerah kelas A, dan kepala unit pelaksana teknis dinas dan badan, merupakan jabatan struktural eselon IIIa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, prinsip dasar PP ini adalah penataan struktur dan efisiensi organisasi perangkat daerah. Hanya saja, maksud baik ini tak dibarengi perbaikan regulasi di sektor pengelolaan keuangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revisi Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 memunculkan keraguan itu. Karena dianggap terlalu mengekang improvisasi seorang bendahara, pemerintah kemudian merevisi aturan ini menjadi Permendagri Nomor 59 Tahun 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil revisi sangat menakjubkan. Bendahara-bendahara OPD dengan leluasa berimprovisasi. Tak ada lagi rasa takut tersandung pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bendahara tak harus melakukan pembelajaan dengan pola terpaku. Pembelian sebuah jenis barang bisa diganti dengan barang lain meski harga pasar berbeda. Di pertanggungjawaban, tentu saja harganya sama. Apalagi soal manipulasi Permainan &lt;br /&gt;Surat Perintah Perjalanan Dinas (SPPD).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua bisa diatur,” kata seorang bendahara di salah satu OPD milik Kabupaten Luwu kepada saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 ini tampaknya sudah dirancang sedemikian rupa. Bahkan sejalan dengan PP Nomor 41 Tahun 2007 tadi. Dalam permendagri tersebut disebutkan, tak ada lagi nomor rekening bank untuk dinas pendapatan daerah (dipenda). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbasnya, para pengambil kebijakan di kabupaten/kota pun langsung merombak dipenda mereka. Lalu terbentuklah badan pengelola keuangan dan aset daerah (BPKAD). Sejumlah dipenda dilebur ke badan ini. Padahal, hingga detik ini, PP tadi belum berlaku efektif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum melakukan perombakan, sebaiknya setiap pemerintah kabupaten/kota mencermati beberapa hal. Pertama, mengindentifikasi isu-isu strategis daerah yang merupakan kebutuhan riil daerah dengan persetujuan bersama stakeholder. Kedua, menyusun prioritas isu-isu strategis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, isu-isu itu kemudian dijadikan sebagai dasar atau tolok ukur pertimbangan utama dalam penyusunan OPD. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin tinggi prioritas isu-isu strategis daerah, semakin besar susunan organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi urutan prioritas suatu isu strategis daerah berarti semakin besar masalah dalam masyarakat yang harus segera diselesaikan. Dengan demikian, tentu saja dibutuhkan OPD yang semakin besar pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke “pembisik”. Di Sulsel, baru Bulukumba yang menolak posisi ini. Tak tempat bagi pembisik di sisi Sukri Sappewali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di Takalar, Ibrahim Rewa ternyata butuh pembisik. Ketua Komisi Pemerintahan DPRD setempat, Abdul Majid Makkaraeng, beralasan bahwa itu adalah amanah PP. Jika kelak aturan ini berlaku efektif, maka Takalar harus memangkas dua dinas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya pekerjaan sulit bagi Rewa untuk menentukan siapa pejabat yang harus tergusur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai pembisik, baik diminta maupun tidak, mereka berhak mengajukan pendapat dan saran kepada Rewa sesuai bidang keahliannya. Sekali lagi, diminta atau tidak.&lt;br /&gt;Persoalan substansial dari PP Nomor 41 Tahun 2007 ini mungkin ada di posisi ini; staf ahli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab dipastikan, suatu saat, bisikan staf ahli akan bertentangan dengan saran dan kajian dari asisten. Maklum, staf ahli dan asisten memiliki leading sector sama namun tujuan pelaporan berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika ini terjadi, maka naga-naganya adalah pertarungan antara bupati dengan sekretaris kabupaten. Sekali lagi, ini masalah kewenangan, status, dan tentu saja gengsi. (#)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 28 Desember 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-6085934088536823549?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/6085934088536823549/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=6085934088536823549' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6085934088536823549'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6085934088536823549'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/03/selamat-datang-para-pembisik.html' title='Selamat Datang Para Pembisik'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-5375354261058289179</id><published>2008-03-27T00:15:00.000-07:00</published><updated>2008-03-27T00:23:08.467-07:00</updated><title type='text'>bang abraham</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-tJ6eKh2NI/AAAAAAAAACM/IDsiMM_NX5Y/s1600-h/AbrahamLincoln5-500.jpg"&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-tJ6eKh2NI/AAAAAAAAACM/IDsiMM_NX5Y/s320/AbrahamLincoln5-500.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182317065098352850" /&gt;&lt;br/&gt;&lt;/a&gt;tidak penting mengetahui siapa kakekku, tapi yang lebih penting akan menjadi apa cucuku kelak...&lt;br/&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-5375354261058289179?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/5375354261058289179/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=5375354261058289179' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/5375354261058289179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/5375354261058289179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/03/bang-abraham.html' title='bang abraham'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-tJ6eKh2NI/AAAAAAAAACM/IDsiMM_NX5Y/s72-c/AbrahamLincoln5-500.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-3780425896407693586</id><published>2008-03-26T23:59:00.000-07:00</published><updated>2008-04-22T23:53:50.380-07:00</updated><title type='text'>om bob</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-tGa-Kh2MI/AAAAAAAAACE/pTsYwqrwiiw/s1600-h/bobo+marley+bagus.jpg"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-tGa-Kh2MI/AAAAAAAAACE/pTsYwqrwiiw/s320/bobo+marley+bagus.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5182313225397590210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br/&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;untuk secercah masa depan, anda tidak akan bisa melupakan setonggak masa lalu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-3780425896407693586?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/3780425896407693586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=3780425896407693586' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3780425896407693586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3780425896407693586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2008/03/om-bob.html' title='om bob'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R-tGa-Kh2MI/AAAAAAAAACE/pTsYwqrwiiw/s72-c/bobo+marley+bagus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-6419002701654561961</id><published>2007-12-10T22:23:00.000-08:00</published><updated>2007-12-10T22:36:19.863-08:00</updated><title type='text'>Pidato Pramoedya di Magsaysay</title><content type='html'>February 7, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra, sensor dan negara: Seberapa jauh bahaya bacaan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Pramoedya Ananta Toer *) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya warganegara Indonesia dari etnik Jawa. Kodrat ini menjelaskan, bahwa saya dibesarkan oleh sastra Jawa, yang didominasi oleh sastra wayang, lisan mau pun tulisan, yang berkisah tentang Mahabharata dan Ramayana versi Jawa, serta &lt;br /&gt;kunyahan-kunyahan atasnya dengan masih tetap bertumpu pada kewibaan Hindu. Sastra yang dominan ini tanpa disadari mengagungkan klas atau kasta satria, sedang klas-klas atau kasta- kasta dibawahnya tidak punya peran sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan pokok kasta satria adalah membunuh lawannya. Selain sastra wayang yang agak dominan adalah sastra babad, juga mengagungkan kasta satria, yang ditangan para pujangganya menyulap kejahatan atau kekalahan para raja menjadi mitos yang fantastik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu contoh bagaimana pujangga Jawa memitoskan kekalahan Sultan Agung, raja pedalaman Jawa, yang dalam operasi militer terhadap Batavia-nya Belanda pada dekade kedua abad 17 telah mengalami kekalahan total. Akibatnya Mataram kehilangan &lt;br /&gt;kekuasaannya atas Laut Jawa sebagai jalan laut internasional. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menutupi kehilangan tersebut pujangga Jawa menciptakan Dewi Laut Nyai Roro Kidul sebagai selimut, bahwa Mataram masih menguasai laut, di sini Laut Selatan (Samudera Hindia). Mytos ini melahirkan anak-anak mytos yang lain: bahwa setiap raja Mataram beristerikan Sang Dewi tersebut. Anak mytos lain: ditabukan berpakaian hijau di pantai Laut Selatan. Ini untuk memutuskan asosiasi orang pada pakaian hijau Kompeni Belanda. Dan tanpa disengaja oleh pujangganya sendiri Sang Dewi telah mengukuhkan kekuasaan para raja Mataram atas rakyatnya. Bahkan menjadi polisi &lt;br /&gt;batin rakyat Mataram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini kita berhadapan dengan sastra dalam hubungan dengan negara, dan dipergunakan oleh negara, dengan fungsi pengagungan kastanya sendiri. Diturunkan dari generasi ke generasi akibatnya adalah menafikan kemajuan zaman, memberikan beban histori yang &lt;br /&gt;tidak perlu, membuat orang beranggapan bahwa masa lalu lebih baik daripada yang sekarang. Pendapat ini yang membuat saya meninggalkan sama sekali sastra demikian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meninggalkan sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan dan berfungsi memangku kekuasaan semacam itu, sejauh pengalaman saya, langsung saya bertemu dengan sastra hiburan, memberikan umpan pada impian-impian naluri purba pada pembacanya. Sejalan dengan Machiavelli, sastra demikian menjadi bagian alat tak langsung kekuasaan agar masyarakat tak punya peerhatian pada kekuasaan negara. Singkatnya, agar masyarakat tidak berpolitik, tidak mengindahkan politik. Sastra dari kelompok kedua ini membawa &lt;br /&gt;pembacanya berhenti di tempat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pengalaman pribadi sebagai anak keluarga pejuang kemerdekaan maka saya memaafkan diri sendiri kalau tidak menyukai sastra golongan kedua ini. Seiring dengan pengalaman pribadi tersebut, walau pada awalnya tidak saya sadari, langsung saya tertarik pada sastra yang bisa memberikan keberanian, nilai-nilai baru, cara pandang-dunia baru, harkat manusia, dan peran individu dalam masyarakatnya. Estetika yang dititikberatkan pada bahasa dan penggunaannya dianggarkan pada orientasi baru peranan individu dalam masyarakat yang dicitakan. Sastra dari golongan ketiga ini yang kemudian jadi kegiatan saya di bidang kreasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap karya sastra adalah otobiografi pengarangnya pada tahap dan sitiuasi tertentu. Maka juga ia produk individu dan bersifat individual. Persembahannya kepada masyarakat tak lain dari sumbangan individu pada kolektivitas. Juga dalam hubungan kekuasaan, standar budaya yang berlaku, sikap pengarang sebagai individu terpancarkan baik dengan sadar atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sini tugas pengarang adalah melakukan evaluasi dan reevalusi kemapanan di semua bidang kehidupan. Laku ini diambil karena pengarang bersangkutan tidak puas, bahkan merasa terpojokkan, bahkan tertindas oleh kemapanan yang berlaku. Ia berseru, malah melawan, bahkan memberontak. Bukan suatu kebetulan bila pernah dikatakan pengarang - dengan sendirinya dari golongan ketiga ini - dinamai opposan, pemberontak, bahkan biang revolusi seorang diri dalam kebisuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di negara-negara dengan kehidupan demokratis beratus tahun kalah- menang dalam pertarungan idea adalah suatu kewajaran. Itu bukan berarti bahwa demokrasi tidak punya cacad. Eropa yang demokratis di Eropa justru tidak demokratis di negeri-negeri yang dijajahnya. Sebagai akibat di negeri-negeri jajahannya yang tak mengenyam demokrasi kalah-menang dalam pertarungan idea bisa dilahirkan dendam berlarut sebagai akibat konsep tradisional tentang gengsi pribadi dan panutan patrimonial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia sensor atas karya sastra dikenal baru dalam dekade kedua abad ini. Sebelumnya atas karya sastra sensor lebih banyak ditujukan pada mass-media. Dan sejalan dengan tradisi hukum tindakan terhadap delik pers diputuskan melalui pengadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan terhadap beredarnya beberapa karya sastra Mas Marco Kartodikromo, di luar tradisi, diberlakukan tanpa prosedur hukum, dan dilakukan oleh pejabat-pejabat Pribumi kolonial setempat- setempat. Larangan dan penyitaan, juga oleh pejabat kolonial Pribumi pernah dilakukan terhadap karya ayah saya, tetapi karya itu bukan karya sastra tetapi teks pelajaran sekolah-sekolah dasar yang tidak mengikuti kurikulum kolonial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larangan terhadap karya sastra memang suatu keluarbiasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berabad lamanya setelah kerajaan-kerajaan maritim terdesak kekuatan Barat dan menjadi kerajaan-kerajaan pedalaman atau desa yang agraris kekuasaan feodalisme yang semata-mata dihidupi petani mengakibatkan lahirnya mentalitas baru yang juga merosot. Para pujangga Jawa mengukuhkan budaya "teposliro" (tahu diri), &lt;br /&gt;kesadaran tentang tempat sosialnya terhadap kekuasaan sesuai dengan hierarkinya, dari sejak kehidupan dalam keluarga sampai pada puncak kekuasaan. Penggunaaan eufemisme (= Jawa : kromo) sampai 7 tingkat yang berlaku sesuai hierarki kekuasaan &lt;br /&gt;menterjemahkan semakin kerdilnya budaya tradisional. Maka dalam sastra Jawa evaluasi dan reevaluasi budaya belum pernah terjadi. Itu bisa terjadi hanya dengan menggunakan bahasa Indonesia, yang kalau perlu, menafikan semua eufemisme, maka juga dalam sastra Indonesialah sensor kekuasaan bisa terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide-ide dari semua penjuru dunia yang ditampung oleh masyarakat modern Indonesia pada menjelang akhir abad 20 sudah tak mungkin dibendung pantulannya oleh kekuasaan yang segan menjadi dewasa. Untuk memungkinkan orang-orang dengan kekuasaan negara dapat tidur dengan nyenyak tanpa perlu memajukan dirinya lembaga sensor memang perlu diadakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawa dikodratkan memiliki faktor-faktor geografi yang menguntungkan. Dari semua pulau di Indonesia di Jawalah penduduknya berkembang sebagai faktor-faktor klimatologis yang mendukung pertanian. Bukan suatu kebetulan bila kolonialis &lt;br /&gt;Belanda membuat Jawa jadi pusat imperium dunianya di luar Eropa. Dengan kepergiannya, masih tetap jadi pusat Indonesia, dengan penduduknya mayoritas di seluruh Indonesia, masuknya sejumlah budaya tradisional ke dalam kekuasaan negara memang tidak dapat dihindarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara budaya tradisional Jawa yang terasa menekan ini adalah "tepo-sliro", kehidupan kekuasaan sekarang dinamai dengan bahasa Inggris "self-cencorship". Nampaknya elite kekuasaan malu menggunakan nama aslinya. Dengan demikian menjadi &lt;br /&gt;salah satu faset dalam kehidupan modern Indoensia bagaimana orang menyembunyikan atavitas/atavisme. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cenderung memasukkan sastra golongan ketiga ini ke dalam sastra avant garde. Saya nilai pengarangnya mempunyai keberanian mengevaluasi dan mereevaluasi budaya dan kekuasaan yang mapan. Dan sebagai individu seorang diri sebaliknya ia pun harus &lt;br /&gt;menanggung seorang diri pukulan balik setiap individu lain yang merasa terancam kemapanannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sampai seberapa jauh karya sastra dapat berbahaya bagi negara? Menurut pendapat saya pribadi karya sastra, di sini cerita, sebenarnya tidak pernah menjadi bahaya bagi negara. Ia ditulis dengan nama jelas, diketahui dari mana asalnya, dan juga &lt;br /&gt;jelas bersumber dari hanya seorang individu yang tak memiliki barisan polisi, militer, mau pun barisan pembunuh bayaran. Ia hanya bercerita tentang kemungkinan kehidupan lebih baik dengan pola-pola pembaruan atas kemapanan yang lapuk, tua, dan kehabisan kekenyalannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu setiap negara pada setiap saat bisa berubah dasar sistemnya, dengan atau tanpa karya sastra avant garde. Perubahan demikian telah dialami oleh negara Indonesia sendiri dari demokrasi liberal menjadi demokrasi terpimpin dan kemudian &lt;br /&gt;demokrasi pancasila, yaitu era kemerdekaan nasional setelah tumbangnya negara kolonial yang bernama Hindia Belanda dan peralihan pendudukan militeristis Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masa demokrasi liberal di mana negara tetap berdasarkan pancasila yang tak &lt;br /&gt;banyak acuhkan, dalam masa demokrasi terpimpin, sewaktu Presiden Soekarno dengan segala konsekuensinya hendak mandiri dan mengebaskan pengaruh dan keterlibatan perang dingin para adikuasa, pancasila lebih banyak dijadikan titik berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soekarno sebagai penggali pancasila tidak bosan-bosannya menerangkan bahwa pancasila di antaranya digali dari San Min Chui Sun Yat Sen, Declaration of Independence Amerika Serikat, dan Manifes Komunis dalam hal keadilan sosial. Semasa demokrasi pancasila yang ditandai dengan gerakan de-Soekarnoisasi, rujukan-rujukan pancasila bukan saja tidak pernah disebut lagi bahkan pernah ada upaya dari seorang sejarawan orde baru yang mebuat teori bahwa pancasila bukan berasal dari Soekarno. Dalam sejumlah peralihan ini tidak pernah terbukti ada karya sastra yang memberikan &lt;br /&gt;pengaruhnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang sastra avant garde praktis belum pernah lahir. Karya-karya sastra Indonesia praktis baru bersifat deskriptif. Bila toh ada avant garde yang lahir itu terjadi semasa penindasan militerisme Jepang, suatu pemberontakan yang terjadi sama kerasnya dengan penindasannya. Individu tersebut, Chairil Anwar, dengan sajaknya "Aku", menyatakan Aku binatang jalan/Dari kumpulannya terbuang. Ia menolak diperlakukan sebagai binatang ternak Jepang, yang hanya harus melakukan perintah &lt;br /&gt;Jepang, dan memisahkan diri dari selebihnya. Ia sendirilah yang harus bertanggung-jawab atas karyanya. Kempeitei menangkap dan menganiayanya. Memang kemudian ia dibebaskan. Ironisnya masyarakat pembaca yang banyak membaca dan menyukai sajak &lt;br /&gt;tersebut dan umumnya tak dikaitkan dengan masa pendudukan militeris Jepang waktu ia menciptakannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf kalau saya hanya bicara tentang sastra Indonesia. Namun saya percaya bicara tentang sastra mana pun adalah juga bicara -walau tak langsung- tentang sastra regional dan internasional sekaligus, karena setiap karya sastra adalah otobiografi seorang individu, seorang dari ummat manusia selebihnya, yang mempersembahkan pengalaman batinnya pada kolektivitas pengalaman umat manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan historinya Indonesia memerlukan sebarisan besar pengarang dari golongan avant garde. Berabad lamanya rakyat bawah membiayakan feodalisme. Dengan kemenangan kolonialisme mereka kemudian juga harus membiayai hidupnya kolonialisme. Walau &lt;br /&gt;feodalime sebagai suatu sistem sudah dihapuskan oleh proklamasi kemerdekaan namun watak budayanya masih tetap hidup, bahkan elite kekuasaan mencoba melestarikannya. Sstra avant gardelah yang menawarkan evaluasi, reevalusi, pembaruan, dan dengan sendirinya keberanian untuk menanggung resikonya sendirian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini menjadi jelas bahwa cerita, karya sastra, sama sekali tidak berbahaya bagi negara yang setiap waktu dapat berganti dasar dan sistem. Karya sastra para pengarang avant garde hanya mengganggu tidur pribadi-pribadi dalam lingkaran elit kekuasaan, yang kuatir suatu kali cengkeramannya atas rakyat bawahan bisa &lt;br /&gt;terlepas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri, walau berasal dari keluarga pejuang kemerdekaan dan sendiri pun pejuang kemerdekaan, dalam 50 tahun kemerdekaan nasional ternyata justru kehilangan kemerdekaan pribadi saya selama 35,5 tahun. 2,5 tahun dirampas Belanda, hampir satu tahun dirampas kekuasaan militer semasa orde lama, dan 30 tahun semasa orde baru, di antaranya 10 tahun kerja paksa di Pulau Buru dan 16 tahun sebagai ternak juga hanya dengan kode ET, artinya tahanan di luar penjara. Sebagai pengarang barang tentu saya berontak terhadap kenyataan ini. Maka dalam karya-karya saya, saya mencoba berkisah tentang tahap-tahap tertentu perjalanan bangsa ini dan mencoba menjawab: mengapa bangsa ini jadi begini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa karya-karya dilarang beredar di tanah air saya sendiri atas permintaan beberapa pribadi dalam elite kekuasaan, bagi saya tidak jadi soal. Larangan-larangan tersebut malah memberi nilai lebih pada karya-karya tersebut tanpa disadari oleh kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang heran mengapa bagi saya sastra bertautan erat dengan politik. Saya tidak akan menolak kenyataan itu. Menurut pandangan saya setiap orang dalam kehidupan bermasyarakat, apalagi berbangsa, selalu bertautan dengan politik. Bahwa &lt;br /&gt;seseorang menerima, menolak, bahkan mengukuhi suatu kewarganegaraan adalah suatu sikap politik. Bahwa seseorang mengibarkan bendera kebangsaannya, itu adalah perbuatan politik. Bahwa seseorang membayar pajak, itu adalah pengakuan pada &lt;br /&gt;kekuasaan, jadi juga berarti ketaatan politik. Juga sastra tidak bisa lepas dari politik sejak sastra itu sendiri dilahirkan umat manusia. Selama ada masyarakat manusia dan kekuasaan yang mengatur atau pun merusaknya, di situ setiap individu bertautan dengan politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah lahir anggapan bahwa politik adalah kotor, maka sastra harus terpisahkan dari politik. Memang bisa saja politik kotor di tangan dan dari hati politisi yang kolot. Kalau ada yang kotor barang tentu juga ada yang tidak kotor. Dan bahwa sastra &lt;br /&gt;sebaiknya harus terpisahkan dari politik sebenarnya keluar dari pikiran para pengarang yang politiknya adalah tidak berpolitik. Politik sendiri tidak bisa diartikan hanya sebatas kepartaian, ia adalah semua aspek yang bersangkutan dengan kekuasaan, dan selama masyarakat ada kekuasaan juga ada, tak peduli bagaimana &lt;br /&gt;eksistensinya, kotor atau bersih. Dan dapat dikatakan sastra yang "menolak" politik sesungguhnya dilahirkan oleh para pengarang yang telah mapan dapam pangkuan kekuasaan yang berlaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Pidato tertulis Pramoedya, yang disampaikan ketika menerima penghargaan Magsaysay, di Manila.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-6419002701654561961?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/6419002701654561961/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=6419002701654561961' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6419002701654561961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6419002701654561961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/12/pidato-pramoedya-di-magsaysay.html' title='Pidato Pramoedya di Magsaysay'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-3698815189377739486</id><published>2007-12-10T05:31:00.001-08:00</published><updated>2007-12-10T05:31:55.811-08:00</updated><title type='text'>lucu-lucuji kodong</title><content type='html'>Membaca Surat Nikah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang suami istri baru saja bertengkar selama beberapa waktu.&lt;br /&gt;Setelah hati dan kepala mulai dingin, si istri menghampiri suaminya yang sedang melihat-lihat surat kawin mereka, "Apa yang sedang kamu lakukan?"&lt;br /&gt;Si suami mencoba menyembunyikan dokumen yang ada di tangannya dan berkata, "Aku tidak melakukan apa-apa."&lt;br /&gt;Si istri yang telah melihat dokumen itu, sangat kecewa. "Tidak melakukan apa-apa? Aku melihatmu membaca surat kawin kita. Mengapa kamu berbohong! Kamu sudah mengamati surat kawin itu, dari atas sampai bawah, dibolak-balik lagi! Untuk apa itu?"&lt;br /&gt;Merasa kesal, si suami berkata, "Baiklah jika kamu ingin tahu. Dari tadi aku sedang mencari tanggal kadaluarsa surat kawin ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih Satu &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dino punya adik yang masih duduk di kelas 2 SD, namanya Ary. Tapi ada yang aneh pada diri Ary dan membuat Dino tak habis pikir. Pasalnya, Ary selalu menjawab pertanyaan matematika dengan melebihkannya satu anga (5+5=11, 4+4=9....dst). Selain itu, dia selalu menghitung soal matematika-nya dengan tangan di dalam saku celananya. Aneh ya....&lt;br /&gt;Belakangan Dino akhirnya tahu kenapa begitu lalu tertawa sendiri.&lt;br /&gt;Ternyata kedua saku celana asiknya bolong, jadi pasti lebih satu terus jawaban soal matematikanya..... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang Satu &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Suatu hari di sekolah, Aryo ditest matematika oleh gurunya &lt;br /&gt;Guru: Aryo, 5+4 berapa?&lt;br /&gt;Aryo: 8 Bu&lt;br /&gt;Guru: Kalau 3+5 berapa?&lt;br /&gt;Aryo: 7 Bu&lt;br /&gt;Guru:Kenapa sih jawabanmu selalu kurang satu?&lt;br /&gt;Aryo: Soalnya jempol saya sakit, ngga bisa diangkat, jadi selalu kurang satu&lt;br /&gt;Guru: ????????? &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Bujang Mencari Istri&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Seorang bujang mau menikah bertanya kepadaku soal tipe calon istrinya.&lt;br /&gt;Bujang: Pak Pram, saya mau menikah.&lt;br /&gt;Pram : Siapa calon istrimu...?&lt;br /&gt;Bujang: Belum ada, makanya saya bertanya.&lt;br /&gt;Pram : Baik, saran saya jangan cari istri sales atau perawat.&lt;br /&gt;Bujang: Kenapa Pak...?&lt;br /&gt;Pram : Kalau sales punya kebiasaan dalam hal tawar-menawar, nanti kebawa saat malam pengantin. Mau bayar segitu, kalau enggak ya udah. Kalau perawat, awas jangan banyak gerak, nanti kumat lagi. Awas jangan turun dulu, nanti saya suntik mati kamu.&lt;br /&gt;Bujang: Lalu saya musti memilih siapa...?&lt;br /&gt;Pram : Guru tari aja.&lt;br /&gt;Bujang: Guru tari, kenapa...?&lt;br /&gt;Pram : Kebiasaan di sanggar tarinya, akan terbawa sampai saat di malam pengantin. Awas hati-hati kalian, yang di depan luruskan. Bagus sekali Mas, ayo kita ulangi lagi, pinter..... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecelakaan pesawat&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Sebuah pesawat yang sedang mengangkut 100 penumpang mengalami kecelakaan terjatuh di laut. Dari 100 penumpang hanya tiga yang selamat. Yang pertama berasal dari Inggris. Yang kedua berasal dari Prancis. Yang ketiga dari Indonesia. Mereka bertiga terapung-apung di tengah lautan sambil menanti pertolongan. &lt;br /&gt;Namun tiba-tiba keluarlah seorang jin penunggu lautan tersebut dan berkata pada tiga orang tadi bahwa masing-masing akan dikabulkan satu permintaannya. &lt;br /&gt;Orang Inggris meminta pada jin, "Om jin, saya adalah anggota parlemen di London. Kehadiran saya sangat dibutuhkan, maka kembalikan saya ke sana."&lt;br /&gt;Dan dalam sekejap orang tersebut menghilang.&lt;br /&gt;Orang Prancis meminta kepada jin, "Om jin, saya seorang direktur sebuah perusahaan. Kehadiran saya sangat dibutuhkan juga, maka kembalikan saya ke Paris."&lt;br /&gt;Dan dalam sekejap orang Prancis pun menghilang.&lt;br /&gt;Tiba giliran orang Indonesia ia berkata, "Waduh Om jin, koq jadi sepi di sini yah... tolong balikin dua teman saya tadi."&lt;br /&gt;Dan sekejap dua orang tadi pun kembali di situ dan om jin pun menghilang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan Terakhir &lt;br /&gt;Terpidana Mati &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari seorang terpidana akan di eksekusi hukuman mati karena terbukti bersalah melakukan pembunuhan berantai.&lt;br /&gt;Sebelum terpidana tersebut di eksekusi oleh regu penembak, seorang kepala regu penembak menanyakan permintaan terakhir sang terpidana.&lt;br /&gt;"Apa permintaan terakhir kamu sebelum ditembak mati?" tanya kepala regu pada terpidana.&lt;br /&gt;"Tolong senapannya diarahkan ke orang lain, Pak!" jawab sang terpidana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-3698815189377739486?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/3698815189377739486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=3698815189377739486' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3698815189377739486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3698815189377739486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/12/lucu-lucuji-kodong.html' title='lucu-lucuji kodong'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-1623739711435514145</id><published>2007-12-06T04:20:00.000-08:00</published><updated>2007-12-06T04:23:45.545-08:00</updated><title type='text'>Berawal dari Bushehr Project</title><content type='html'>Oleh: Buyung Maksum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 MARET 2007, para perwakilan 15 anggota Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akhirnya menyetujui sanksi terhadap Iran. Keputusan yang ditempuh melalui proses pemungutan suara itu menyetujui rancangan resolusi sanksi yang dibuat oleh Inggris, Prancis, dan Jerman itu. DK sepakat, maka jatuhlah Resolusi dengan nomor 1747 itu. Resolusi ini sekaligus menambah sanksi terhadap Iran, karena negara tersebut dianggap tidak mematuhi Resolusi Nomor 1737 tertanggal 23 Desember 2006. Resolusi No 1737 berisi kewajiban Iran untuk menghentikan upaya pengayaan uranium dalam rangka pengembangan nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam jangka waktu 60 hari sejak disahkan resolusi 1737 itu, Iran diharuskan menghentikan kegiatan pengembangan nuklirnya. Tetapi, Iran menolak penghentian upaya pengayaan uranium, dengan argumentasi bahwa upaya mereka untuk kepentingan damai. Sebagai negara penandatangan NPT Nuclear alias Non-Proliferation Treaty (NPT), Iran merasa berhak mengembangkan nuklir untuk kepentingan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaksaan penghentian program nuklir Iran ini memang seolah tak adil. Sebab jika alasan keamanan di kawasan Timur Tengah, maka seharusnya negara-negara adidaya juga menjatuhkan sanksi terhadap Israel. Sebab di saat bersamaan, Israel juga sedang berupaya membangun program nuklir di negaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program nuklir bagi Iran bukanlah hal baru, terutama untuk sumber daya alternatif. Program seperti ini sudah digagas sejak tahun 1950-an. Saat itu, Iran menandatangani perjanjian dengan Amerika Serikat (AS) untuk pengembangan program nuklir guna pembangunan power plant. Melalui program pengembangan nuklir Iran ini, AS akan diuntungkan sedikitnya USD6 miliar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proyek nuklir pertama kali ini (Bushehr Project) dikembangkan dengan menggunakan teknologi dari Jerman. Proyek itu melakukan desalinasi air laut bagi pemenuhan kebutuhan air bersih untuk konsumsi harian dan irigasi di provinsi Bushehr. Saat itu hampir 90 persen proyek tersebut selesai dan 60 persen instalasi telah terpasang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada tahun 1979 program itu terhenti akibat terjadinya revolusi Iran yang menggulingkan kekuasaan Shah Reza Pahlevi. Program itu kemudian tidak jelas, akibat adanya perang Irak-Iran yang mengakibatkan rusaknya power plant tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program pengembangan nuklir ini kemudian dilanjutkan pada tahun 1995 dengan bantuan Rusia. namun saat itu, Iran telah mendapat tekanan dari AS untuk tidak melanjutkan program pengembangan nuklirnya. Sampai tahun 2005, proyek Bushehr belum selesai, padahal kebutuhan Iran akan energi terutama untuk pemenuhan tenaga listrik semakin mendesak. Apalagi Iran berharap pada 2010 sudah menghasilkan 6.000 megawatt listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, rencana pengembangan nuklir Iran untuk kepentingan damai ditunjukkan dengan adanya penandatanganan pemerintah Iran terhadap NPT pada 1968, yang kemudian diratifikasi oleh Parlemen Iran pada 1970. NPT mengakui ada tiga pilar dalam perjanjian itu. Pertama, yang diperbolehkan memiliki senjata nuklir hanya lima negara, yaitu: Prancis, Tiongkok, Rusia, Inggris, dan Amerika Serikat. Kelima negara itu tidak diperkenankan mentransfer teknologi senjata nuklir ke negara lain. Mereka juga sepakat untuk tidak menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara non-senjata nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, NWS didorong untuk merencanakan pengurangan persediaan senjata nuklir mereka di bawah kontrol internasional. Ketiga, negara penandatangan NPT mempunyai hak menggunakan teknologi nuklir untuk kepentingan damai. Dengan berdasar pilar ketiga inilah tampaknya Iran ingin mengembangkan nuklir untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari catatan ini terlihat bahwa sah-sah saja jika Iran ngotot dengan pengembangan nuklirnya. Apalagi di Asia ada beberapa negara yang sudah mengembangkan nuklir. Bahkan mereka sudah mengembangkan senjata nuklir, yaitu India, Pakistan, Israel, dan Korea Utara. India pertama kali melakukan percobaan senjata nuklirnya pada tahun 1974. Pakistan melakukan hal yang sama pada tahun 1998. Diperkirakan India mempunyai lebih dari 150 hulu ledak nuklir. Pakistan mempunyai sekitar 60 hulu ledak nuklir. Sedangkan Israel yang mengembangkan senjata nuklir di wilayah Dimona, Nagev, sejak tahun 1958, mempunyai simpanan senjata nuklir cukup banyak, 100-200 hulu ledak nuklir nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sikap dunia internasional, khususnya AS, terhadap negara-negara ini berbeda dengan sikap terhadap Iran. Jika kepada empat negara Asia dan Israel, AS melemah, tapi khusus bagi Iran negara adidaya itu melakukan pendekatan terhadap pemegang veto DK PBB untuk memberikan sanksi. Resolusi DK PBB Nomor 1737 yang dikeluarkan pada 23 Desember 2006 adalah keberhasilan AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikasinya, salah satu klausul dalam resolusi tersebut adalah keharusan Iran untuk menghentikan kegiatan pengayaan uranium dalam 60 hari setelah resolusi. Bila tidak, maka akan ada sanksi, tetapi tidak disebutkan sanksi militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpedoman pada pilar ketiga NPT, maka Iran tidak mau menghentikan pengayaan itu. Akibat sikap Iran itu, maka AS bersama sekutunya semakin meningkatkan tekanan dan hasilnya adalah DK PBB mengeluarkan Resolusi Nomor 1747. Sayangnya, Indonesia yang katanya punya sikap politik luar negeri bebas aktif, ternyata juga ikut-ikut memberi dukungan terhadap resolusi itu. (***)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-1623739711435514145?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/1623739711435514145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=1623739711435514145' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/1623739711435514145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/1623739711435514145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/12/berawal-dari-bushehr-project.html' title='Berawal dari Bushehr Project'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-1970062472919279531</id><published>2007-12-02T18:36:00.000-08:00</published><updated>2008-04-23T02:58:19.135-07:00</updated><title type='text'>Bukan Sembarang Waria</title><content type='html'>&lt;div&gt;Komunitas Bissu di Bone (1)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BADANNYA memang kekar, namun, langkah dan gerak-geriknya lemah-gemulai bak wanita. Itulah bissu. Namun, jangan sekali-kali menyebut dan memanggil mereka waria, mereka tidak suka, bisa-bisa Anda akan dilempari dengan sandal. Begitulah peringatan seorang teman yang mengerti betul soal bissu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN: ASWAD SYAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANGEL membenahi peralatan pengantinnya saat saya bertandang ke kediamannya di Jl Pisang, Kelurahan Macege, Tanete Riattang Barat, Bone, awal September 2007 lalu. Maklum, waria yang memiliki nama asli Syamsul Bahri ini, di samping sebagai bissu, juga berprofesi sebagai "wedding organizer" di Bone. Tidak sedikit pasangan pengantin yang menggunakan jasanya untuk didandani agar kelihatan cantik saat duduk di pelaminan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bissu umumnya memiliki pengetahuan soal mantra pemikat, seperti, "naga sikoi" dan "cenning rara". Angel merupakan satu-satunya di Bone yang sudah menjalani prosesi dan ritual untuk menjadi bissu. Menurutnya, seorang bissu bukanlah waria sembarangan. Secara fisik dan gerak-gerik kata dia, bissu memang mirip dengan waria lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dari sisi perilaku, mereka sangatlah berbeda. Untuk menjadi bissu kata Angel, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh proses yang panjang, dan harus betul-betul panggilan nurani, juga seorang waria harus siap meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat. Agar mental itu betul-betul siap, seorang waria diharuskan magang di bissu-bissu tua yang digelari Puang Matoa atau Puang Lolo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mentalnya siap menjadi bissu lanjut Angel, barulah dia menjalani prosesi Irebba (dibaringkan), yang dilakukan di loteng bagian depan pada Rumah Arajang. Waria yang akan dilantik menjadi bissu kata Angel, diwajibkan berpuasa selama sepekan hingga 40 hari. Setelah itu, bernazar (mattinja') untuk menjalani irebba selama beberapa hari, biasanya tiga atau tujuh hari. Lalu dia dimandikan, dikafani, dan dibaringkan selama hari yang dinazarkan. Di atasnya digantung sebuah guci berisi air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama disemayamkan sesuai nazarnya, calon bissu dianggap dan diperlakukan sebagai orang mati. Pada hari yang dinazarkan, guci dipecahkan hingga airnya menyirami waria yang sedang irebba. Setelah melewati ritual sakral itu, seorang waria resmi menjadi bissu. Sejak itu, seorang bissu tampil anggun (malebbi) dan senantiasa berlaku sopan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat itu juga, bissu yang baru menyelesaikan prosesi irebba, akan mendapatkan nama langit," ungkap Angel yang memiliki nama langit Sessung Riu'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bissu adalah sebutan bagi pemimpin ritual agama Bugis kuno, sebelum pengaruh Islam masuk. Bissu, berasal dari kata Bessi, yang dalam bahasa Bugis memiliki arti bersih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kerajaan Bone, Bissu menempati posisi terhormat di dalam masyarakat Bugis. Sebagai penasihat spiritual kerajaan, seorang Bissu bukanlah orang sembarangan.  Setelah resmi menyandang gelar Bissu, seseorang mulai belajar. Di antaranya mempelajari berbagai mantera, serta harus menguasai 40 cara melipat daun sirih (rekko' ota patappulo). Juga harus menguasai "memmang" (bahasa dewata), karena sebagai penasihat spiritual kerajaan, bissu bertugas menghubungkan alam manusia dengan alam dewata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, lanjut Angel, walaupun Bissu ini adalah lelaki yang memiliki figur feminin, namun tidak boleh identik dengan perempuan. Sehingga unsur lelaki harus tetap ada, seperti memelihara janggut. Anting tetap boleh dipakai, namun ketika melakukan upacara ritual, anting itu harus dilepas. (*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-1970062472919279531?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/1970062472919279531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=1970062472919279531' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/1970062472919279531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/1970062472919279531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/12/bukan-sembarang-waria.html' title='Bukan Sembarang Waria'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-7164251343428122291</id><published>2007-11-30T03:31:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T03:34:58.547-08:00</updated><title type='text'>Tiga Kebesaran Warisan Syekh Mukmin</title><content type='html'>*Pesiar Jurnalistik ke Kampung Bugis di Pulau Serangan, Bali (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MASJID Assyuhada, Alquran tulisan tangan, dan makam Syekh Haji Mukmin, menjadi penanda kebesaran Bugis di salah satu gugusan Pulau Dewata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN: BUYUNG MAKSUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INTRO lagu "Welcome to My Paradise" milik Steven and Coconut Treez melantun manis dari sebuah radio transistor penduduk ketika &lt;em&gt;Fajar&lt;/em&gt; menjejakkan kaki di Kampung Bugis, Pulau Serangan, Bali, Sabtu 8 Mei lalu. Pulau ini memang seolah menjadi surga bagi orang-orang Bugis dan pemeluk Islam di seantero rangkaian Pulau Dewata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpasir putih dan menjadi idola para surfer (peselancar, Red) di musim hujan. Antara bulan Oktober hingga April, angin timur membuat gulungan ombak di pulau sebelah selatan Bali ini membangkitkan andrenalin surfer. Tapi di musim kemarau seperti sekarang, pulau ini ditinggalkan peselancar yang beralih ke Pantai Kuta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Serangan, agama Hindu yang didominasi penduduk sangat tidak terasa. Rangkaian waktu lebih dari tiga abad telah membuat proses asimilasi antaragama di pulau ini sangat cair. Nyaris tak ada perbedaan antarsuku dan antaragama. Terutama antara warga keturunan Bugis dengan penduduk asli Bali yang menganut Hindu. Mereka hidup rukun, damai, dan tentram di satu perkampungan bernama Kampung Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pulau ini, hasil asimilasi bukan lagi sekadar tegur sapa. Namun penetrasinya lebih tajam lagi hingga ke rumah tangga. Usman, pria keturunan Soppeng yang lahir pada 1973 di Serangan misalnya. Sudah sebelas tahun Usman hidup rukun dengan istrinya yang asli Bali. Mereka menikah 1996 dan sudah dikarunia dua anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelum menikah, istri saya bernama Made Rentik. Tapi saat menikah, dia muallaf dan berganti nama menjadi Aisyah," tutur Usman, sesaat sebelum salat Duhur di Masjid Assyuhada, Serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah orang-orang Bugis sendiri sudah terukir panjang sebelum Usman didaulat sebagai kepala lingkungan di pulau itu. Adalah Syekh Haji Mukmin yang menandai awal kehidupan cucu Adam dan Hawa di Pulau Serangan pada abad ke-17 atau setelah Kompeni VOC Belanda menguasai Kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan. Rombongan yang dipimpin Syekh Mukmin dikabarkan meninggalkan Gowa lantaran tak mau kompromi dengan VOC. Apalagi ketika itu VOC sangat mengendalikan kehidupan maritim di Gowa dan sekitarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syekh Mukmin kemudian berlayar bersama 44 orang setianya hingga terdampar di ujung timur Pulau Serangan," ungkap Mochammad Mansyur, 67, sesepuh Kampung Bugis, saat &lt;em&gt;Fajar&lt;/em&gt; bertandang ke kediamannya. Tiba di Pulau Serangan orang-orang Bugis mulai membangun perkampungan. Kedatangan mereka didengar oleh Raja Badung, Cokarde Gombrang, yang menguasai Pulau Serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Syekh Mukmin diundang ke istana raja dan dimintai keterangan maksud datang ke Pulau Serangan.  Mengetahui Syekh Mukmin berasal dari Gowa, Raja Badung bersimpati dan mengizinkan mereka bermukim di Desa Telagigendong. Dengan catatan, setiap saat kelompok Syekh Mukmin wajib membantu Raja Badung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di Telagigendong yang jauh dari pantai ternyata membuat tak nyaman kelompok Syekh Mukmin. Alasannya sederhana, mereka adalah pelaut. Maka kali kedua, Syekh Mukmin meminta agar Raja Cokarde Gombrang mengizinkan mereka pindah ke daerah pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permintaan ini dipenuhi dan Cokarde menunjuk Pantai Serangan sebagai tempat tinggal kelompok Syekh Mukmin. Suatu ketika pasukan Raja Cokarde Gombrang kesulitan menaklukkan pasukan Desa Mangui yang dikenal kebal senjata. Cokarde kemudian menantang pasukan Bugis yang dipimpin Syekh Mukmin untuk menghadapi pasukan Mangui. Hasilnya menakjubkan, sekalipun hanya berkekuatan 45 orang, namun pasukan Bugis bisa menang bahkan berhasil membunuh Raja Mangui. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses menaklukkan Mangui ini juga menjadi cikal-bakal munculnya nama Serangan. Nama ini terkait dengan pola penyerangan tiba-tiba yang dilancarkan pasukan Mukmin ke Mangui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagai hadiah, Raja Cokarde Gombrang kemudian menyerahkan Pulau Serangan kepada orang-orang Bugis. Tapi Raja meminta agar tanah dan pulau ini tidak diperjualbelikan," papar Mansyur yang sehari-hari bertindak sebagai imam Masjid Assyuhada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang sulit ditelusuri saat ini adalah mencari turunan langsung dari Syekh Mukmin. Walaupun Syekh Mukmin dimakamkan di pulau ini, namun tak ada yang mampu menjelaskan silsilahnya. Penduduk setempat juga tak ada yang menyatakan bahwa Syekh Mukmin pernah menikah dan beranak-pinak sebagai garis keturunan langsung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara penduduk Bugis Serangan yang ada saat ini adalah turunan dari anak buah atau kerabat Syekh Mukmin. Semisal Marjuki, 66, pria yang mendapat tugas merawat Alquran Abad 17 tulisan tangan. Marjuki adalah turunan langsung kedua dari Syekh H Alwi, pemilik dari alquran tersebut. Ada juga H Ahmad Sastra yang kini bermukim di samping Masjid Sangla, Denpasar. (Bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-7164251343428122291?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/7164251343428122291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=7164251343428122291' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/7164251343428122291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/7164251343428122291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/tiga-kebesaran-warisan-syekh-mukmin.html' title='Tiga Kebesaran Warisan Syekh Mukmin'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-246581038760925606</id><published>2007-11-30T03:26:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T03:29:09.220-08:00</updated><title type='text'>Alquran Tua dan Ritual 9 Muharram</title><content type='html'>*Pesiar Jurnalistik ke Kampung Bugis di Pulau Serangan, Bali (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETIAP 9 Muharram, umat muslim Pulau Serangan menggelar ritual dengan mengarak Alquran tua mengelilingi Kampung Bugis. Katanya, sebagai penolak bala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN: BUYUNG MAKSUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ALQURAN tulisan tangan yang saat ini "dirawat" Marjuki adalah satu dari tiga "pusaka" orang Bugis di Serangan. Karena usianya yang sudah memasuki abad keempat, maka kitab suci kaum muslim ini hanya dikeluarkan pada saat tertentu saja. Bahkan dengan alasan keamanan, Alquran ini terpaksa dipindah dari Masjid Assyuhada ke rumah Marjuki, pada 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat BJ Habibie, mantan Presiden RI, meminjam alquran ini untuk dipamerkan di Masjid Istiqlal Jakarta, para peneliti menyatakan bahwa kitab suci ini dibuat pada Abad 17. Bahannya juga bukan dari kertas tapi kulit kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi alquran itu sendiri hingga kini masih utuh 30 juz. Tebalnya 10 centimeter dengan ukuran seperti Alquran lainnya. Kulit luar berbahan plastik agak tebal warna hijau. Cukup jelas terlihat bahwa Alquran ini ditulis tangan dengan tinta hitam dan tinta merah untuk setiap kalimat "Bismillahirahmanirahim".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua versi tentang asal-usul Alquran ini. Menurut Mochammad Mansyur, 67, khatib sekaligus imam Masjid Assyuhada, Alquran ini dibawa Syekh Haji Mukmin dari Gowa. Sedang Marjuki mengatakan, alquran ini dibawa Haji Alwi dari Kalimantan. Namun tak ada bukti otentik yang bisa memperkuat kedua versi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haji Alwi sendiri tak lain adalah kakek kandung Marjuki. Dia datang ke Serangan setelah Syekh Haji Mukmin membangun kehidupan di pulau ini. Setelah Haji Alwi wafat, Alquran ini kemudian diwariskan kepada Siddiq, ayah kandung Marjuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Mansyur maupun Marjuki juga tak bisa memastikan siapa penulis atau pembuat dari Alquran tersebut. "Setahu saya, Haji Alwi yang pelaut membawanya (Alquran itu) dari Kalimantan, dari Pontianak. Dia selalu keliling nusantara membawa Alquran ini hingga sampai di Serangan," tutur Marjuki saat memperlihatkan Alquran tua yang selalu terbungkus kain hijau diikat pita merah itu kepada &lt;em&gt;Fajar&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leluhur Marjuki berasal dari Wajo, Sulsel, termasuk H Alwi. Marjuki sendiri lahir di Serangan namun sangat fasih menggunakan bahasa Bugis. Masyarakat Bugis dan penduduk muslim lainnya di Kampung Bugis mempercayakan Marjuki untuk merawat alquran tua itu dengan alasan turun-temurun. Hal ini juga seolah menjadi pengakuan tidak langsung dari muslim Serangan jika alquran itu memang "milik" Haji Alwi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk Kampung Bugis Serangan punya tradisi mengarak Alquran tulisan tangan ini keliling kampung setiap 9 Muharram. Alquran ini diarak sebanyak tiga kali. Beberapa tahun sebelumnya, ritual ini digelar pada tanggal 1,2, dan 3 Muharram berturut-turut tiga hari. Setiap hari diarak sekali keliling kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini dilakukan untuk menolak bala. Sekarang hanya diarak pada 9 Muharram tapi langsung tiga kali keliling kampung. Dipindah ke 9 Muharram untuk mendekatkan ke Hari Asyura, 10 Muharram," kata Mansyur yang dibenarkan Marjuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ritual ini digelar, arak-arakan bukan hanya diikuti warga muslim saja. Umat Hindu yang mendominasi Serangan juga turut serta. Bahkan Raja Badung, Ida Cokorda Pemecutan XI yang mengaku memiliki nama Islam sebagai Abdullah juga tak pernah absen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Hindu dan orang Bali memberi apresiasi positif terhadap ritual ini. Orang Bali memanggil orang Islam Bugis sebagai "Nyama Selam" (saudara Islam, Red). Sungguhpun berlainan agama, mereka saling menghormati antara satu sama lain. Contohnya, semasa Nyepi orang Hindu, orang Islam tidak memasang pembesar suara di masjid mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI Serangan, perkampungan Hindu dengan 73 keluarga muslim di Kampung Bugis tersekat dinding tembok setinggi 1,5 meter. Walaupun demikian, secara fisik masyarakat muslim dan Hindu tidak terpisah oleh dinding itu. Mereka tetap bergaul antara satu sama lain. Semisal melaut atau membuat kerja-kerja bakti bersama. “Kami tidak mempunyai masalah dalam kehidupan sosial harian kami,” kata Iskandar, pengurus Masjid Assyuhada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari, asimilasi budaya juga menembus bahasa. Orang-orang Bugis tetap bertutur bahasa Bugis tapi juga sangat fasih bercakap dalam bahasa Bali. Ada juga beberapa orang Bali yang memeluk agama Islam, bahkan menikah dengan pria Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kala lepas Magrib, anak-anak muslim juga dengan bebasnya pergi mengaji di masjid. Tak jarang mereka "dikawal" teman mainnya yang beragama Hindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeluk Hindu juga demikian adanya. Mereka mengaku sangat nyaman beribadah di empat pura besar yang ada di Serangan. Kebetulan, keempat pura ini: Pura Dalam Sakenan, Pura Dalam Susunan, Pura Khayangan Tiga (hanya 150 meter dari Masjid Assyuhada), dan Pura Cemara, termasuk gugusan pura purbakala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau Nyepi, pemuda muslim yang jaga kampung. Sangat nyaman, Mas" ujar Gede, pemuda asal Sanur yang membawa &lt;em&gt;Fajar&lt;/em&gt; ke Pura khayangan Tiga. (Bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-246581038760925606?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/246581038760925606/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=246581038760925606' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/246581038760925606'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/246581038760925606'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/alquran-tua-dan-ritual-9-muharram.html' title='Alquran Tua dan Ritual 9 Muharram'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-6608473341828694839</id><published>2007-11-30T03:22:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T03:25:12.665-08:00</updated><title type='text'>Ketika Penyu tak Lagi Berlabuh</title><content type='html'>BUYUNGMAKSUM/FAJAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*Pesiar Jurnalistik ke Kampung Bugis di Pulau Serangan, Bali (3-Selesai)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LARANGAN penangkapan dan perdagangan penyu membuat nadi ekonomi orang Bugis Serangan merosot tajam. Ikan-ikan hias juga menghilang sejak pulau direklamasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN: BUYUNG MAKSUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBELAS tahun lalu, Serangan masih terlepas utuh dari Pulau Bali. Antara kedua pulau ini dipisah oleh selat sepanjang satu kilometer. Ketika itu, satu-satunya rute menuju Serangan adalah melalui Pelabuhan Benoa dengan menggunakan speedboat sekitar 15 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga tahun 1996, orang Bugis Serangan terkenal sebagai pemburu penyu terkenal. "Saya cari penyu sampai di Buton. Saya jual berapapun pasti laris," kenang Marjuki, pria Wajo yang lahir, besar, dan membina rumah tangga di Serangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Marjuki, daging penyu merupakan makanan favorit orang Bali. Selain itu, kulit penyu juga diolah menjadi hiasan menarik dan bernilai mahal. Hasil tangkapan penyu nelayan-nelayan Bugis ini dijual ke pengusaha-pengusaha seantero Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah puluhan tahun, berkah dari penyu harus berakhir. Pada akhir 1995, pemerintah mengeluarkan kebijakan larangan penangkapan dan perdagangan penyu. "Kalau berani jual penyu, barang disita, kami dipenjara 10 tahun," papar Mansyur, tokoh masyarakat setempat yang sebelumnya juga berprofesi sebagai penangkap penyu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bertahan hidup, orang-orang Bugis Serangan kemudian mencoba beralih ke ikan hias yang ada di pesisir pulau. Alih target seperti inilah yang dilakoni Usman, pria kelahiran Serangan pada 1973 dan mengaku leluhurnya berasal dari Soppeng. Kebetulan, Usman memiliki kemampuan menyelam seperti nelayan-nelayan Bugis di Sulsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, semua denyut ekonomi nelayan Bugis Serangan sulit di tahun 1996. Ketika itu PT Bali Turtle Island Development (BTID) melakukan reklamasi tujuan pembangunan kawasan perhotelan dan wisata di Pulau Serangan. Reklamasi ini membuat area Serangan bertambah dari 112 hektare menjadi 481 hektare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadari, dampak reklamasi ternyata berimbas pada ikan-ikan hias yang menghidupi Usman dan kawan-kawan. Reklamasi telah merusak keaslian lingkungan di pulau itu. Terutama kawasan hutan mangrove. Akibatnya, ikan hias yang hidup di sekitar mangrove harus menjauh ke tengah laut untuk bertahan hidup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usman dan penangkap ikan hias lainnya tak punya pilihan. Mereka terpaksa menghentikan profesi sebagai penangkap ikan hias. Pola hidup masyarakat Bugis pun banyak yang mulai berubah dari laut bergeser ke daratan. Sejumlah pria Bugis kemudian beralih ke sektor pariwisata nonbahari seperti membuka biro-biro perjalanan. Kalaupun ada yang mencoba bertahan hidup, itu karena memang tak ada pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak reklamasi juga mengubah jalur transportasi menuju dan dari Pulau Serangan. Reklamasi yang tidak pernah tuntas lantaran lengsernya pemerintahan Presiden Soeharto itu memang telah membuka jalur darat Sanur-Serangan. Tak lagi melalui Pelabuhan Benoa.&lt;br /&gt;Kedua daratan yang dulu sebelas tahun lalu masih terpisah ini kini dihubungkan sebuah jalan beraspal hotmix mulus sepanjang satu kilometer. Lebar jalan yang mirip jalan tol di Makassar ini sekitar 15 meter dan terbagi empat lajur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, untuk mencapai Serangan tak perlu lagi memanfaatkan jasa speedboat. Naik taksi sekalipun sudah bisa nangkring di depan lorong masuk ke Masjid Assyuhada. Melalui darat, cukup 20 menit dari Kota Sanur untuk mencapai Kampung Bugis di Serangan. Sementara dari Kota Kuta sekitar 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Badung, Ida Cokorda Pemecutan XI, sendiri tak ragu jika penyatuan Pulau Serangan dengan daratan Bali ini akan mengubah kultur budaya Bugis yang hidup di daerah itu. Ida memastikan warga Bugis Serangan tidak akan kehilangan identitas karena mereka seperti ikan berenang di laut; walaupun air laut asin, tapi ikan tidak asin. (***)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-6608473341828694839?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/6608473341828694839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=6608473341828694839' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6608473341828694839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/6608473341828694839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/ketika-penyu-tak-lagi-berlabuh.html' title='Ketika Penyu tak Lagi Berlabuh'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-4553489176897842676</id><published>2007-11-30T02:31:00.001-08:00</published><updated>2007-11-30T02:33:19.578-08:00</updated><title type='text'>Penjara Abu Ghraib</title><content type='html'>GHRAIB merupakan penjara yang terletak di Abu Ghraib, Iraq, 32 kilometer di barat Baghdad. Bangunan penjara ini merangkumi 280 ekar (115 ha) dengan jumlah 24 menara kawalan. Terdapat lima kawasan berpagar dalam kawasan tersebut. Sel tahanan dalam penjara tersebut seluas empat kali empat meter dan mengurung 40 tahanan setiap satu. Pihak Pakatan Amerika Syarikat menggunakan tempat ini sebagai Kemudahan Pembetulan Baghdad, walaupun ia kekal dikenali dengan nama rasmi asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penghujung April 2004, rancangan 60 Minutes menyiarkan cerita mengenai salah layanan dan penderaan tahanan Iraq oleh sekumpulan kecil tentera Amerika Syarikat. Cerita tersebut termasuk gambar penderaan tahanan, yang tidak sesuai bagi mereka yang berusia di bawah 17 tahun dan mereka yang tidak gemarkan keganasan atau gambaran seksual sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak kejatuhan regim Ba'athist Saddam Husain, penjara ini telah digunakan sebagai pusat tahanan oleh pakatan diketuai Amerika Syarikat yang menjajah Iraq, menahan lebih dari 5,000 orang, sesetengahnya dituduh pemberontak, sesetengah dituduh penjenayah dan yang lain tanpa tuduhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan Jeneral TagubaMenurut laporan lima puluh tiga muka surat yang disediakan oleh Major General Antonio Taguba dari tentera Amerika Syarikat, ketika dalam tahun pertama penjara Abu Ghraib beroperasi di bawah seliaan Amerika Syarikat, dianggarkan 60% daripada tahanan di penjara Abu Ghraib bukannya "ancaman kepada masyarakat." Proses penyaringan amat lemah sehinggakan orang awam yang tidak bersalah sering ditahan tanpa had.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seawal Jun 2003, Amnesty International menyeru penyiasatan berkecuali mengenai sistem tahanan Amerika Syarikat di Iraq, berasaskan gambaran tidak direkodkan mengenai keadaan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rujukan Seymour M. Hersh kepada laporan Jeneral dalam "Torture at Abu Ghraib" (Penyiksaan di Abu Gharaib), pada isu 10 May 2004 dalam The New Yorker. Tuduhan lain mengenai salah layanan yang serius oleh tentera Amerika Syarikat dan Birtish diacukan kepada pusat tahanan Abu Ghraib dan pusat tahanan lain di Iraq. Pada Januari 2004, seorang MP menjumpai gambaran digital mengenai penderaan pada CD-ROM ketika dia memproses gambar bagi rakan tentera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melaporkan gambar tersebut, menyebabkan komander pakatan Lt. General Ricardo Sanchez untuk memerintah Taguba untuk menyiasat. Dua penyiasatan lanjut turut dijalankan. Laporan rahsia Taguba, bertarikh 4 April 2004, menuduh penjara Abu Ghraib luar kawalan. Pengawal mencipta undang-undang mereka sendiri dan menyelia menurut pereturan mereka sendiri dan penyelia menyokong tindakan mereka. Kaki tangan tidak mengawasi tahanan, tidak mengira tahanan mereka, dan tidak menyimpak rekod mengenai beberapa dozen yang lepas lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudahan ini mempunyai terlalu ramai tahanan dan terlalu sedikit pengawal. Latihan bagi pengawal tidak mencukupi, dan penyelia tidak membuat lawatan ke kemudahan ini secara sendiri. Pegawai tinggi tentera bertelagah samaada polis tentera atau perisik tentera sepatutnya berkuasa. Layanan tahanan berbeza antara giliran dan kawasan penjara. Laporan Taguba juga menuduh pegawai perisik dan anggota Kompeni Polis Tentera 372 "372nd Military Police Company", yang bertanggung jawab dalam keselamatan, terbabit dalam penderaan direkodkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlawanan dengan peraturan Tentera, komander membenarkan pegawai perisik untuk menggunakan polis tentera untuk "loosen up" (melemahkan) tahanan sebelum soal siasat. Pada masa laporan Taguba siap, 17 tentera dan pegawai, termasuk Brigadier General Janis Karpinski, dibebaskan dari bertugas. Enam tentera menghadapi perbicaraan tentera "courts-martial" dan kemungkinannya dipenjara disebabkan oleh peranan mereka dalam kejadian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuduhan terhadap mereka termasuk cuai dalam tugas, salah layanan, serangan menyebabkan kecederaan "aggravated assault" dan memukul "battery". (***)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-4553489176897842676?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/4553489176897842676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=4553489176897842676' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/4553489176897842676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/4553489176897842676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/penjara-abu-ghraib.html' title='Penjara Abu Ghraib'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-2962005428532846201</id><published>2007-11-30T02:24:00.001-08:00</published><updated>2007-11-30T02:29:39.790-08:00</updated><title type='text'>Irak, Negeri 101 Malam yang Jadi 1001 Masalah (Catatan Akhir Tahun 2006 Bidang Internasional)</title><content type='html'>OLEH: BUYUNG MAKSUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah SETIAP hari, penggali kubur harus membuat 476 lubang mayat. Hari-hari yang mencekam dan tak kunjung adanya kedamaian.SABTU hari ini adalah hari ke-1.376 Amerika Serikat (AS) dan sekutunya "menduduki" Irak. Waktu yang relatif sangat singkat untuk membunuh 655.000 rakyat di negara itu (Washington CyberNews). Ada 476 orang tewas setiap hari. Atau 2,5 persen jumlah penduduk Irak tewas akibat serbuan itu dan kekerasan setelah invasi AS pada 18 Maret 2003 (John Hopkins University).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan, hanya dalam rentang waktu Juli sampai Agustus 2006, sedikitnya 6.599 warga sipil Irak tewas. Umumnya adalah korban peledakan bom serta tembakan dan berbagai modus teror lainnya. Hampir 60 persen yang tewas adalah anak-anak dan orang dewasa berusia 15-44 tahun.Korban di kubu AS dan sekutunya juga tak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitungan AFP berdasarkan angka-angka Pentagon, sudah 2.941 prajurit AS tewas. Jumlah korban bulanan tertinggi adalah November 2004, sebanyak 137 jiwa.&lt;br /&gt;Sedang di bulan Desember 2006 ini, sedikitnya 58 nyawa prajurit AS melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Irak juga menjadi "neraka" bagi kalangan jurnalis. Sepanjang tahun ini, 32 wartawan terbunuh di negeri itu. Total sudah 92 wartawan tewas di Irak sejak invasi. Belum lagi 37 pembantu wartawan seperti penerjemah, sopir, staf kantor dan lain-lain juga ikut terbunuh.Masalah Irak juga mencatatkan rekor baru bagi AS. Sejak menduduki Irak, dana yang digelontorkan Pentagon sudah menembus USD350 miliar (sekitar Rp3.210 triliun). Ini dana perang terbesar yang pernah dikeluarkan Pentagon sejak Perang Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEPERTI Indonesia, PBB juga tak mampu berbuat banyak untuk menyelamatkan rakyat Irak dari pembantaian. Sekretaris Jenderal PBB yang akan melepas jabatan 31 Desember nanti, Kofi Annan, hanya bisa sedih. Kepada BBC, Annan mengakui kehidupan bagi warga kebanyakan Irak, kini lebih buruk daripada semasa Saddam Hussein berkuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di awal konflik, benar sebagai bentuk peperangan antara pemerintah Irak dengan pemerintah AS. Namun, ketika sekarang pemerintah Irak justru bekerja sama dengan pemerintah AS, bukannya membuat masalah di Negeri Abu Nawas itu membaik. Malah sebaliknya, konflik menjadi sangat kompleks. Sebut saja pertentangan antara kelompok Sunni dengan Syiah, konflik antara kaum perlawanan Irak dengan pemerintah Irak bentukan AS, atau dengan pasukan pendudukan AS, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah Irak memang cuma satu dari sekian banyak konflik di dunia ini. Steven D. Strauss menyatakan bahwa dalam setengah abad terakhir, tidak ada dari 192 negara di dunia ini yang tidak pernah terlibat konflik. Namun konflik di Timur Tengah, terutama Irak, adalah konflik paling berdarah, paling berbahaya, dan paling banyak dipublikasikan media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAGI AS, konflik dan perang adalah bisnis model baru yang sangat menguntungkan. Cukup mencengangkan bahwa AS sebagai negara yang paling banyak terlibat konflik dan perang, ternyata juga sebagai penjual senjata paling banyak di dunia. Irak sebagai musuh tetap AS dalam beberapa dekade ini mencatatkan diri sebagai negara pengimpor senjata terbesar di dunia. Pastinya, perang adalah bisnis besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran kalau AS teramat enggan angkat kaki dari Baghdad. Bahkan, kembali berencana menambah pasukan di Irak. Padahal, di Kamp Victory Irak, Robert Gates yang baru saja dilantik sebagai Menteri Pertahanan menggantikan Donald Rumsfeld mendengar langsung pengakuan para komandan perang AS. Termasuk dari Komandan Tertinggi AS di Irak, Jenderal George Casey. Rencana penambahan pasukan 20 ribu tentara AS dianggap hanya menimbulkan masalah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBENARNYA masyarakat Irak, baik Sunni, Syiah, Kurdi, maupun nonmuslim lainnya, bukanlah masyarakat yang sektarian. Ini bukanlah slogan atau fantasi belaka, melainkan fakta yang sudah terbukti sepanjang sejarah Irak. Ratusan tahun bangsa Irak yang heterogen hidup berdampingan satu sama lain tanpa ada satupun kasus konflik sektarian. Isu konflik sektarian baru merebak ketika AS menduduki Irak, setelah Saddam Hussein terguling, dan setelah para ekstrimis asing berkeliaran di Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta sejarah masyarakat Irak ini, setidaknya ada lima solusi yang bisa membawa rakyat Negeri 1001 Malam itu hidup dalam damai. Solusi pertama, tentu saja AS harus dipaksa keluar dari Irak. Ini adalah langkah terpenting. Tanpa itu, upaya penyelesaian apapun akan sia-sia, dan hanya isapan jempol semata. Langkah kedua, mengadili AS, khususnya pemerintahan Bush dan para sekutunya. Pembantaian massal yang telah dilakukan oleh AS dan sekutunya tak boleh dilupakan. Sebab ratusan ribu nyawa anak-anak, wanita, orangtua, dan penduduk sipil yang tidak bersalah mati sia-sia. Solusi ketiga, menuntut AS dan sekutunya membayar ganti rugi bagi rakyat Irak. Keempat, membangun persatuan kaum muslim, khususnya di Irak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konflik berkepanjangan antarfaksi yang berbasis mazhab sebenarnya merupakan racun ashabiyah. Saling bunuh dan saling menghancurkan masjid antara Sunni dan Syiah adalah akibat fitnah dari negara asing. Hal terakhir adalah sumbangsih dan dukungan nyata negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) terhadap Irak, termasuk Indonesia. Jika Indonesia berani mengirim pasukan perdamaian ke Lebanon, mengapa ke Irak tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UPAYA rekonsiliasi paling monumental bagi rakyat Irak sebenarnya baru terjadi sekitar satu setengah bulan lalu. Tepatnya, 20 Oktober 2006. Sebuah pertemuan digelar dan menghasilkan "Piagam Mekah" yang ditandatangani para pimpinan agama di Irak, baik dari kalangan Sunni maupun Syiah. Kelompok bertikai dalam internal Irak sepakat menghentikan pertumpahan darah dan menyerukan penghentian perang antaretnik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bulan yang sama, Perdana Menteri Irak Al-Maliki juga melontarkan strategi empat poin untuk mengatasi konflik. Di antaranya pembentukan dewan keamanan lokal, serta menolak penguasaan media massa. Tapi baik Piagam Mekah maupun strategi Al-Maliki ternyata tidak mampu meredakan konflik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang yang terlalu banyak memang sudah melilit Irak. Sebanyak kisah yang dituturkan Abu Nawas dalam dongeng Seribu Satu Malam. Bedanya, malam yang dilalui Abu Nawas sangat indah. Sementara saat sekarang, malam yang ada penuh kegalauan, ketakutan, dan bayang-bayang kematian yang bermunculan di mana-mana. Tampaknya, gelar 1001 Malam itu, kini betul-betul berubah menjadi 1001 masalah. (***)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-2962005428532846201?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/2962005428532846201/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=2962005428532846201' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/2962005428532846201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/2962005428532846201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/irak-negeri-101-malam-yang-jadi-1001_30.html' title='Irak, Negeri 101 Malam yang Jadi 1001 Masalah (Catatan Akhir Tahun 2006 Bidang Internasional)'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-3116337730211992349</id><published>2007-11-29T04:06:00.001-08:00</published><updated>2007-11-29T04:07:55.865-08:00</updated><title type='text'>Headline News yang Menyesatkan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;PERNAHKAH anda melihat berita utama (headline news) koran nasional kita dengan judul: “Pemerintah Didesak...”, “Pengusaha Mengeluhkan…”, “Perlu Penanganan Khusus untuk ….”, “Pemerintah Perlu Tegas Soal…”, “Menteri Anu Bungkam Soal…” dan semacamnya?&lt;br /&gt;Dengan segala maaf “berita-berita” semacam itu masih sangat banyak menghiasi halaman pertama koran-koran kita. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Mengapa saya menulis “berita-berita” dalam tanda petik? Saya yakin Anda paham maksudnya, yaitu bahwa sebenarnya yang tersaji di sana bukan berita. Yang tersaji di sana bukan peristiwa yang dilaporkan, tetapi “omong-omong” yang ditulis ulang oleh wartawan. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Berita berjudul “Pemerintah Didesak Tegas Soal Lumpur Panas Porong”, misalnya, sesungguhnya hanya berisi omong-omong wartawan dengan sumber-sumber tertentu tentang banjir lumpur panas di Porong Jawa Timur. Wartawan sadar bahwa kasus lumpur panas masih menjadi persoalan serius, tapi hari ini tidak ada “hal baru” untuk dilaporkan. Maka yang dimunculkan di media massa adalah “talking news” yang tidak mengandung kebaruan informasi sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Tulisan semacam itu masih lumayan. Yang lebih menggelikan adalah berita-berita utama menjelang pemilu. Banyak koran yang menurunkan “talking news” politik yang tidak ada urusannya apapun dengan fakta di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Memang bisa jadi ada “berita tersembunyi” di balik tulisan seperti itu (tetapi kalau ini yang terjadi, berarti wartawan yang bersangkutan tidak tahu bagaimana menulis berita, atau tidak berani menulis lugas). “Pemerintah Perlu Tegas Soal Kargo Bandara” yang muncul baru-baru ini adalah talking news. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Berita sesungguhnya adalah “Banyak Penyimpangan Bidang Kargo Bandara”. “Pengusaha Minta Keringanan Pajak” adalah talking news. Di balik tulisan itu mungkin ada berita yang lebih lugas “Beban Pajak Terlalu Berat”, atau “Beban Usaha Terlalu Mencekik” dll.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Tetapi sering terjadi bahwa media yang bersangkutan sadar bahwa dia tidak sedang menulis berita, tetapi sedang menjalankan misi atau agenda politiknya. Misalnya saja tidak ada angin tidak ada hujan, sebuah koran terkemuka di Indonesia menyajikan tulisan utama di halaman satu dengan judul, “Pemerintah Harus Berpihak pada Petani”. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Pasti tulisan itu tidak mempunyai nilai berita apapun, dan koran yang bersangkutan pun pasti sadar akan hal itu. Tetapi koran yang bersangkutan merasa harus menurunkan tulisan itu, karena koran tersebut mempunyai misi membela petani, dan pada saat yang sama mulai kesal bahwa pemerintah tidak kunjung peduli pada nasib petani.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;KETIKA seseorang membaca berita untuk tujuan ekonomi, perlu disadari bahwa media massa sering tidak bisa memenuhi harapan. Ada kalanya media memang tidak sadar akan makna ekonomi dari satu peristiwa, sehingga berita yang penting dalam perspektif kita akan disajikan sebagai berita kecil, yakni berita sekilas, berita satu kolom, berita dua kolom, atau berita kecil lain yang “nyempil” di halaman dalam. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Tetapi ada kalanya juga secara sadar satu media mengabaikan berita itu dan mengangkat berita lain yang menurut mereka lebih “layak berita” (memiliki nilai aktual, kedekatan dengan pembaca, unik, berdampak, menyangkut nama besar, terkait konflik, menyentuh).&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Karena kondisi inilah para manusia ekonomi semestinya lebih teliti dalam membaca berita dan tidak terjebak pada bagaimana cara media massa menyajikan menu beritanya. Ada kalanya menu yang menurut media adalah santapan utama, tetapi bagi manusia ekonomi tak lebih dari cemilan sore. Sebaliknya ada berita kecil menurut media, tapi menurut manusia ekonomi adalah “makanan besar”. &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Berita mengenai satu bengkel yang berhasil membuat biodiesel berbahan baku jagung pasti bukan berita besar bagi satu koran yang hobi dengan berita politik dengan segmen pasar pembaca perkotaan. Tetapi berita itu pasti memiliki nilai ekonomi yang sangat penting untuk para petani (khususnya petani palawija), untuk pedagang hasil bumi, untuk industriawan yang menekuni bioenergi, dll.&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Karena itu mulailah lebih teliti dalam membaca berita, jangan terjebak dengan menu yang dikemas oleh media. Mulailah selalu dengan pertanyaan, apa manfaat ekonomi berita ini untuk saya. Lupakan di halaman mana berita itu ditempatkan, dan berapa besar kapling yang disediakan untuk berita itu. (*)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-3116337730211992349?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/3116337730211992349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=3116337730211992349' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3116337730211992349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3116337730211992349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/headline-news-yang-menyesatkan.html' title='Headline News yang Menyesatkan'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-5869906429781725676</id><published>2007-11-28T02:04:00.000-08:00</published><updated>2008-04-23T00:06:25.309-07:00</updated><title type='text'>"Mama... Perempuan Itu Benar-benar Telanjang..."</title><content type='html'>Menengok Aksi Striptis di Makassar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MELIUK, melepas pakaian satu per satu hingga telanjang bulat. Terus menari, napasnya pun terdengar naik turun. Striptis, demikian nama populer tari telanjang itu. ADA striptis di Makassar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN: Buyung Maksum&lt;br /&gt;Makassar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JANGAN menutup mata, itu memang ada. Bahkan, lebih dahsyat dibanding pameran-pameran syahwat yang mulai lazim di sejumlah tempat hiburan malam (THM). Striptis yang benar-benar totalitas atau telanjang bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau bukti? Berikut laporan hasil penelusuran saya di salah satu THM di kota ini yang menyediakan "fasilitas" striptis kelas wahid. Tentunya, setelah berbagai lika-liku dan tanya kiri tanya kanan. Namun atas pertimbangan tertentu, nama-nama dan lokasi yang ada di laporan ini disamarkan atau bukan identitas sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarum jam menunjukkan angka 23.30 Wita, 13 Februari. Dua mobil; sedan Suzuki Baleno diikuti Daihatsu Xenia yang masing-masing berpenumpang empat lelaki, pelan tapi pasti menyeruak di kesunyian sepanjang Jl AP Pettarani. Kedua mobil kemudian membelok ke Jl Urip Sumohardjo hingga Jl Bawakaraeng dan belok kiri ke Jl Jenderal Sudirman. Terus, hingga berbelok kanan ketika mencapai putaran di kawasan Makassar Mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu teranyar milik kelompok musik Naff seolah menuntun empat penumpang yang ada di Baleno hitam untuk menyusur Jl Wahidin Sudirohusodo. Masih di pertengahan jalan, kedua mobil berbelok kanan. Tujuannya adalah “PM”, salah satu THM yang tak jauh dari Jl Andalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana hall berukuran 17 kali 15 meter di lantai satu THM itu masih kurang ramai. Hanya beberapa deret sofa saja yang terisi, tentunya berpasangan; laki dan perempuan yang rata-rata berpakaian minim. Tak perlu mengeluarkan duit untuk masuk ke hall ini. Cukup pesan minuman, lalu nikmati live music ketika jarum jam tepat di angka 00.00 Wita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pergantian hari, di panggung ukuran 14 kali empat meter di bagian depan hall muncul master of ceremony (MC).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selamat malam, selamat Valentine's day. Selamat menikmati malam Anda...," kata pria berkaus biru berbalut jas hitam yang bertindak sebagai MC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyanyi perempuan kemudian muncul dan mendendangkan lagu Mandarin. Tak lama, muncul dua perempuan muda yang hanya mengenakan bra dan celana dalam. Keduanya pun menari. Silih berganti, keduanya mendatangi dan bergoyang di depan hidung penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inikah striptis itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NYARIS tak ada yang istimewa dan hampir membosankan hingga jarum jam berpindah ke angka 02.00 Wita. Saat satu demi satu pengunjung hall berbalik badan; pulang ke rumah masing-masing atau ke tempat lain, sontak teman penulis,--sebut saja Sukri-- berkata, "Petualangan malam kita baru dimulai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdelapan memilih tidak keluar dari THM itu. Seorang rekan,-- sebut saja Judi, selanjutnya mengarahkan kami beranjak ke lantai dua, lalu masuk ke sebuah kamar yang di pintunya terpampang angka 208.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini Room 208. Banyak room seperti ini di sini, tapi jumlah pastinya saya kurang tahu," kata Judi yang mengaku memang sudah beberapa kali ke tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Room seluas tiga kali delapan meter itu berisi satu kulkas dengan aneka minuman, sebuah televisi ukuran 29 inchi yang tersambung langsung ke bagian operator karaoke. Juga ada dua pasang sofa yang dijadikan satu dan menghadap ke televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kami sudah tidak berdelapan lagi. Ada seorang perempuan yang menemani. Namanya, sebut saja Yusmin. Yusmin mengaku berusia 30 tahun dan berasal dari Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi tempat saya kerja di Samarinda. Saya dikontrak dua minggu di tempat ini," aku Yusmin yang bentuk tubuhnya terlihat melalui celana jeans ketat apalagi dipadu baju tanpa lengan berbalut rompi yang juga berbahan jeans. Dia juga cukup ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Yusmin hanya menari mengikuti irama hentakan musik disko klasik. Tapi di lagu kedua, Yusmin mulai berani. Tak ada celana jeans, rompi, dan baju. Yang tersisa hanya bra dan celana dalam yang keduanya berwarna hitam. Dia terus meliuk. Mendatangi kami satu persatu dan mendesah seolah mengajak melepas syahwat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lagu ketiga, Yusmin makin liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buka... bukaa... bukaaa...," kami mulai bersorak. Dahsyat, Yusmin pun melepas pengait bra yang memang berada di bagian depan. Sebelum melepas semuanya, dia menyebut dua aturan; tak boleh menyalakan lampu terlalu terang dan haram melakukan pengambilan gambar!Malam makin suntuk, kegilaan Yusmim juga makin menjadi. Tak puas dengan aksi itu, dia langsung melepas segitiga penutup auratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mama... itu perempuan benar-benar telanjang," kata salah seorang teman--sebut saja Syarwan, seakan tak percaya.Ya, di depan kami, Yusmin, penari striptis itu benar-benar telanjang. Tanpa sehelai kain pun. Dia tak ragu mendatangi satu per satu pria yang ada di ruangan itu. Memainkan tubuhnya ibarat sementara menikmati making love (ML).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makassar sudah gila. Ini benar-benar edan," bisik Sukri kepada saya. Berapa bayaran Yusmin untuk "menari"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup lumayan, yakni Rp500 ribu per 30 menit. Itu baru bayaran Yusmin. Sementara biaya pemakaian room per tiga jam dipatok Rp250 ribu. Itu belum termasuk harga minuman dan tip. Tak cukup sejuta rupiah untuk menikmati "keliaran" Makassar, kota yang sedang menggalakkan gemar membaca ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pernah ada yang mengajak tamu yang mengajak berhubungan badan?" tanya saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sering, tapi saya tolak. Saya tidak pernah melayani permintaan seperti itu kalau sedang kerja," ujar Yusmin, datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada yang pernah memaksa?" tambah saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak terhitung lagi. Kalau sudah begitu, saya langsung berhenti," jawab dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau terima BL (boking luar, red)?" kejar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu urusan bos. Telepon saja, mungkin sempat. Tapi saya tidak mau "main" di kantor," ujar Yusmin menjawab permintaan Sukri yang mengajaknya show di kantornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK terasa, jarum jam sudah di angka 02.30 Wita. Artinya, Yusmin sudah selesai menjalankan "tugasnya". Kami memang hanya "dijatah" setengah jam untuk menikmati goyangan perempuan itu. Setelah menitip nomor telepon selularnya ke Sukri, Yusmin pun pamit. Dia meninggalkan kami yang masih melongo, tak percaya ada aksi seperti ini di Makassar. (***)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-5869906429781725676?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/5869906429781725676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=5869906429781725676' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/5869906429781725676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/5869906429781725676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/menengok-aksi-stripsi-di-makassar.html' title='&quot;Mama... Perempuan Itu Benar-benar Telanjang...&quot;'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-9216407516606216783</id><published>2007-11-27T03:17:00.000-08:00</published><updated>2008-04-22T23:59:18.726-07:00</updated><title type='text'>Melirik RAPBDP Sulsel 2006</title><content type='html'>Obat Gubernur-Wagub&lt;br /&gt;Dihargai Rp245 Juta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUNGGUH enak jadi gubernur dan wakil gubernur Sulsel. Salah satu bukti, sekalipun tahun 2006 tersisa tiga bulan lagi, namun gubernur dan wakil gubernur Sulsel mendapat tambahan biaya pakaian dinas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlahnya memang masih jauh di bawah gaji pokok gubernur dan wagub yang berada di kisaran Rp60 juta. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (RAPBDP) Tahun 2006, pakaian dinas kedua pejabat itu naik menjadi Rp102.250.000.&lt;br /&gt;Sebelumnya perubahan, nominalnya adalah Rp84.250.000. Dengan kata lain, ada penambahan biaya pakaian dinas gubernur dan wagub sebesar Rp18 juta, atau sekitar 21,36 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam RAPBDP memang belum dirinci besar besar alokasi biaya baju dinas untuk gubernur, dan berapa untuk wagub. Tapi ilustrasi itu bisa digambarkan pada alokasi anggaran sebelum perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di APBD Tahun 2006, biaya pakaian sipil lengkap untuk gubernur mencapai Rp42.850.000. Sedang alokasi serupa untuk wagub sebesar Rp41.400.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ada penambahan, sesuai RAPBDP, maka diprediksi seorang gubernur dan wagub bisa membeli pakaian dinas seharga kurang-lebih Rp4 juta hingga Rp5 juta setiap bulan. Sekadar mengingatkan, uang untuk beli pakaian yang membalut di tubuh kedua pejabat itu bersumber dari keringat rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain biaya pakaian dinas, lonjakan drastis juga ditemui pada item biaya perawatan dan pengobatan gubernur dan wagub. Kenaikannya mencapai Rp40 juta sehingga total setelah perubahan Rp245 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada APBD Tahun 2006, Gubernur Sulsel mendapat biaya perawatan dan pengobatan local sebesar Rp110 juta. Jika angka ini dibagi 12 bulan, maka setiap bulan seorang gubernur ‘wajib’ belanja obat sebesar Rp9,17 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk item serupa, wakil gubernur juga mendapat bagian yang tak sedikit. Nominalnya adalah Rp95 juta. Atau ada kewajiban bagi wagub untuk belanja obat Rp7,912 juta. Jumlah ini tentu saja lebih membengkak setelah perubahan APBD. (buyung maksum)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-9216407516606216783?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/9216407516606216783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=9216407516606216783' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/9216407516606216783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/9216407516606216783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/melirik-rapbdp-sulsel-2006.html' title='Melirik RAPBDP Sulsel 2006'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-4301028155934716708</id><published>2007-11-27T03:05:00.000-08:00</published><updated>2007-11-27T03:07:17.164-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R0v6VXZhAJI/AAAAAAAAAAM/zS5u8gZ3z7U/s1600-h/di+jalan+yang+lurus+antara+singapura-malaysia.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5137475044911415442" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R0v6VXZhAJI/AAAAAAAAAAM/zS5u8gZ3z7U/s320/di+jalan+yang+lurus+antara+singapura-malaysia.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-4301028155934716708?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/4301028155934716708/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=4301028155934716708' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/4301028155934716708'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/4301028155934716708'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/blog-post.html' title=''/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_41cI74gJ_rY/R0v6VXZhAJI/AAAAAAAAAAM/zS5u8gZ3z7U/s72-c/di+jalan+yang+lurus+antara+singapura-malaysia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-1360326972018560974</id><published>2007-11-27T03:03:00.001-08:00</published><updated>2007-11-27T03:03:42.241-08:00</updated><title type='text'>- Catatan dari Parkway Hospital Singapura (3-Habis)</title><content type='html'>Sang Asisten Sekadar Pembantu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DARI pemeriksaan awal hingga akhir, seluruh penanganan medis dilakukan dokter sesuai keahliannya. Sang asisten sebatas membantu penyediaan alat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN: BUYUNG MAKSUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERBEDA dengan rumah sakit atau klinik yang ada di Indonesia, kelompok rumah sakit Parkway tak mengizinkan asisten dokter melakukan pengobatan langsung terhadap pasien. Sekalipun hanya memasukkan serum ke dalam tubuh. Pasien hanya ditangani dokter sesuai keahliannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widjaja Luman, dokter spesial saluran pencernaan di Mount Elizabeth mengakui hal ini. Bahkan ketika penulis berkesempatan melihat proses endoskopi di klinik Widjaja, sang asisten hanya mendapat tugas; membersihkan, menyediakan, dan mengatur alat penunjang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sumber daya manusia para asisten dokter di RS ini juga tak meragukan. Setidaknya, setara dengan dokter-dokter nonspesialis. Sebab sejatinya, status mereka memang sudah dokter. Tapi karena aturan Parkway yang mewajibkan pasien ditangani langsung dokter spesialis, membuat peran asisten sebatas menjadi tenaga pembatu dokter spesialis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, ini yang sangat kontras dengan peran asisten dokter di Indonesia. Malah, di sebagian rumah sakit atau klinik di Makassar, peranan asisten dokter jauh lebih besar. Para asisten malah ‘leluasa’ melakukan ‘praktikum’ langsung terhadap pasien. Bisa menyuntik, menulis resep obat, bahkan ada yang ikut melakukan pembedahan alias operasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembatasan kerja asisten dokter juga berlaku di intensive care unit (ICU). Sama di perawatan lainnya, di ruang gawat darurat pun hanya dokter-dokter spesialis yang diperkenankan melakukan pengobatan langsung terhadap pasien. Semisal, hanya dokter ahli bedah tulang yang mendapat izin untuk menangani pasien kecelakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kondisi ini, penulis teringat saat sebuah kecelakaan menimpa seorang teman enam tahun lalu. Korban kemudian dibawa ke rumah sakit terbesar dan terlengkap di Makassar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di ICU, para tim medis yang bertugas segera mempersiapkan pertolongan pertama. Ada yang menyuntik, ada juga yang membersihkan luka-luka di tubuh korban. Setelah pertolongan selesai, saya baru tahu kalau mereka adalah dokter co-ast. Para ‘dokter’ ini dibantu siswa Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) yang sedang menjalani masa magang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Parkway, ketentuan seperti ini mutlak berlaku, baik di Mount Elizabeth Hospital maupun di Gleneagles dan East Shore Hospital. Masing-masing rumah sakit ini memiliki dokter sendiri. Tapi untuk penanganan tertentu, Parkway Hospital akan memperbantukan tenaga medis dari salah satu rumah sakit ke rumah sakit lain yang satu grup dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tiga rumah sakit Parkway di Singapura, adalah Mount Elizabeth Hospital yang memiliki jumlah dokter terbanyak. Chairman Parkway Holdings Ltd, Richard Seow, melaporkan bahwa ada seribu dokter di Mount Elizabeth yang siap melayani perawatan umum. Sedang untuk tenaga ahli, rumah sakit ini punya 300 dokter ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknologi terkemuka dan teranyar untuk pengobatan kanker juga berada di rumah sakit ini. Mount Elizabeth adalah rumah sakit pertama dan satu-satunya di Asia Tenggara yang memiliki fasilitas TomoTherapy Hi Art System. Dengan alat ini, kanker tidak akut bisa dimusnahkan hanya dalam tempo 20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengan Tomotherapy, pengobatan kanker dilakukan langsung di sarangnya, tanpa merusak bagian tubuh yang lain. Dibanding kemoterapi, Tomotherapy jauh lebih sempurna,” papar onkologis, pakar spesialis kanker, Dr Ang Peng Tiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, Mount Elizabeth juga memiliki PET Scan, alat yang mampu memperlihatkan letak, struktur, dan anatomi suatu organ atau jaringan kanker serta mengenali metabolismenya. Dengan alat ini, para dokter bisa mendeteksi letak dan karakter kanker, sehingga bisa dihancurkan dengan akurat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Tomotherapy dan PET Scan, masih banyak layanan kesehatan lainnya yang tersedia di Mount Elizabeth. Mulai dari anastesi, kardiologi, dental surgery, dermatalogi, diabetes, diagnosa radiology, endokrinologi, gastroenterologi, hingga transplant. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-1360326972018560974?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/1360326972018560974/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=1360326972018560974' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/1360326972018560974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/1360326972018560974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/catatan-dari-parkway-hospital-singapura_8667.html' title='- Catatan dari Parkway Hospital Singapura (3-Habis)'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-3844794416137601326</id><published>2007-11-27T03:02:00.001-08:00</published><updated>2007-11-27T03:02:42.785-08:00</updated><title type='text'>Catatan dari Parkway Hospital Singapura (2)</title><content type='html'>Dari Sultan Brunei ke Bupati Pangkep&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEMEWAHAN sebuah kamar istirahat bukan lagi semata milik hotel-hotel berbintang. Rumah-rumah sakit di Singapura malah memfasilitasi kamar mereka dengan ruang meeting dan lounge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN: BUYUNG MAKSUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI Mount  Elizabeth Hospital, ada dua kamar rawat yang sangat istimewa. Serba luks, ibarat mengaso di kamar hotel berbintang lima. Kamar super ini dilengkapi sebuah ruang meeting, lengkap fasilitas telepon dan faksimili, dan satu kamar keluarga pasien. Bahkan ada lounge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih istimewa lagi karena kamar ini dirancang dan dipesan khusus Sultan Brunei Darussalam, Sultan H Bolkiah. Mulanya, kamar ini dikhususkan untuk merawat salah seorang terkaya di dunia itu. Tapi saat ini, Bolkiah mengizinkan kamarnya untuk digunakan masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Mount Elizabeth, kamar rawat Bolkiah ini dikenal dengan nama Royal Suite. Berada di lantai tujuh. Dari balik jendela, pasien bisa menyaksikan kemewahan, ketertiban, kehijauan, dan keramahan Singapura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dulu, hanya Sultan Bolkiah yang menggunakan kamar ini. Tapi sekarang, Sultan mengizinkan untuk digunakan masyarakat umum,” kata Senior Marketing Manager Corporate Marketing Parkway Group Healthcare Pte Ltd, Ahmad Mahmud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya kamar mewah, harganya tentu juga wah. Semalam, tarif kamar berukuran 42 meter persegi ini mencapai 7.000 Dolar Singapura (SD1 setara dengan Rp5.900). Angka ini baru tarif kamar pasien. Harga yang sama juga berlaku untuk kamar keluarga dan ruang meeting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua lantai di bawah suite Sultan Bolkiah, terdapat kamar rawat Bupati Pangkep Syafrudin Nur. Sama dengan Bolkiah, Syafrudin yang telah kembali ke Pangkep 10 September lalu juga hanya seorang diri di kamarnya. Hanya saja, tak ada kamar keluarga dan ruang meeting di kamar 5518 milik Syafrudin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena fasilitas yang jauh berbeda, maka tarifnya juga dipastikan tak sama. Representative Manager Makassar Parkway, Sahel Abdullah, memprediksi tarif kamar yang ditempati Syafrudin tak kurang dari SD150.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, Parkway Group Hospital memiliki 1008 tempat tidur perawatan untuk pasien. Jumlah ini tersebar di tiga rumah sakit yang bernaung di bawah bendera Parkway di Singapura. Rinciannya, 123 kamar di East Shore Hospital, 380 di Gleneagles Hospital, ditambah 505 di Mount Elizabeth Hospital. (bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-3844794416137601326?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/3844794416137601326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=3844794416137601326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3844794416137601326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/3844794416137601326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/catatan-dari-parkway-hospital-singapura_27.html' title='Catatan dari Parkway Hospital Singapura (2)'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6020532129240967518.post-365727215160207089</id><published>2007-11-27T02:58:00.000-08:00</published><updated>2007-11-27T03:01:26.397-08:00</updated><title type='text'>- Catatan dari Parkway Hospital Singapura (1)</title><content type='html'>Jalani Endoskopi Sambil Bercakap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENDOSKOPI bukan lagi hal menakutkan. Sekalipun selang ‘mengobrak-abrik’ di bagian dalam tubuh, pasien tetap terjaga, bercanda, bahkan sama sekali tak merasa kesakitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAPORAN: BUYUNG MAKSUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAK terlihat kecemasan atau rasa sakit di wajah Suh Thong Hwan saat terbaring di salah satu bilik periksa di lantai sembilan Mount Elizabeth Hospital Singapura. Padahal, saat itu, sebuah selang berdiameter 1,5 cm sedang ‘bergerilya’ di usus 12 jari miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, Suh malah bercakap dengan Dr Widjaja Luman, seorang consultant gastroenterologist and general physician, tepatnya ahli penyakit pencernaan atau hepar dan penyakit dalam di Mount Elizabeth Hospital. Intinya, pria yang sudah berumur 51 tahun itu tetap dalam posisi sadar penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia medis, endoskopi adalah pemeriksaan dengan menggunakan endoskop. Sedang endoskop adalah sebuah teropong untuk memeriksa rongga di dalam pembuluh, saluran dan liang yang sempit di beberapa bagian tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, perangkat untuk endoskopi milik Widjaja Luman adalah satu-satunya sekaligus paling modern di Asia Tenggara. Di klinik atau rumah sakit lain, endoskopnya masih berupa selang diameter 2,5 cm dan dimasukkan melalui mulut atau anus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang endoskop milik Widjaja Luman dimasukkan ke tubuh melalui lubang hidung. Dengan cara ini, pasien lebih leluasa untuk berbicara. Pasien juga tak perlu menjalani pembiusan dan saa sekali tak tersentuh jarum suntik. Selama endoskopi berlangsung, pasien tetap sadar. Dia cuma merasa agak kembung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya, ini teknologi yang masih sederhana, belum hightech,” ungkap Widjaja Luman, saat ditemui Fajar di kliniknya, di Mount Elizabeth Hospital, Senin lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Suh menjalani endoskopi, seluruh isi perutnya terlihat jelas. Di layar monitor terpampang bagaimana lekak-lekuk usus, ginjal, dan saluran pembuangan milik Suh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjalani pemeriksaan endoksopi check up lemak seperti ini, Suh harus merogoh kantung sebesar 220 dolar Singapura (saat ini SD1 setara dengan Rp5.900, red).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Widjaya melaporkan, selama ini pasien terbesarnya berasal dari Indonesia termasuk Sulsel. Taksirannya mencapainya 60 persen, ditambah 30 persen warga Singapura, selebihnya adalah para ekspatriat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, Widjaja tak bias membeberkan nama pasien asal Indonesia yang sudah berobat atau menjalani check up di kliniknya. Maklum, di bernaung di bawah bendera Mount Elizabeth Hospital, rumah sakit yang dikenal sangat ketat menjaga privacy pasiennya. (bersambung)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6020532129240967518-365727215160207089?l=buyungmaksum.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/feeds/365727215160207089/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6020532129240967518&amp;postID=365727215160207089' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/365727215160207089'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6020532129240967518/posts/default/365727215160207089'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://buyungmaksum.blogspot.com/2007/11/catatan-dari-parkway-hospital-singapura.html' title='- Catatan dari Parkway Hospital Singapura (1)'/><author><name>buyungmaksum</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15456119659928906492</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
